SEKOLAH DASAR SEBAGAI AWAL PEMBENTUKAN KARAKTER
PEMBELAJAR SEPANJANG HAYAT (Life Long Learner)
Oleh : Yan Firmansyah, M.Pd

Belajar
sebagai aktifitas utama dalam pendidikan kerap diidentikkan dengan segala
bentuk aktifitas yang berhubungan dengan materi atau bahan ajar. Kadang belajar
hanya diartikan sebagai kegiatan membaca buku, menulis kalimat, menghafal
materi, atau mengerjakan soal dengan menggunakan rumus-rumus matematika.
Padahal itu semua hanyalah bagian kecil dari belajar.
Semakin
kukuhnya kedudukan sistem pendidikan persekolahan di tengah-tengah masyarakat,
memperkuat anggapan bahwa belajar hanya sebatas aktifitas yang dilakukan di
sekolah. Sistem persekolahan yang polanya membentuk masyarakat tersendiri dan
memisahkan diri dari lingkungan masyarakat luas dengan benteng dan pagar
sekolah, membatasi waktu belajarnya sampai usia tertentu dan jangka waktu
tertentu.
Seolah-olah
sekolah membentuk masyarakat khusus yang mempersiapkan diri dengan membekali
ilmu pengetahuan dan keterampilan menurut porsi yang telah ditetapkan dan cocok
dengan tuntutan zaman. Kenyataannya menunjukan bahwa masyarakat selalu berubah
dengan membawa tuntutan-tuntutan baru.
Sekolah
dasar sebagai lingkungan kedua bagi siswa setelah keluarga, memberi andil dalam
pembentukan pengertian pada siswa sebagai awal dari pembentukan karakter siswa
tersebut. Apabila guru tidak berupaya untuk membantu siswa dalam mengatasi
kesulitan yang dialami siswa dalam belajar, akan sulit bagi siswa untuk
memiliki rasa senang akan belajar. Jika siswa sudah tidak memiliki perasaan
senang terhadap proses belajar yang dijalaninya, maka akan sulit pula terbentuk
karakter pembelajar sepanjang hayat.
Satu
masalah yang juga memberi andil terhadap pembentukan karakter pembelajar sepanjang
hayat pada diri siswa adalah kerap hilangnya kesadaran guru untuk menjadikan
pribadinya sendiri sebagai seorang pembelajar sepanjang hayat.
Seorang
guru yang memiliki karakter seorang pembelajar sepanjang hayat, akan terus
mencari ilmu tanpa menempatkan dirinya sebagai seorang yang paling benar,
karena hakikatnya belajar akan usai manakala hayat juga usai. Itulah karakter
pembelajar sepanjang hayat (life long learner) sebagai refleksi dari
konsep pendidikan sepanjang hayat (life long education).
Pembelajar
sepanjang hayat atau life long learner merupakan orang yang
memiliki kesadaran akan pentingnya menjalani proses belajar sepanjang hayatnya.
Dalam definisi yang umum, pembelajar sepanjang hayat dipakai dalam dunia
pendidikan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan untuk
menghasilkan perubahan sebagai hasil dari pengalaman dalam interaksi dengan
lingkungan. Proses belajar inilah yang kemudian menjadi esensi dari proses
pendidikan, menjadi bagian penting dalam suatu usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.
Berangkat
dari sebuah konsepsi pendidikan sepanjang hayat atau life long
education yang dicetuskan oleh Johan Amos Comenius di abad 16/
1592-1671 dan John Dewey sekitar 40 tahun yang lalu, pendidikan tidak diartikan
sebagai program yang diselenggarakan lembaga formal semata, tidak ada
pengertian bahwa belajar sebagai esensi dari pendidikan tersebut terbatas pada
usia, persekolahan, atau pada cara belajar itu sendiri. Namun, perlu adanya suatu
usaha yang dilakukan dalam upaya pembentukan pengertian mengenai apa itu
belajar dan bagaimana pentingnya proses belajar tersebut dijalani sepanjang
hayat.
Mengingat
paradigmanya, pemikiran seseorang akan tercermin melalui perkataan, kemudian di
ikuti oleh perilaku atau tindakannya, setelah itu ketika perilaku atau tindakan
tersebut dilakukan terus berulang maka akan menjadi sebuah kebiasaan dan pada
akhirnya membentuk sebuah karakter. Di sinilah pentingnya sebuah paradigma atau
pemikiran dalam pembentukan karakter yang dipengaruhi oleh bagaimana proses
belajar yang dijalani sebagai input yang mempengaruhi terbentuknya paradima.
DAFTAR PUSTAKA
Cropley. (2001). Pendidikan sepanjang Hayat,
Penyunting M. Sarjan Kadir. Surabaya: usaha Nasional.
Tirtarahardja, U. (2005) Pengantar Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hasan,M.T.(2007). Islam dalam Perspektif Sosial
Budaya. Jakarta: Galasa Nusantara
UNESCO, Dalam Jawed, Muhammad, (Ed.). (1996). Year
Book of the Muslim World: A Handy Encyclopaedia, New Delhi: Medialine.
Prayitno, E.(1989). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta:
P2LPTK
Sardiman, A,M. (1990). Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali
N.K. Singh dan Mr. A.R. Agwan.(2000) Encyclopaedia
of the Holy Qur’ân. New Delhi: balaji Offset
Byrne, R. (2007) The Secret. Jakarta: PT
Gramedia
Setiawati & Chudari, I.N. (2005) Bimbingan dan
Koseling. Bandung: UPI Press
DePorter, B., Reardon M., & Nourie S.S. (2005). Quantum
Teaching: Mempraktikan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Kaifa:
Bandung.
Santrock,J.W. (2010). Psikologi Pendidikan.
Prenada Media Grup: Jakarta.

No comments:
Post a Comment