Penciptaan dan Pencitraan Sastra

Penciptaan dan Pencitraan sastra adalah serangkaian
kegiatan individu dalam dunia sastra. Penciptaan sastra merupakan kegiatan
individu dalam menghasilkan karya sastra, sedangkan pencitraan merupakan
kegiatan individu dalam menggunakan karya sastra.
Adapun sastra dapat dipandang sebagai karya seni dengan
menggunakan bahasa. Oleh karena itu, penciptaan dan pencitraan sastra dapat
dipandang sebagai rangkaian kegiatan individu dalam karya seni yang menggunakan
bahasa sebagai medianya.
Karya sastra adalah hasil cipta manusia (individu) yang
mengutamakan unsur keindahan. Artinya, sebuah karya sastra dinilai memiliki
keindahan apabila karya itu memberikan “dampak efektif” kepada penggunanya
(pembaca atau penyimak).
Dampak efektif itu dapat diwujudkan melalui bahasa yang
digunakan dalam karya sastra tersebut. Dengan bahasa yang diciptakan oleh
sasrawan dalam sebuah karya sastra, pengguna (pembaca atau penyimak) dapat
memperoleh sebuah penjelajahan atau petualangan batiniah yang dihadirkan
sebagai isi atau pesan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, seolah-olah
seseorang sedang berhadapan dengan sebuah cermin itulah hakikat sastra yang
dimediakan melalui bahasa.
Dibutuhkan kejujuran individu dalam menggauli sastra.
Kejujuran merupakan “sebuah harga mati” dalam dunia sastra. Artinya dunia
sastra merupakan sebuah kondisi yang diisi oleh keindahaan, dan tidak ada yang
diindahkan dalam karya sastra. Apapun yang diwujudkan dalam karya sastra selalu
mengindahkan sesuatu menjadi sebuah keindahan. Ketidak jujuran, kebohongan,
keserakahan, kemunafikan, kesedihan, kenestapaan, kesakitan bahkan kematian
menjadi sesuatu keindahan dalam sastra. Oleh karena itu, kejujuran merupakan
sebuah harga mati dalam menggauli dunia sastra.
Penciptaan dengan pencitraan karya sastra merupakan
sebuah bangun keindahan dengan berpondasi kejujuran serta bermediakan bahasa.
Hal tersebut merupakan gambaran hubungan antara pencipta dengan pencitra
(sastrawan dangan pengguna) karya sastra. Artinya sastrawan dengan pengguna
karya sastra dapat membangun keindahan apabila itu didasari oleh kejujuran
dengan mediakan bahasa. Hal itu dapat diwujudkan apabila bahasa yang digunakan
untuk membangun atau mengomunikasikan kejujuran memiliki keindahan.
Secara leksikal, kata indah memiliki makna yang beragam.
Dalam kamus besar bahasa indonesia, makna kata indah adalah keadaan enak
dipandang (cantik, elok), peduli (akan), menaruh perhatian (akan), merasa dalam
hati. Kata indah dipandang sebagai sifat atau keadaan dan sebagai kegiatan.
Secara morfologi, kata indah bisa dibentuk menjadi keindahaan. Untuk itu,
keindahan merupakan bentuk morfologi dari kata indah yang memperoleh proses
afiksasi ke – an, oleh karena itu kata keindahan dapat dimaknai sebagai suatu
keadaan atau sifat sesuatu, maupun suatu kegiatan. Sejalan dengan itu,
keindahan dalam sastra dapat dimaknai sebagai suatu keadaan (sifat) ataupun
suatu kegiatan.
Peta
konsep
Kegiatan Individu :
1. Jasmani (motorik)
2. Rohani (batiniah)
Berpikir,
merasa, berkhayal, mengingat, merenung dsb.
3. Pengindraan : melalui
mata, telinga, hidung, mulut serta kulit.
4. Berbahasa : menyimak,
membaca, berbicara dan menulis.
5. Berinteraksi : alam
fisik, hayati, masyarakat, budaya maupun religi.
Produk
Kegiatan Individu :
1. Pengetahuan
2. Pengalaman
3. Keilmuan
4. Kefilsafatan
5. Keakidahan
Wujud
Produksi Kegiatan Individu :
1. Wujud Konkrit (berdimensi)
2. Konseptual (makna)
3. Lisan
4. Tulisan
5. Tindakan
Batasan
Kegiatan Individu
1. Kompetensi (kemampuan)
2. Dimensi Ruang (tempat)
3. Dimensi Waktu
4. Nilai (parameter)
5. Kegunaan (utility)
6. Kinerja (metodologi)
Kinerja
Sastra :
1. Berkreasi
2. Berekspresi
Nilai
Instrinsik Sastra :
1. Memberikan kesenangan,
kegembiraan dan kenikmatan
2. Memupuk dan
mengembangkan imajinasi
3. Memberi pengalaman baru
4. Mengembangkan wawasan
menjadi perilaku insani (pemanusiaan)
5. Memperkenalkan
kesemestaan (pengalaman)
6. Mewariskan nilai dari
generasi ke generasi
Nilai
Ekstrinsik Sastra :
1. Pengembangan pengetahuan
(cognitive development)
2. Pengembangan kepribadian
(personality development)
3. Pengembangan sosial
(sosial development)
4. Pengembangan bahasa
(language development)
Bersastra bersama Dr. Dian Indihadi, M.Pd.
(Dosen PGSD Universitas Pendidikan Indonesia)

No comments:
Post a Comment