Monday, June 4, 2018

KEBINGUNGAN NILAI YANG MUNGKIN DIALAMI ANAK


KEBINGUNGAN NILAI YANG MUNGKIN DIALAMI ANAK




Oleh : Yan Firmansyah, M.Pd

Nilai apa saja yang Anda pegang dalam menjalani hidup? Sebuah pertanyaan yang boleh jadi tidak semua orang bisa menjawabnya, atau boleh jadi juga tidak semua orang sempat  terpikir untuk melontarkan pertanyaan itu pada dirinya sendiri. Sebentar kita tanya diri kita dengan pertanyaan tersebut, sudahkah kita sendiri punya jawabannya?

Ketika seseorang, katakanlah orang dewasa, tidak memiliki jawaban atas pertanyaan di atas, bagaimana ia akan mengajari anak-anaknya di rumah atau jika ia juga seorang guru, bagaimana ia akan ajari murid-muridnya di sekolah tentang arti sebuah nilai? Menilik definisi dari nilai dalam tulisan ini, kita batasi sebagai sesuatu yang dipegang teguh oleh hati nurani dan menjadi dasar bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Nilai di sini bukanlah nilai dalam definisi ukuran angka, semisal angka yang diperoleh siswa sebagai hasil tes, ujian sekolah, atau lain sebagainya.

Setiap nilai yang dipegang teguh oleh seseorang, berangkat dari konsep yang ditanamkan oleh keluarganya baik itu adalah sebuah proses yang disadari ataupun tidak. Seorang dokter, pemusik, penulis, ataupun guru sekalipun, akan menerima pengaruh dari keluarganya mengenai konsep sebuah nilai yang tertanam dalam dirinya. Dirasakan atau tidak, disadari atau tidak, besar atau kecil, sumbangsih pembentukan konsepsi itu tetap ada.

Konsep tentang nilai terbentuk secara perlahan seiring dengan perkembangan yang dialami setiap anak. Dalam perkembangannya, setiap anak menerima pengaruh yang diberikan oleh keluarganya. Lantas yang menjadi pertanyaannya adalah pengaruh seperti apa yang sepantasnya diberikan orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya?

Ellizabeth B. Hurlock, seorang tokoh psikologi perkembangan Amerika, dalam bukunya yang berjudul Child Development/ 8th edition, mengemukanan bahwa  seharusnya sumbangan penting keluarga terhadap perkembangan anak adalah mencakup 1).perasaan aman; 2).orang-orang yang dapat diandalkan memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis; 3).sumber kasih sayang dan penerimaan; 4).model pola perilaku; 5).bimbingan dalam pengembangan pola perilaku; 5).orang-orang yang dapat diharapkan membantu memecahkan masalah yang dihadapi anak; 6).bimbingan dan bantuan dalam mempelajari kecakapan motorik, verbal, dan sosial; 7).perangsang kemampuan mencapai keberhasilan di sekolah dan kehidupan sosial; 8).bantuan mengarahkan minat dan kemampuan; dan 9).sumber persahabatan sampai mereka cukup besar untuk mendapat teman di luar rumah atau apabila anak tidak memiliki teman di luar rumah.

Idealnya sumbangsih sebuah keluarga yang Hurlock paparkan dapatlah menjadi satu dari sekian banyak referensi mengenai seperti apa sebenarnya peran sebuah keluarga bagi perkembangan dan pendidikan anak-anaknya. Manakala peran sebuah keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya, semisal dengan hilangnya beberapa sumbangsih yang dipaparkan Hurlock di atas, tentu akan memunculkan permasalahan dalam keluarga, terutama menyangkut perkembangan anak yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembentukan konsep anak terhadap nilai yang kelak akan dipegang sebagai dasar setiap tindakannya.

Seperti halnya yang diungkapkan dosen Pendidikan Karakter Universitas Pendidikan Indonesia, Dr. Kama Abdul Hakam, M.Pd. (2010), bahwa persoalan merosotnya intensitas interaksi dalam keluarga, serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak, mengakibatkan merosotnya fungsi keluarga dalam pembinaan nilai-moral anak. Keluarga bisa jadi tidak lagi menjadi tempat untuk memperjelas nilai yang harus dipegang bahkan sebaliknya menambah kebingungan nilai bagi anak.

Secara sederhana, kebingungan nilai yang mungkin dialami anak dengan sebab menurunnya fungsi dan peran keluarga dapat dicontohkan dalam hal perilaku anak sehari-hari. Seorang anak dalam keluarga yang tidak ada atau kurangnya simpati dan empati di antara anggota keluarganya besar kemungkinan mengalami kebingungan akan nilai empati dan simpati tersebut. Katakanlah di sekolah si anak menerima pelajaran bahwa sikap empati dan simpati itu penting dan diperlukan dalam hubungan sosial, terkait dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Terkait juga dengan kewajiban manusia yang selain harus menjaga hubungan dengan Tuhannya, ia juga harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Namun pada kenyataannya, praktik dari teori yang ia terima di sekolah tidak sejalan dengan perlakuan yang ia terima di rumah.

Fakta terbalik antara praktek dan teori akan menimbulkan kebingungan anak untuk melakukan apa yang ia pelajari dan terima dalam logikanya, atau mencontoh apa yang benar-benar ia rasakan dan terjadi di hadapannya. Maka timbul dua pilihan dari kodisi semacam itu; mengikuti rasa ingin mencontoh sesuatu yang sekalipun sesuatau itu adalah hal salah, atau mengikuti logika untuk melakukan hal yang jauh lebih baik dan meninggalkan hal yang buruk.

Dari satu contoh di atas, terlihat bahwa peran keluarga teramat besar dalam pembentukan karakter anak mulai dari menetapkan nilai apa yang akan anak pegang sebagai dasar setiap tindakannya. Tindakan berulang akan menjadikan tindakan yang diulang tersebut menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan akan membentuk sebuah karakter. Begitu pula setiap tindakan yang dilakukan anak sejak kecil akan membentuk suatu kebiasaan yang pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah karakter yang akan terbawa sampai ia dewasa.

Jika kita balik, karakter berasal dari kebiasaan, kebiasaan berasal dari tindakan, dan tindakan berawal dari nilai yang dipegang kuat logika dan hati nurani. Jika menentukan nilai mana yang akan dipegang saja anak merasa kebingungan, lalu karakter apa yang akan ia bangun?


4 comments:

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta