Dengan
kata lain, pada situasi tertentu hasrat manusia akan timbul kebutuhan
yang tumpang
tindih, misalnya orang ingin makan bukan karena ia lapar akan tetapi
karena ia memiliki kebutuhan lain yang mendorongnya. oleh sebab itu,
jika suatu kebutuhan telah terpenuhi dan
perpuaskan, hal tersebut tidak berarti bahwa kebutuhan itu tidak akan
muncul kembali
untuk selamanya, akan tetapi kepuasan itu berlaku hanya untuk sementara
waktu saja.
Menurut Maslow (1954), Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak
terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan
tersebut. Aplikasinya pada dunia belajar disekolah, siswa atau
peserta didik yang lapar dan haus dalam belajar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Namun biasanya setelah
kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi dalam dirinya, maka biasanya akan meningkat pada kebutuhan tingkat
berikutnya adalah rasa aman.
Misalnya ketika seorang siswa yang merasa terancam
atau dengan kata lain dikucilkan oleh lingkungannya baik oleh teman-temannya mapun gurunya, maka siswa tersebut tidak akan
termotivasi dengan baik dalam belajar. Contoh tersebut menggambarkan ada suatu kebutuhan yang biasa disebut harga diri,
yaitu kebutuhan ingin merasa dipentingkan dan dihargai dilingkungannya.
Seseorang
dalam hal ini siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga
dirinya, maka dia akan termotivasi memiliki rasa percaya diri, merasa
berharga, marasa kuat, merasa mampu dan bisa,
dan merasa berguna dalam hidupnya karena diterima dan dihargai oleh
lingkungannya. Kebutuhan yang paling utama dalam diri seseorang adalah
apabila seluruh kebutuhan seseorang sudah terpenuhi maka dia akan merasa
bebas dan percaya diri dalam
menampilkan seluruh potensinya secara penuh tanpa ada sedikitpun rasa
ragu.
Guru
sebagai pendidik dan pembimbing di sekolah harus betul-betul memahami
apa yang
diinginkan oleh siswanya. Misalnya kebutuhan untuk berprestasi. Banyak
siswa atau peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi
yang rendah. Mereka sering takut gagal dalam mengerjakan sesuatu dan
tidak mau menanggung dan menghadapi resiko dalam
mencapai prestasi belajar yang mereka harapkan. Akan tetapi sebenarnya
banyak pula siswa yang memiliki
motivasi yang tinggi dalam berprestasi.
Siswa cenderung memiliki motivasi berprestasi tinggi manakala keinginannya untuk meraih harapannya berasal dari dalam dirinya sendiri. Mereka akan bekerja keras dengan segenap kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam dirinya meskipun mesti bersaing dengan siswa lain.
Siswa cenderung memiliki motivasi berprestasi tinggi manakala keinginannya untuk meraih harapannya berasal dari dalam dirinya sendiri. Mereka akan bekerja keras dengan segenap kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam dirinya meskipun mesti bersaing dengan siswa lain.
Berdasarkan acuan di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa siswa datang ke sekolah sudah memahami bagaimana dirinya, yang sudah
terbentuk dengan sendrinya. Akan tetapi, guru tetap dapat mempengaruhi dan membimbingnya dengan tujuan supaya tercapai
gambaran tentang masing-masing siswa yang lebih positif dan lebih baik lagi.
Yang diharapkan dalam situasi di kelas dalam belajar yaitu guru tidak boleh terlalu banyak mengkritik, mencela,
bahkan merendahkan kemampuan siswa, karena dengan itu siswa akan cenderung menilai diri
rendah dan merasa tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini
akan berakibat pada perkembangan siswa baik secara psikologis maupun kognitifnya.
Sebaliknya jika guru memberikan penghargaan yang bersifat membangaun motivasi belajar siswa dapat meningkat, bersikap
mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan
siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi.
Penghargaan tersebut untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk
belajar.
Dorongan
tersebut dapat berupa dorongan intelektual mapun dorongan emosional.
Dorongan intelektual adalah dorongan untuk memotivasi keinginan untuk
mencapai
suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan
atau keberhasilan
termasuk ke dalam kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi
secara penuh.

No comments:
Post a Comment