Friday, November 2, 2018

CERPEN PERTANYAAN KABAYAN TENTANG KERTAS KORAN BEKAS

Pertanyaan Kabayan Tentang Kertas Koran Bekas
Oleh : Yan Firmansyah



Di sebuah desa kecil disudut kota, tinggallah seorang nenek dan kakek paruh baya yang memiliki cucu laki-laki bernama Kabayan. Mereka tinggal di sebuah gubuk tua dekat ladang tempat kakek dan nenek itu bekerja. Kabayan dirawat oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tua Kabayan telah meninggal dunia. Kedua orang tua Kabayan meninggal dunia karena sakit keras ketika Kabayan masih berusia satu tahun.

Nama Kabayan diberikan oleh kedua orang tuanya yang sangat menyukai tokoh dongeng lucu yang berasal dari Jawa Barat. Menurut cerita kakek dan neneknya, dulu kedua orang tua Kabayan tidak pernah ketinggalan untuk mendengarkan dongeng Si Kabayan di salah satu siaran radio. Itu merupakan satu-satunya hiburan bagi mereka setelah lelah seharian bekerja di ladang. Ayah dan ibu Kabayan bisa tertawa terpingkal-pingkal jika sudah mendengarkan dongeng Si Kabayan di radio. Oleh karena itulah mereka memberi nama anaknya Kabayan. Mereka berharap kelak anaknya akan selalu membuat gembira orang-orang yang ada di dekatnya seperti mereka selalu gembira ketika mendengarkan dongeng Si Kabayan. 

Lima tahun berlalu sejak kedua orang tuanya meninggal, Kabayan tumbuh menjadi anak yang sehat dan selalu tampak gembira. Meski tubuhnya kecil, ia tetap dapat membantu pekerjaan kakek dan neneknya untuk mengurus ladang dan sawah milik orang lain. Menyiangi rumput, menyiram tanaman, menanam padi, sampai memandikan kerbau di sungai sering ia lakukan. Meskipun namanya Kabayan, sama sekali ia tidak tumbuh menjadi anak malas seperti Kabayan yang ada di dalam dongeng kesukaan kedua orang tuanya itu. Kabayan rajin membantu pekerjaan kakek dan neneknya di ladang dan sawah.

Suatu hari saat Kabayan sedang berjalan di pematang sawah, ia melihat sehelai kertas koran bekas tertiup angin yang mendekati kakinya. Kertas koran itu ia ambil kemudian ia perhatikan dengan teliti. Ada gambar seorang anak dengan baju putih dan celana merah di koran itu terlihat sedang menerima sesuatu. Melihat gambar itu, Kabayan berlari pulang menghampiri Kakek dan Neneknya karena ingin segera bertanya, benda apa yang sedang diterima anak itu? Kenapa begitu bagus, mengkilat, berwarna emas dan diberi hiasan pita?

 “Nek!... Nek!... Kek!! Kakek!” Kabayan memanggil-manggil kakek neneknya dan segera memperlihatkan kertas koran bekas yang ia temukan di pematang sawah. Kabayan kemudian menunjuk benda yang diterima anak kecil dalam gambar di kertas koran itu.  Kakek dan nenek Kabayan yang buta huruf tidak bisa membaca ataupun menulis itu saling memandang kebingungan. 
“Ini gambar apa ya Kek? Nek? ” Tanya Kabayan.

Kakek Kabayan mengambil kertas koran itu kemudian mencoba mengamatinya dari dekat karena matanya yang mulai tidak jelas melihat. Dengan wajah yang masih bingung, kakek memberikan koran itu pada nenek. Nenek kemudian melihat gambar apa yang ditunjukan oleh cucunya.

“Balai desa!!” Jawab si nenek dengan suara keras.
“Balai desa?” Tanya si kakek sambil melihat ke nenek.

“Iya cu, coba kamu bawa ke balai desa saja gambar ini, pasti orang-orang di balai desa tahu apa benda ini”. Kamu nanti di sana temui saja juru tulis desa, Cu! minta tolong dibacakan apa yang ditulis di Koran ini, sekalian tanyakan apa benda yang sedang diterima anak kecil di gambar ini. Nenek juga jadi penasaran.”

Tanpa berkata lagi, Kabayan mengambil kembali kertas koran itu dari tangan neneknya dan segera berlari ke balai desa seperti apa yang disarankan neneknya. Rasa penasaran Kabayan semakin bertambah dengan pertanyaan baru di kepalanya kenapa anak itu menggunakan baju putih dengan celana berwarna merah?

