Aku Mengemas Senyum Membawa Cinta yang Ranum

Aku Mengemas Senyum Membawa Cinta yang Ranum

Jamal D. Rahman
Orang menulis puisi tentulah berasal dari hal-hal yang sangat dekat dengan dirinya. Dekat dalam arti fisik, perasaan, pikiran dan lain sebagainya. Orang memang hanya bisa menulis dengan baik hal-hal yang dia rasakan dekat dengan perasaan dan pikirannya. Tapi dalam menulis puisi, persoalan berikutnya adalah mengolah bahasa dan imajinasi tetang yang kita tulis itu. Sejauhmana seseorang mampu mengolah bahasa dan imajinasi dalam meulis sesuatu yang betapapun amat dekat dengan dirinya, pada akhirnya amat tergantung pada keterampilannya berbahasa dan mengeksplorasi imajinasi.
Puisi-puisi siswa SMUN 1 Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, dalam kaki langit edisi ini, tentulah bertolak dari hal-hal yang sangat dekat dengan para penulisnya. Ini terutama terlihat dari tema-tema yang mereka pilih. Hendrawan, misalnya, menulis tentang ibu, seseorang yang pastilah bersemayam di hatinya. Dalam konteks ini, ia berimajinasi tentang ibu, dan dia sampai pada ungkapan berikut ini: engkau laksana malaikat yang menjelma. Sangat menarik bahwa Hendrawan mengumpamakan ibu dengan malaikat. Di sini segera terasa keagungan, kemulyaan, dan kebesaran sang ibu. Ia adalah jelmaan malaikat, sesuatu atau seseorang yang amat mulia dan agung. Dengan itu, Hendrawan sebenarnya sudah cukup baik berimajinasi tentang ibu.
Sayangnya, imajinasi Hendrawan tentang ibu berhenti sampai malaikat. Dia tidak menggalinya lebih jauh. Larik-lariknya bukan lagi tentang malaikat, melainkan tentang manusia biasa. Kalausaja Hendrawan terus mengeksplorasi malaikat sebagai metafor sang ibu, dia pasti akan sampai pada kemungkinan-kemungkinan baru dalam menggambarkan sosok ibu. Mungkin dia akan menulis begini: mama, engkau malaikat yang menjelma/ meneteskan wahyu di relung sukma/ menyemai Tuhan di relung dada. Hendrawan boleh mencoba mengeksplorasi malaikat sebagai metafor ibu.
Sementara itu, Jiyono memberi judul puisinya “Pengecut”, dan menulis tentang surya dari sudut-pandang negatif. Dengan cara itu puisi Jiyono setidaknya mengandung dua kemungkinan. Pertama, Jiyono bermaksud menjadikan surya sebagai metafor sang pengecut (siapa pun dia). Kedua, memang dia bermaksud mengatakan bahwa surya itu sendiri adalah pengecut. Adanya banyak kemungkinan seperti ini dalam puisi merupakan hal menarik. Sayangnya, puisi tersebut tidak didukung oleh diksi atau bahasa yang padat. Sebagaian lariknya bahkan mengganggu, khususnya larik bagaimana malam nanti.
Puisi Farida meyajikan lompatan imajinasi, dari melati ke wanita malang. Hanya saja ketika berbicara tentang wanita malang, puisi Farida jadi miskin imajinasi. Puisinya segera berubah jadi ungkapan yang sangat normatif. Padahal, ketika sebelumnya dia berbicara tentang melati, imajinasinya lumayan hidup. Perhatikan terutama larik berikut: Melati tetaplah putih suci/Walaupun tumbuh di atas lumpur hitam tak bertepi. Imaji lumpur hitam tak bertepi sangat menarik. Ia menggambarkan betapa luas (tak bertepi) lumpur hitam tempat melati tumbuh. Imaji yang cukup bagus ini semestinya dijaga, bahkan dikembangakan, dalam larik-larik berikutnya.
Sebagaimana Farida, Helga memulai pusinya dengan imaji menarik: Aku memungut air mata/ Dalam keraguan tanpa makna/ Aku mengemas senyum/ Dan membawa cinta yang ranum. Larik-larik ini menarik bukan saja imajinya, melainkan persamaan bunyinya. Puisi itu berirama, seakan alunan musik yang merdu. Lalau bayangkanlah aku-lirik memungut airmata; bayangkan pula aku-larik mengemas senyum; bayangkan juga cinta yang ranum. Semua itu merupakan imajinasi yang segar, menggambarkan keraguan apakah cinta aku-lirik akan sampai atau tidak. Di akhir puisi, kita tahu bahwa-lirik benar-benar ragu bahwa cintanya akan sampai.
Tapi masih ada juga larik puisi Helga yang mengganggu. Misalnya larik aku mencari namun tak kutemukan. Larik ini terasa dipaksakan, baik imaji maupun persamanan bunyi (akhir)-nya. Sebenarnya Helga bisa mengungkapkan hal itu dengan manis, misalnya dengan tetap menggunakan imaji awal puisinya, kira-kira begini: tapi kini, tak bisa kupungut lagi  air mata/ tak bisa lagi ku kemas senyum/ tak bisa ku bawa lagi cinta yang ranum.
Teruslah berkarya, mencoba berbagai kemungkinan bahasa dan imajinasi.

Sekilas tentang penulis:
Jamal D. Rahman lahir di Sumenep, Madura pada 14 Desember 1967. Ia adalah sastrawan dan merupakan salah satu penyunting buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang menuai berbagai kritik dari sejumlah kritikus dan sastrawan. Sejak 1993 Jamal menjadi redaktur majalah Horison, dan kini dia memimpin majalah tersebut.
Jamal merupakan alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Setelah itu beliau menimba ilmu di IAIN yang kini berubah nama menjadi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kemudian, menyelesaikan pendidikan S2 pada Fakultas Ilmu Budaya di  Universitas Indonesia (FIB-UI).
Menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian, dan kebudayaan di berbagai media massa adalah kegiatan yang dilakukannya. Ia kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam dan luar negeri antara lain Festival Seni Ipoh III, Negeri Perak, Malaysia (1998), Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritkan Sastra Melayu Serantau, Kualalumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers Meet) di Kualalumpur (2001), Festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004). Puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Dimuat dalam berbagai antologi.

Puisi-puisi siswa dan siswi SMUN 1 Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
Pengecut
Sang surya gagah berani
Dengan sombong sekali
Menyinari bumi ini
Panasi siang hari
Bagaimana malam nanti
Sanggupkah ia tampakkan diri
Ia hanya sembunyi
Di balik rembulan, sang permaisuri
Jiyono
Melati
Butir-butir embun pagi
Membasahi tiap helai kuntum melati
Hatinya menarik hati
Untuk mendekat, menyentuh dan menciumi
Melati tetap putih suci
Walaupun tumbuh di atas lumpur hitam tak bertepi
Wanita bagai melati....
Harga diri harus dijaga sampai mati
Lalu aku teringat pada wanita malang
Yang kehilangan kehormatan
Hilang kehormatan hancur segalanya
Melati layu, jatuh ke tanah
Terkena rayu sang kumbang jantan
Penyesalan hadir setelah semua terjadi
Sang waktu tak mungkin dapat kembali
Tangis pilu tak ada arti
Mati bunuh diri dikutuk Ilahi
Lalu kemana harus pergi...?
Di dunia mendapat caci maki,
Di akhirat mendapat siksa pedih Ilahi.
Parida P. Astuti
Hilang
Aku memungut air mata
Dalam keraguan tanpa makna
Aku mengemas senyum
Dan membawa cinta yang ranum
Rindu demi rindu luntur seketika
Aku mengajarnya namun percuma saja
Dia lenyap dalam pekat kegelapan
Aku mencari namun tak kutemukan
Aku bimbang dengan semua ini
Haruskah aku mencari
Cinta yang telah mati
Dan mimpiku yang kian pergi
Helga Sandra Alfiandari
Sumber Tulisan : Majalah Sastra HORISON edisi Kaki Langit 87/Maret 2004 halaman 20.
Sumber Foto : https://id.wikipedia.org/wiki/Jamal_D._Rahman

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta