Sunday, December 30, 2018

Wacana dalam Penciptaan dan Pencitraan Sastra di Indonesia


Penciptaan dan Pencitraan Sastra



Penciptaan dan Pencitraan sastra adalah serangkaian kegiatan individu dalam dunia sastra. Penciptaan sastra merupakan kegiatan individu dalam menghasilkan karya sastra, sedangkan pencitraan merupakan kegiatan individu dalam menggunakan karya sastra.
Adapun sastra dapat dipandang sebagai karya seni dengan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, penciptaan dan pencitraan sastra dapat dipandang sebagai rangkaian kegiatan individu dalam karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya.
Karya sastra adalah hasil cipta manusia (individu) yang mengutamakan unsur keindahan. Artinya, sebuah karya sastra dinilai memiliki keindahan apabila karya itu memberikan “dampak efektif” kepada penggunanya (pembaca atau penyimak).
Dampak efektif itu dapat diwujudkan melalui bahasa yang digunakan dalam karya sastra tersebut. Dengan bahasa yang diciptakan oleh sasrawan dalam sebuah karya sastra, pengguna (pembaca atau penyimak) dapat memperoleh sebuah penjelajahan atau petualangan batiniah yang dihadirkan sebagai isi atau pesan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, seolah-olah seseorang sedang berhadapan dengan sebuah cermin itulah hakikat sastra yang dimediakan melalui bahasa.
Dibutuhkan kejujuran individu dalam menggauli sastra. Kejujuran merupakan “sebuah harga mati” dalam dunia sastra. Artinya dunia sastra merupakan sebuah kondisi yang diisi oleh keindahaan, dan tidak ada yang diindahkan dalam karya sastra. Apapun yang diwujudkan dalam karya sastra selalu mengindahkan sesuatu menjadi sebuah keindahan. Ketidak jujuran, kebohongan, keserakahan, kemunafikan, kesedihan, kenestapaan, kesakitan bahkan kematian menjadi sesuatu keindahan dalam sastra. Oleh karena itu, kejujuran merupakan sebuah harga mati dalam menggauli dunia sastra.
Penciptaan dengan pencitraan karya sastra merupakan sebuah bangun keindahan dengan berpondasi kejujuran serta bermediakan bahasa. Hal tersebut merupakan gambaran hubungan antara pencipta dengan pencitra (sastrawan dangan pengguna) karya sastra. Artinya sastrawan dengan pengguna karya sastra dapat membangun keindahan apabila itu didasari oleh kejujuran dengan mediakan bahasa. Hal itu dapat diwujudkan apabila bahasa yang digunakan untuk membangun atau mengomunikasikan kejujuran memiliki keindahan.
Secara leksikal, kata indah memiliki makna yang beragam. Dalam kamus besar bahasa indonesia, makna kata indah adalah keadaan enak dipandang (cantik, elok), peduli (akan), menaruh perhatian (akan), merasa dalam hati. Kata indah dipandang sebagai sifat atau keadaan dan sebagai kegiatan. Secara morfologi, kata indah bisa dibentuk menjadi keindahaan. Untuk itu, keindahan merupakan bentuk morfologi dari kata indah yang memperoleh proses afiksasi ke – an, oleh karena itu kata keindahan dapat dimaknai sebagai suatu keadaan atau sifat sesuatu, maupun suatu kegiatan. Sejalan dengan itu, keindahan dalam sastra dapat dimaknai sebagai suatu keadaan (sifat) ataupun suatu kegiatan.

Peta konsep
Kegiatan Individu :
                     1. Jasmani (motorik)
                     2. Rohani (batiniah)

Berpikir, merasa, berkhayal, mengingat, merenung dsb.
                     3. Pengindraan : melalui mata, telinga, hidung, mulut serta kulit.  
                     4. Berbahasa : menyimak, membaca, berbicara dan menulis.
                     5. Berinteraksi : alam fisik, hayati, masyarakat, budaya maupun religi.

Produk Kegiatan Individu :
                    1. Pengetahuan
                    2. Pengalaman
                    3. Keilmuan
                    4. Kefilsafatan
                    5. Keakidahan

Wujud Produksi Kegiatan Individu :
                    1. Wujud Konkrit (berdimensi)
                    2. Konseptual (makna)
                    3. Lisan
                    4. Tulisan
                    5. Tindakan

Batasan Kegiatan Individu
                   1. Kompetensi (kemampuan)
                   2. Dimensi Ruang (tempat)
                   3. Dimensi Waktu
                   4. Nilai (parameter)
                   5. Kegunaan (utility)
                   6. Kinerja (metodologi)

Kinerja Sastra :
                   1. Berkreasi
                   2. Berekspresi

Nilai Instrinsik Sastra :
                   1. Memberikan kesenangan, kegembiraan dan kenikmatan
                   2. Memupuk dan mengembangkan imajinasi
                   3. Memberi pengalaman baru
                   4. Mengembangkan wawasan menjadi perilaku insani (pemanusiaan)
                   5. Memperkenalkan kesemestaan (pengalaman)
                   6. Mewariskan nilai dari generasi ke generasi

Nilai Ekstrinsik Sastra :
                   1. Pengembangan pengetahuan (cognitive development)
                   2. Pengembangan kepribadian (personality development)
                   3. Pengembangan sosial (sosial development)
                   4. Pengembangan bahasa (language development)

             
                Bersastra bersama Dr. Dian Indihadi, M.Pd.  
                (Dosen PGSD Universitas Pendidikan Indonesia)

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta