Pertanyaan Kabayan Tentang Kertas Koran Bekas
Oleh
: Yan Firmansyah

Di
sebuah desa kecil disudut kota, tinggallah seorang nenek dan kakek paruh baya
yang memiliki cucu laki-laki bernama Kabayan. Mereka tinggal di sebuah gubuk
tua dekat ladang tempat kakek dan nenek itu bekerja. Kabayan dirawat oleh kakek
dan neneknya karena kedua orang tua Kabayan telah meninggal dunia. Kedua orang
tua Kabayan meninggal dunia karena sakit keras ketika Kabayan masih berusia satu
tahun.
Nama
Kabayan diberikan oleh kedua orang tuanya yang sangat menyukai tokoh dongeng
lucu yang berasal dari Jawa Barat. Menurut cerita kakek dan neneknya, dulu kedua
orang tua Kabayan tidak pernah ketinggalan untuk mendengarkan dongeng Si
Kabayan di salah satu siaran radio. Itu merupakan satu-satunya hiburan bagi
mereka setelah lelah seharian bekerja di ladang. Ayah dan ibu Kabayan bisa
tertawa terpingkal-pingkal jika sudah mendengarkan dongeng Si Kabayan di radio.
Oleh karena itulah mereka memberi nama anaknya Kabayan. Mereka berharap kelak
anaknya akan selalu membuat gembira orang-orang yang ada di dekatnya seperti
mereka selalu gembira ketika mendengarkan dongeng Si Kabayan.
Lima
tahun berlalu sejak kedua orang tuanya meninggal, Kabayan tumbuh menjadi anak
yang sehat dan selalu tampak gembira. Meski tubuhnya kecil, ia tetap dapat
membantu pekerjaan kakek dan neneknya untuk mengurus ladang dan sawah milik
orang lain. Menyiangi rumput, menyiram tanaman, menanam padi, sampai memandikan
kerbau di sungai sering ia lakukan. Meskipun namanya Kabayan, sama sekali ia
tidak tumbuh menjadi anak malas seperti Kabayan yang ada di dalam dongeng
kesukaan kedua orang tuanya itu. Kabayan rajin membantu pekerjaan kakek dan
neneknya di ladang dan sawah.
Suatu
hari saat Kabayan sedang berjalan di pematang sawah, ia melihat sehelai kertas
koran bekas tertiup angin yang mendekati kakinya. Kertas koran itu ia ambil
kemudian ia perhatikan dengan teliti. Ada gambar seorang anak dengan baju putih
dan celana merah di koran itu terlihat sedang menerima sesuatu. Melihat gambar
itu, Kabayan berlari pulang menghampiri Kakek dan Neneknya karena ingin segera
bertanya, benda apa yang sedang diterima anak itu? Kenapa begitu bagus,
mengkilat, berwarna emas dan diberi hiasan pita?
“Nek!... Nek!... Kek!! Kakek!” Kabayan
memanggil-manggil kakek neneknya dan segera memperlihatkan kertas koran bekas
yang ia temukan di pematang sawah. Kabayan kemudian menunjuk benda yang
diterima anak kecil dalam gambar di kertas koran itu. Kakek dan nenek
Kabayan yang buta huruf tidak bisa membaca ataupun menulis itu saling memandang
kebingungan.
“Ini
gambar apa ya Kek? Nek? ” Tanya Kabayan.
Kakek
Kabayan mengambil kertas koran itu kemudian mencoba mengamatinya dari dekat
karena matanya yang mulai tidak jelas melihat. Dengan wajah yang masih bingung,
kakek memberikan koran itu pada nenek. Nenek kemudian melihat gambar apa yang
ditunjukan oleh cucunya.
“Balai
desa!!” Jawab si nenek dengan suara keras.
“Balai
desa?” Tanya si kakek sambil melihat ke nenek.
“Iya
cu, coba kamu bawa ke balai desa saja gambar ini, pasti orang-orang di balai
desa tahu apa benda ini”. Kamu nanti di sana temui saja juru tulis desa, Cu!
minta tolong dibacakan apa yang ditulis di Koran ini, sekalian tanyakan apa
benda yang sedang diterima anak kecil di gambar ini. Nenek juga jadi penasaran.”
Tanpa
berkata lagi, Kabayan mengambil kembali kertas koran itu dari tangan neneknya
dan segera berlari ke balai desa seperti apa yang disarankan neneknya. Rasa
penasaran Kabayan semakin bertambah dengan pertanyaan baru di kepalanya kenapa
anak itu menggunakan baju putih dengan celana berwarna merah?
Sesampainya
di balai desa, Kabayan langsung menemui juru tulis sesuai nasehat neneknya.
Sambil menunjukkan koran bekas yang ia temukan, Kabayan berkata “Nenek saya bilang
saya bisa bertanya ke Bapak apa tulisan di koran ini?” tanpa ia duga, bukan
jawaban yang ia dapat dari juru tulis desa itu, tapi tubuhnya malah digendong
paksa dan dibawa keluar dari ruangan oleh hansip desa yang berpakaian hijau. “Tong ulin didieu!”
Balik! balik!” Jangan main di sini, sana pulang! Begitu kata hansip
berpakaian hijau itu.
Setelah
diusir hansip, Kabayan duduk di tembokan jalan di depan balai desa sambil terus
melihat gambar di koran itu. Seperti biasanya, apapun yang terjadi Kabayan
tidak pernah merasa sedih, ia malah duduk sambil membayangkan betapa bahagia
dan bangganya ia apabila dengan memakai baju merah putih itu ia menerima benda
yang ia juga belum tahu apa namanya. Sambil bibirnya tersenyum-senyum sendiri
dan perlahan melihat awan putih di langit biru yang cerah, hatinya semakin menginginkan
benda berwarna emas dan berpita itu.
“Jangan melamun anak kecil!” terdengar
suara mengagetkan berbarengan dengan tangan seseorang menepuk pundak Kabayan.
Seketika Kabayan menoleh ke belakang dan ternyata juru tulis desa yang ingin ia
temuilah yang menepuk pundaknya. “Mau bertanya apa
tadi Kau, Nak?” Bapak juru tulis itu bertanya sambil tersenyum ramah.
Berbeda sekali dengan hansip yang tidak bisa bahasa Indonesia yang
menggendongku tadi, pikir Kabayan.
“Ini Pak, saya menemukan kertas koran bekas
makanan di pematang sawah sewaktu saya sedang berjalan, di sini ada gambar
seorang anak yang sedang menerima sesuatu, lihat ini Pak, warnanya emas,
mengkilat, dan juga ada pita melingkar di bagian seperti lehernya. Lalu ini,
kenapa anak yang menerimanya memakai baju putih dan celana merah ya Pak?”
Bapak
yang bekerja sebagai juru tulis desa itu kembali tersenyum ramah. Setelah
melihat dan membaca tulisan di koran yang dibawa Kabayan, ia menjelaskan bahwa
anak itu adalah murid sekolah dasar, pakaian yang dikenakannya adalah
baju seragam sekolah, dan benda yang ia terima di gambar itu adalah sebuah
piala karena ia memenangkan perlombaan di sekolahnya.
“Piala? apa itu Pak?” Kabayan
bertanya pada juru tulis desa itu. “iya, piala. Piala
itu adalah benda yang diberikan ketika seseorang telah memenangkan suatu
perlombaan. Biasanya selain piala, pemenang lomba juga diberikan sebuah
piagam.
‘Piagam?”
apa itu piagam Pak? Kabayan kembali bertanya penasaran. “Piagam juga sama
halnya seperti piala, diberikan kepada seseorang yang telah memenangkan
perlombangan tertentu, hanya saja perbedaannya piagam berbentuk sebuah kertas
yang di atasnya ditulis nama orang yang menjadi pemenang lomba.”
Begitu penjelasan juru tulis desa pada Kabayan.
Kabayan
sekarang sudah tahu apa nama benda yang diterima anak dalam koran bekas yang ia
temukan di pematang sawah. Benda berwarna emas dan berpita itu ternyata adalah
sebuah piala. Sebelum pulang ia berterima kasih pada bapak yang bekerja sebagai
juru tulis di balai desa tempat tinggalnya itu.
Sepulangnya
dari balai desa, Kabayan menempel kertas koran yang ia temukan di dinding bilik
kamarnya. Sembari tersenyum, kini ia bercita-cita untuk bisa sekolah dan suatu
saat bisa memenangkan perlombaan dan menerima piala seperti anak dalam kertas
koran bekas itu. Kabayan terus pandangi gambar anak SD yang sedang menerima
piala yang kini tertempel di dinding bilik bambu kamarnya.
“ketemuuu
juru tulis desa nya, Kabayan?” Tiba-tiba neneknya
datang dan bertanya pada Kabayan. “Ketemu Nek, itu
namanya piala…” jawab Kabayan sambil menunjuk gambar piala di koran
bekas itu.
Kabayan
terdiam sesaat, dengan suara pelan tiba-tiba ia berucap; “Kabayan mau sekolah,
Nek!, nanti Kabayan sekolah ya Nek? Kabayan mau dapat piala seperti anak yang
ada di koran itu.” Suasana menjadi hening, nenek tampak sedih dan
kebingungan mendengar perkataan Kabayan, begitu pula kakeknya yang sedari tadi
memperhatikan percakapan Kabayan dan nenek di balik gordeng pintu kamar
Kabayan.
Semenjak
hari itu, Kabayan sering sekali menceritakan keinginannya untuk bersekolah pada
kakek dan neneknya. Tanpa disadari Kabayan, hal itu menjadi beban bagi kakek
dan neneknya.
Pada
suatu siang, Kakek Kabayan baru tiba dari ladang, dan ia mendapati Kabayan yang
masih saja mengoceh bercerita tentang keinginannya bersekolah, memakai seragam,
dan mendapatkan piala dari perlombaan di sekolah. Siang itu kabayan sedang
bercerita pada neneknya. Kakek yang baru pulang dan mendengarnya, tidak seperti
biasa seketika saja menjadi marah, “Sudah Kabayan! Tidak
pagi, siang, sore, malam, itu…. saja yang kamu bicarakan. Kita ini miskin,
untuk makan saja susah, janganlah terlalu berharap untuk bisa sekolah, Kakek
khawatir kamu akan kecewa!”
Mendengar
perkataan kakeknya, Kabayan sangat kaget, karena ini pertama kali kakeknya
marah seperti itu. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca dan meneteskan air
mata. Sambil menghapus air matanya, Kabayan mencopot kertas koran yang ia
tempel di dinding bilik kamarnya dan berlari ke luar rumah.
Entah
kenapa langkah kakiknya membawa Kabayan sampai di depan balai desa. Juru tulis
desa adalah orang yang ia ingin temui kembali saat itu. Namun ternyata, juru
tulis desa yang ia temui dulu sekarang sudah tidak bekerja lagi di balai desa
tempat tinggalnya. Ia dikabarkan telah pindah ke kota dan mendapat pekerjaan
lain.
Langkah
Kabayan menjadi begitu lunglay, duduklah ia di tempat dulu ia mengobrol dengan
juru tulis desa, saat pertama ia mulai memiliki mimpi tentang sekolah, baju seragam,
bahkan mendapatkan sebuah piala. Seperti dulu, Kabayan kembali menatap langit,
dan saat itu pertama kalinya ia merasa sangat sedih sambil memegang koran bekas
yang diletakkan di dadanya, berbeda dengan Kabayan dalam dongeng yang selalu
bergembira dan membuat orang lain senang.
“Jangan
melamun, Nak!” ada tangan yang menepuk pundaknya.
Sama seperti dulu ketika juru tulis desa menghampirinya di tempat itu. Sembari
menolehkan wajahnya Kabayan berkata “Pak Juru Tulis
Desa?” Kabayan mengira yang menepuk pundaknya adalah juru tulis desa
yang ingin ia temui lagi. Namun saat menoleh dan melihat siapa orang yang
berdiri di belakangnya, ia baru tahu bahwa orang itu bukan juru tulis desa yang
ia temui dulu. Melainkan Kakeknya yang ternyata bergegas menyusul karena
khawatir ketika melihat Kabayan berlari ke luar rumah sambil menangis.
“Kakek
minta maaf ya Kabayan. Kabayan mau memaafkan Kakek?”
Kakek mengajak bicara Kabayan, tapi Kabayan hanya menunduk diam mendengar
perkataan Kakeknya. Dengan wajah muram Kabayan hanya berkata, “Kabayan mau sekolah,
Kek”. Kakek duduk di samping Kabayan lalu merangkulnya. Kakek menarik
nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian tersenyum. Kabayan memandang
wajah Kakeknya yang tersenyum memandang langit sambil berkata “Kabayan akan sekolah
tahun depan! InsyaAllah Kakek dan Nenek akan berusaha agar Kabayan bisa masuk
sekolah tahun depan.”
Mendengar
perkataan Kakeknya, Kabayan berterima kasih dan memeluk Kakeknya. “Terima kasih Kek…
Kabayan juga minta maaf karena Kabayan terus saja menceritakan sekolah
dan piala itu pada Kakek dan Nenek setiap hari. Padahal Kabayan tahu Kakek dan
Nenek tidak punya uang. Maaf ya Kek….” Kabayan semakin erat memeluk
kakeknya. Keduanya kini duduk berdua memandang langit dengan penuh harap sambil
sesekali melihat gambar anak yang menerima piala di koran bekas yang dipegang
Kabayan. Cukup lama mereka duduk berdua di tempat itu.
“Ayo
kita pulang Kabayan, nenek pasti sudah menunggu kita.” Menjelang
magrib, Kakek mengajak pulang Kabayan. Sambil tersenyum Kabayan menganggukkan
kepalanya. Ditemani senja sore yang semakin menguning, kakek dan Kabayan
berjalan pulang bergandengan tangan. Sejak saat itu Kabayan berjanji pada
dirinya sendiri akan lebih rajin lagi membantu kakek dan neneknya bekerja di
ladang agar bisa menabung untuk bekal biaya nanti ia masuk sekolah.

No comments:
Post a Comment