Oleh : Yan Firmansyah, M.Pd
Nilai apa saja yang Anda
pegang dalam menjalani hidup? Sebuah pertanyaan yang boleh jadi tidak semua
orang bisa menjawabnya, atau boleh jadi juga tidak semua orang sempat terpikir
untuk melontarkan pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Sebentar kita tanya diri
kita dengan pertanyaan tersebut, sudahkah kita sendiri punya jawabannya?
Ketika seseorang, katakanlah
orang dewasa, tidak memiliki jawaban atas pertanyaan di atas, bagaimana ia akan
mengajari anak-anaknya di rumah atau jika ia juga seorang guru, bagaimana ia
akan ajari murid-muridnya di sekolah tentang arti sebuah nilai? Menilik
definisi dari nilai dalam tulisan ini, kita batasi sebagai sesuatu yang
dipegang teguh oleh hati nurani dan menjadi dasar bagi seseorang untuk
melakukan suatu tindakan. Nilai di sini bukanlah nilai dalam definisi ukuran
angka, semisal angka yang diperoleh siswa sebagai hasil tes, ujian sekolah,
atau lain sebagainya.
Setiap nilai yang dipegang
teguh oleh seseorang, berangkat dari konsep yang ditanamkan oleh keluarganya
baik itu adalah sebuah proses yang disadari ataupun tidak. Seorang dokter,
pemusik, penulis, ataupun guru sekalipun, akan menerima pengaruh dari
keluarganya mengenai konsep sebuah nilai yang tertanam dalam dirinya. Dirasakan
atau tidak, disadari atau tidak, besar atau kecil, sumbangsih pembentukan
konsepsi itu tetap ada.
Konsep tentang nilai
terbentuk secara perlahan seiring dengan perkembangan yang dialami setiap anak.
Dalam perkembangannya, setiap anak menerima pengaruh yang diberikan oleh
keluarganya. Lantas yang menjadi pertanyaannya adalah pengaruh seperti apa yang
sepantasnya diberikan orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya?
Ellizabeth B. Hurlock, seorang tokoh psikologi perkembangan Amerika, dalam
bukunya yang berjudul Child Development/
8th edition,
mengemukanan bahwa seharusnya sumbangan penting keluarga terhadap
perkembangan anak adalah mencakup 1).perasaan aman; 2).orang-orang yang dapat
diandalkan memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis; 3).sumber kasih sayang dan
penerimaan; 4).model pola perilaku; 5).bimbingan dalam pengembangan pola
perilaku; 5).orang-orang yang dapat diharapkan membantu memecahkan masalah yang
dihadapi anak; 6).bimbingan dan bantuan dalam mempelajari kecakapan motorik,
verbal, dan sosial; 7).perangsang kemampuan mencapai keberhasilan di sekolah
dan kehidupan sosial; 8).bantuan mengarahkan minat dan kemampuan; dan 9).sumber
persahabatan sampai mereka cukup besar untuk mendapat teman di luar rumah atau
apabila anak tidak memiliki teman di luar rumah.
Idealnya sumbangsih sebuah
keluarga yang Hurlock
paparkan dapatlah menjadi satu dari sekian banyak referensi mengenai seperti
apa sebenarnya peran sebuah keluarga bagi perkembangan dan pendidikan
anak-anaknya. Manakala peran sebuah keluarga tidak berjalan sebagaimana
mestinya, semisal dengan hilangnya beberapa sumbangsih yang dipaparkan Hurlock di atas,
tentu akan memunculkan permasalahan dalam keluarga, terutama menyangkut
perkembangan anak yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan konsep anak
terhadap nilai yang kelak akan dipegang sebagai dasar setiap tindakannya.
Seperti halnya yang
diungkapkan dosen Pendidikan Karakter Universitas Pendidikan Indonesia, Dr. Kama Abdul Hakam,
M.Pd. (2010), bahwa persoalan merosotnya intensitas interaksi dalam
keluarga, serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan
anak, mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan nilai-moral
anak. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk memperjelas nilai yang
harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan nilai bagi anak.
Secara sederhana,
kebingungan nilai yang mungkin dialami anak dengan sebab menurunnya fungsi dan
peran keluarga dapat dicontohkan dalam hal perilaku anak sehari-hari. Seorang
anak dalam keluarga yang tidak ada atau kurangnya simpati dan empati di antara
anggota keluarganya besar kemungkinan mengalami kebingungan akan nilai empati
dan simpati tersebut. Katakanlah di sekolah si anak menerima pelajaran bahwa sikap
empati dan simpati itu penting dan diperlukan dalam hubungan sosial, terkait
dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Terkait juga dengan kewajiban
manusia yang selain harus menjaga hubungan dengan Tuhannya, ia juga harus
menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Namun pada kenyataannya, praktik dari
teori yang ia terima di sekolah tidak sejalan dengan perlakuan yang ia terima
di rumah.
Fakta terbalik antara
praktek dan teori akan menimbulkan kebingungan anak untuk melakukan apa yang ia
pelajari dan terima dalam logikanya, atau mencontoh apa yang benar-benar ia
rasakan dan terjadi di hadapannya. Maka timbul dua pilihan dari kodisi semacam
itu; mengikuti rasa ingin mencontoh sesuatu yang sekalipun sesuatau itu adalah
hal salah, atau mengikuti logika untuk melakukan hal yang jauh lebih baik dan
meninggalkan hal yang buruk.
Dari satu contoh di atas,
terlihat bahwa peran keluarga teramat besar dalam pembentukan karakter anak
mulai dari menetapkan nilai apa yang akan anak pegang sebagai dasar setiap tindakannya.
Tindakan berulang akan menjadikan tindakan yang diulang tersebut menjadi sebuah
kebiasaan, dan kebiasaan akan membentuk sebuah karakter. Begitu pula setiap
tindakan yang dilakukan anak sejak kecil akan membentuk suatu kebiasaan yang
pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah karakter yang akan terbawa sampai ia
dewasa.
Jika kita balik, karakter
berasal dari kebiasaan, kebiasaan berasal dari tindakan, dan tindakan berawal
dari nilai yang dipegang kuat logika dan hati nurani. Jika menentukan nilai mana
yang akan dipegang saja anak merasa kebingungan, lalu karakter apa yang akan ia
bangun?

No comments:
Post a Comment