Sesampainya di balai desa, Kabayan langsung menemui juru tulis sesuai nasehat neneknya. Sambil menunjukkan koran bekas yang ia temukan, Kabayan berkata “Nenek saya bilang saya bisa bertanya ke Bapak apa tulisan di koran ini?” tanpa ia duga, bukan jawaban yang ia dapat dari juru tulis desa itu, tapi tubuhnya malah digendong paksa dan dibawa keluar dari ruangan oleh hansip desa yang berpakaian hijau. “Tong ulin didieu!” Balik! balik!” Jangan main di sini, sana pulang! Begitu kata hansip berpakaian hijau itu.

Setelah diusir hansip, Kabayan duduk di tembokan jalan di depan balai desa sambil terus melihat gambar di koran itu. Seperti biasanya, apapun yang terjadi Kabayan tidak pernah merasa sedih, ia malah duduk sambil membayangkan betapa bahagia dan bangganya ia apabila dengan memakai baju merah putih itu ia menerima benda yang ia juga belum tahu apa namanya. Sambil bibirnya tersenyum-senyum sendiri dan perlahan melihat awan putih di langit biru yang cerah, hatinya semakin menginginkan benda berwarna emas dan berpita itu.

 “Jangan melamun anak kecil!” terdengar suara mengagetkan berbarengan dengan tangan seseorang menepuk pundak Kabayan. Seketika Kabayan menoleh ke belakang dan ternyata juru tulis desa yang ingin ia temuilah yang menepuk pundaknya. “Mau bertanya apa tadi Kau, Nak?” Bapak juru tulis itu bertanya sambil tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan hansip yang tidak bisa bahasa Indonesia yang  menggendongku tadi, pikir Kabayan.

 “Ini Pak, saya menemukan kertas koran bekas makanan di pematang sawah sewaktu saya sedang berjalan, di sini ada gambar seorang anak yang sedang menerima sesuatu, lihat ini Pak, warnanya emas, mengkilat, dan juga ada pita melingkar di bagian seperti lehernya. Lalu ini, kenapa anak yang menerimanya memakai baju putih dan celana merah ya Pak?”

Bapak yang bekerja sebagai juru tulis desa itu kembali tersenyum ramah. Setelah melihat dan membaca tulisan di koran yang dibawa Kabayan, ia menjelaskan bahwa anak itu adalah  murid sekolah dasar, pakaian yang dikenakannya adalah baju seragam sekolah, dan benda yang ia terima di gambar itu adalah sebuah piala karena ia memenangkan perlombaan di sekolahnya.

 “Piala? apa itu Pak?” Kabayan bertanya pada juru tulis desa itu. “iya, piala. Piala itu adalah benda yang diberikan ketika seseorang telah memenangkan suatu  perlombaan. Biasanya selain piala, pemenang lomba juga  diberikan sebuah piagam.

‘Piagam?” apa itu piagam Pak? Kabayan kembali bertanya penasaran. “Piagam juga sama halnya seperti piala, diberikan kepada seseorang yang telah memenangkan perlombangan tertentu, hanya saja perbedaannya piagam berbentuk sebuah kertas yang di atasnya  ditulis nama orang yang menjadi pemenang lomba.” Begitu penjelasan juru tulis desa pada Kabayan. 

Kabayan sekarang sudah tahu apa nama benda yang diterima anak dalam koran bekas yang ia temukan di pematang sawah. Benda berwarna emas dan berpita itu ternyata adalah sebuah piala. Sebelum pulang ia berterima kasih pada bapak yang bekerja sebagai juru tulis di balai desa tempat tinggalnya itu.

Sepulangnya dari balai desa, Kabayan menempel kertas koran yang ia temukan di dinding bilik kamarnya. Sembari tersenyum, kini ia bercita-cita untuk bisa sekolah dan suatu saat bisa memenangkan perlombaan dan menerima piala seperti anak dalam kertas koran bekas itu. Kabayan terus pandangi gambar anak SD yang sedang menerima piala yang kini tertempel di dinding bilik bambu kamarnya.

“ketemuuu juru tulis desa nya, Kabayan?” Tiba-tiba neneknya datang dan bertanya pada Kabayan. “Ketemu Nek, itu namanya piala…” jawab Kabayan sambil menunjuk gambar piala di koran bekas itu.

Kabayan terdiam sesaat, dengan suara pelan tiba-tiba ia berucap; “Kabayan mau sekolah, Nek!, nanti Kabayan sekolah ya Nek? Kabayan mau dapat piala seperti anak yang ada di koran itu.” Suasana menjadi hening, nenek tampak sedih dan kebingungan mendengar perkataan Kabayan, begitu pula kakeknya yang sedari tadi memperhatikan percakapan Kabayan dan nenek di balik gordeng pintu kamar Kabayan.

Semenjak hari itu, Kabayan sering sekali menceritakan keinginannya untuk bersekolah pada kakek dan neneknya. Tanpa disadari Kabayan, hal itu menjadi beban bagi kakek dan neneknya.

Pada suatu siang, Kakek Kabayan baru tiba dari ladang, dan ia mendapati Kabayan yang masih saja mengoceh bercerita tentang keinginannya bersekolah, memakai seragam, dan mendapatkan piala dari perlombaan di sekolah. Siang itu kabayan sedang bercerita pada neneknya. Kakek yang baru pulang dan mendengarnya, tidak seperti biasa seketika saja menjadi marah, “Sudah Kabayan! Tidak pagi, siang, sore, malam, itu…. saja yang kamu bicarakan. Kita ini miskin, untuk makan saja susah, janganlah terlalu berharap untuk bisa sekolah, Kakek khawatir kamu akan kecewa!”

Mendengar perkataan kakeknya, Kabayan sangat kaget, karena ini pertama kali kakeknya marah seperti itu. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Sambil menghapus air matanya, Kabayan mencopot kertas koran yang ia tempel di dinding bilik kamarnya dan berlari ke luar rumah.

Entah kenapa langkah kakiknya membawa Kabayan sampai di depan balai desa. Juru tulis desa adalah orang yang ia ingin temui kembali saat itu. Namun ternyata, juru tulis desa yang ia temui dulu sekarang sudah tidak bekerja lagi di balai desa tempat tinggalnya. Ia dikabarkan telah pindah ke kota dan mendapat pekerjaan lain.

Langkah Kabayan menjadi begitu lunglay, duduklah ia di tempat dulu ia mengobrol dengan juru tulis desa, saat pertama ia mulai memiliki mimpi tentang sekolah, baju seragam, bahkan mendapatkan sebuah piala. Seperti dulu, Kabayan kembali menatap langit, dan saat itu pertama kalinya ia merasa sangat sedih sambil memegang koran bekas yang diletakkan di dadanya, berbeda dengan Kabayan dalam dongeng yang selalu bergembira dan membuat orang lain senang.

“Jangan melamun, Nak!” ada tangan yang menepuk pundaknya. Sama seperti dulu ketika juru tulis desa menghampirinya di tempat itu. Sembari menolehkan wajahnya Kabayan berkata “Pak Juru Tulis Desa?” Kabayan mengira yang menepuk pundaknya adalah juru tulis desa yang ingin ia temui lagi. Namun saat menoleh dan melihat siapa orang yang berdiri di belakangnya, ia baru tahu bahwa orang itu bukan juru tulis desa yang ia temui dulu. Melainkan Kakeknya yang ternyata bergegas menyusul karena khawatir ketika melihat Kabayan berlari ke luar rumah sambil menangis.

“Kakek minta maaf ya Kabayan. Kabayan mau memaafkan Kakek?” Kakek mengajak bicara Kabayan, tapi Kabayan hanya menunduk diam mendengar perkataan Kakeknya. Dengan wajah muram Kabayan hanya berkata, “Kabayan mau sekolah, Kek”. Kakek duduk di samping Kabayan lalu merangkulnya. Kakek menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian tersenyum. Kabayan memandang wajah Kakeknya yang tersenyum memandang langit sambil berkata “Kabayan akan sekolah tahun depan! InsyaAllah Kakek dan Nenek akan berusaha agar Kabayan bisa masuk sekolah tahun depan.”

Mendengar perkataan Kakeknya, Kabayan berterima kasih dan memeluk  Kakeknya. “Terima kasih Kek… Kabayan juga minta maaf karena Kabayan terus saja menceritakan  sekolah dan piala itu pada Kakek dan Nenek setiap hari. Padahal Kabayan tahu Kakek dan Nenek tidak punya uang. Maaf ya Kek….” Kabayan semakin erat memeluk kakeknya. Keduanya kini duduk berdua memandang langit dengan penuh harap sambil sesekali melihat gambar anak yang menerima piala di koran bekas yang dipegang Kabayan. Cukup lama mereka duduk berdua di tempat itu.

“Ayo kita pulang Kabayan, nenek pasti sudah menunggu kita.” Menjelang magrib, Kakek mengajak pulang Kabayan. Sambil tersenyum Kabayan menganggukkan kepalanya. Ditemani senja sore yang semakin menguning, kakek dan Kabayan berjalan pulang bergandengan tangan. Sejak saat itu Kabayan berjanji pada dirinya sendiri akan lebih rajin lagi membantu kakek dan neneknya bekerja di ladang agar bisa menabung untuk bekal biaya nanti ia  masuk sekolah.

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta