Friday, June 15, 2018

SEKOLAH DASAR SEBAGAI AWAL PEMBENTUKAN KARAKTER PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT (Life Long Learner)

SEKOLAH DASAR SEBAGAI AWAL PEMBENTUKAN KARAKTER PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT (Life Long  Learner)

Oleh : Yan Firmansyah, M.Pd 


Belajar sebagai aktifitas utama dalam pendidikan kerap diidentikkan dengan segala bentuk aktifitas yang berhubungan dengan materi atau bahan ajar. Kadang belajar hanya diartikan sebagai kegiatan membaca buku, menulis kalimat, menghafal materi, atau mengerjakan soal dengan menggunakan rumus-rumus matematika. Padahal itu semua hanyalah bagian kecil dari belajar. 

Semakin kukuhnya kedudukan sistem pendidikan persekolahan di tengah-tengah masyarakat, memperkuat anggapan bahwa belajar hanya sebatas aktifitas yang dilakukan di sekolah. Sistem persekolahan yang polanya membentuk masyarakat tersendiri dan memisahkan diri dari lingkungan masyarakat luas dengan benteng dan pagar sekolah, membatasi waktu belajarnya sampai usia tertentu dan jangka waktu tertentu. 

Seolah-olah sekolah membentuk masyarakat khusus yang mempersiapkan diri dengan membekali ilmu pengetahuan dan keterampilan menurut porsi yang telah ditetapkan dan cocok dengan tuntutan zaman. Kenyataannya menunjukan bahwa masyarakat selalu berubah dengan membawa tuntutan-tuntutan baru. 

Sekolah dasar sebagai lingkungan kedua bagi siswa setelah keluarga, memberi andil dalam pembentukan pengertian pada siswa sebagai awal dari pembentukan karakter siswa tersebut. Apabila guru tidak berupaya untuk membantu siswa dalam mengatasi kesulitan yang dialami siswa dalam belajar, akan sulit bagi siswa untuk memiliki rasa senang akan belajar. Jika siswa sudah tidak memiliki perasaan senang terhadap proses belajar yang dijalaninya, maka akan sulit pula terbentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.

Satu masalah yang juga memberi andil terhadap pembentukan karakter pembelajar sepanjang hayat pada diri siswa adalah kerap hilangnya kesadaran guru untuk menjadikan pribadinya sendiri sebagai seorang pembelajar sepanjang hayat.

Seorang guru yang memiliki karakter seorang pembelajar sepanjang hayat, akan terus mencari ilmu tanpa menempatkan dirinya sebagai seorang yang paling benar, karena hakikatnya belajar akan usai manakala hayat juga usai. Itulah karakter pembelajar sepanjang hayat (life long learner) sebagai refleksi dari konsep pendidikan sepanjang hayat (life long education).

Pembelajar sepanjang hayat atau life long learner merupakan orang yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjalani proses belajar sepanjang hayatnya. Dalam definisi yang umum, pembelajar sepanjang hayat dipakai dalam dunia pendidikan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan sebagai hasil dari pengalaman dalam interaksi dengan lingkungan. Proses belajar inilah yang kemudian menjadi esensi dari proses pendidikan, menjadi bagian penting dalam suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

Berangkat dari sebuah konsepsi pendidikan sepanjang hayat atau life long education yang dicetuskan oleh Johan Amos Comenius di abad 16/ 1592-1671 dan John Dewey sekitar 40 tahun yang lalu, pendidikan tidak diartikan sebagai program yang diselenggarakan lembaga formal semata, tidak ada pengertian bahwa belajar sebagai esensi dari pendidikan tersebut terbatas pada usia, persekolahan, atau pada cara belajar itu sendiri. Namun, perlu adanya suatu usaha yang dilakukan dalam upaya pembentukan pengertian mengenai apa itu belajar dan bagaimana pentingnya proses belajar tersebut dijalani sepanjang hayat.

Mengingat paradigmanya, pemikiran seseorang akan tercermin melalui perkataan, kemudian di ikuti oleh perilaku atau tindakannya, setelah itu ketika perilaku atau tindakan tersebut dilakukan terus berulang maka akan menjadi sebuah kebiasaan dan pada akhirnya membentuk sebuah karakter. Di sinilah pentingnya sebuah paradigma atau pemikiran dalam pembentukan karakter yang dipengaruhi oleh bagaimana proses belajar yang dijalani sebagai input yang mempengaruhi terbentuknya paradima.


DAFTAR PUSTAKA

Cropley. (2001). Pendidikan sepanjang Hayat, Penyunting M. Sarjan Kadir. Surabaya: usaha Nasional.

Tirtarahardja, U. (2005) Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hasan,M.T.(2007). Islam dalam Perspektif Sosial Budaya. Jakarta: Galasa Nusantara

UNESCO, Dalam Jawed, Muhammad, (Ed.). (1996). Year Book of the Muslim World: A Handy Encyclopaedia, New Delhi: Medialine.

Prayitno, E.(1989). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK

Sardiman, A,M. (1990). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali

N.K. Singh dan Mr. A.R. Agwan.(2000) Encyclopaedia of the Holy Qur’ân. New Delhi: balaji Offset

Byrne, R. (2007) The Secret. Jakarta: PT Gramedia
Setiawati & Chudari, I.N. (2005) Bimbingan dan Koseling. Bandung: UPI Press

DePorter, B., Reardon M., & Nourie S.S. (2005). Quantum Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Kaifa: Bandung.

Santrock,J.W. (2010). Psikologi Pendidikan. Prenada Media Grup: Jakarta.


 


No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta