
Menunggu
Bis Kota
Karya
: Yan Firmansyah
di jalanan yang sempit itu, kulewati batas trotoar
cahaya lampu tak redup di sebrang sana
mengkristal pada jalanan yang berair
diantara malam yang larut, tak ada kabut.
hanya kebisingan suara injakan sepatu memantul, lalu
gemuruh dan antrian itu menghempas kejemuan,
tak ada: tawa, sapa, gurau, canda
di pembatas halte itu, aku terus memandangi cahaya
sambil, sesekali memperhatikan wajah-wajah semu penuh keluh
seketika, sekelompok anak sekolah meramaikannya
seperti melukai, pun memerhatikannya
di antara kerumunan, dekat pintu halte
aku terjerat dalam antrian yang hanya sesekali melangkah maju
padahal suasana keluh mulai nampak padaku
pegal... bisikku, bukan hanya aku
ibu dikejauhan sana sudah berkeringat
kakinya menyandar pada tiang pembatas halte
sesekali langkahnya gontai,
perlahan seolah saling mengingat
bahwa malam sudah semakin larut
kapan harus beranjak? pun tak menentu
menunggu bis kota, disetiap halte
tanpa keringat dan
antrian
Dukuh Atas Jakarta, 2013
di jalanan yang sempit itu, kulewati batas trotoar
cahaya lampu tak redup di sebrang sana
mengkristal pada jalanan yang berair
diantara malam yang larut, tak ada kabut.
hanya kebisingan suara injakan sepatu memantul, lalu
gemuruh dan antrian itu menghempas kejemuan,
tak ada: tawa, sapa, gurau, canda
di pembatas halte itu, aku terus memandangi cahaya
sambil, sesekali memperhatikan wajah-wajah semu penuh keluh
seketika, sekelompok anak sekolah meramaikannya
seperti melukai, pun memerhatikannya
di antara kerumunan, dekat pintu halte
aku terjerat dalam antrian yang hanya sesekali melangkah maju
padahal suasana keluh mulai nampak padaku
pegal... bisikku, bukan hanya aku
ibu dikejauhan sana sudah berkeringat
kakinya menyandar pada tiang pembatas halte
sesekali langkahnya gontai,
perlahan seolah saling mengingat
bahwa malam sudah semakin larut
kapan harus beranjak? pun tak menentu
menunggu bis kota, disetiap halte
tanpa keringat dan
antrian
Dukuh Atas Jakarta, 2013
Percakapan
dengan Alam
Karya
: Yan Firmansyah
Sudah berapa lama kita tinggalkan tempat ini. Kawan,
sepertinya tiang-tiang penyanggah itu tlah tiada
tempat kita bersandar pun telah roboh, entah kemana. Sungguh!
tak terima keadaan ini
Tumbuhan hijau nan pekat itu, wewangian bunga yang tiap pagi selalu tersebar,
pelipur lara. Kumbang, kupu-kupu, sudah tak ada lagi, tak saling menyapa kembali
di tempat ini, capung yang setia mengganggunya pun entah kemana
Tembok bangunan dan jalanan sempit yang kita lihat saat ini, kumuh dipenuhi tiang-tiang pancang menjulang. Setiap tapaknya tak berbekas, menandakan alam kita sudah terampas
Tapi kawan, warna indahnya masih terbayang dan tak pudar sedikit pun, bukan?.
Sudah berapa lama kita tinggalkan tempat ini. Kawan,
sepertinya tiang-tiang penyanggah itu tlah tiada
tempat kita bersandar pun telah roboh, entah kemana. Sungguh!
tak terima keadaan ini
Tumbuhan hijau nan pekat itu, wewangian bunga yang tiap pagi selalu tersebar,
pelipur lara. Kumbang, kupu-kupu, sudah tak ada lagi, tak saling menyapa kembali
di tempat ini, capung yang setia mengganggunya pun entah kemana
Tembok bangunan dan jalanan sempit yang kita lihat saat ini, kumuh dipenuhi tiang-tiang pancang menjulang. Setiap tapaknya tak berbekas, menandakan alam kita sudah terampas
Tapi kawan, warna indahnya masih terbayang dan tak pudar sedikit pun, bukan?.
Tasikmalaya, 2013
Kunamai
Keluarga Kecil
Karya
: Yan Firmansyah
Rumah itu sejak kami tempati penuh keluh yang memancar di setiap wajah-wajah penghuninya. Salama empat puluh hari kami akan ada disana, menyusuri setiap udara malam dan siang bersama. Udaranya begitu asing untukku selama ini, jauh dari tempat keramaian yang halaman rumahnya ditumbuhi pohon-pohon berduri.
Jalanan ini yang menjajakan kami pada gang-gang rumah di desa, menyapa sambil sesekali tersenyum mengikuti alurnya.
Meskipun beberapa diantara kami tersesah disatu gang sempit yang penuh bebatuan, lalu terusir sambil mengucapkan rasa kesal karna tak dijamu dengan layak.
Rumah itu pula, yang mengenalkan kami pada alam, pada anak-anak yang riang menanti kebahagiaan, pada kakek dan nenek yang menunggu anak dan cucunya pulang kembali dengan penuh kedamaian.
Keluh kami tak sebesar ibu-ibu yang mengurusi anaknya, hanya tentang belajar memahami jati diri dan kemudian menyapa setiap orang dengan keikhlasan. Setelahnya kami pun bercerita tentang masa-masa yang penuh dengan kenangan itu
Kunamai keluarga kecil dalam gubug cerita, antara aku dan satu teman laki-lakiku, lalu tujuh teman perempuan yang senantiasa menyuguhi kami makan setiap harinya.
Manonjaya, 2011
Rumah itu sejak kami tempati penuh keluh yang memancar di setiap wajah-wajah penghuninya. Salama empat puluh hari kami akan ada disana, menyusuri setiap udara malam dan siang bersama. Udaranya begitu asing untukku selama ini, jauh dari tempat keramaian yang halaman rumahnya ditumbuhi pohon-pohon berduri.
Jalanan ini yang menjajakan kami pada gang-gang rumah di desa, menyapa sambil sesekali tersenyum mengikuti alurnya.
Meskipun beberapa diantara kami tersesah disatu gang sempit yang penuh bebatuan, lalu terusir sambil mengucapkan rasa kesal karna tak dijamu dengan layak.
Rumah itu pula, yang mengenalkan kami pada alam, pada anak-anak yang riang menanti kebahagiaan, pada kakek dan nenek yang menunggu anak dan cucunya pulang kembali dengan penuh kedamaian.
Keluh kami tak sebesar ibu-ibu yang mengurusi anaknya, hanya tentang belajar memahami jati diri dan kemudian menyapa setiap orang dengan keikhlasan. Setelahnya kami pun bercerita tentang masa-masa yang penuh dengan kenangan itu
Kunamai keluarga kecil dalam gubug cerita, antara aku dan satu teman laki-lakiku, lalu tujuh teman perempuan yang senantiasa menyuguhi kami makan setiap harinya.
Manonjaya, 2011
Kemana
Negeriku
Karya
: Yan Firmansyah
Pada langit yang setia menyelimuti siang dan malam tanpa henti dan bumi yang kami dipijak setiap hari. Kami kabarkan bahwa negeriku yang subur, makmur dipenuhi bermacam kindahan alam ini, sekarang sudah tak dapat lagi mendengar tangisan penghuninya.
Wajahnya yang rupawan itu, sekarang sudah tak mau lagi melihat rintihan anak-anak yang kehausan. Sikapnya yang ramah pun, sekarang sudah tak mau lagi menunduk kebawah hanya sekedar untuk menyapa siapa saja yang ada disekelilingnya.
Seakan ia sudah tiada dihadapan orang yang meminta belas kasihan, tiada diantara anak - anak yang kelaparan, bahkan ia sudah mulai melupakan siapa diantaranya yang sering menemani ketika ia sedang berlumuran darah.
Negeriku yang damai ini, sekarang sudah tak mampu melihat orang terhakimi.Terhempas keangkuhan yang menodai wajahnya yang dulu begitu rupawan.
Saat ini negeriku tak tau kemana, yang katanya dulu gagah nan wibawa. Hingga, setiap orang yang mengenalnya merasa nyaman, tentram dan bahagia.Wajahnya yang rupawan lalu pembawaannya yang tenang serta sifat yang dermawan padanya. Sekarang tak tau kemana ?
Babakan Sawo Tasikmalaya, 2014
Pada langit yang setia menyelimuti siang dan malam tanpa henti dan bumi yang kami dipijak setiap hari. Kami kabarkan bahwa negeriku yang subur, makmur dipenuhi bermacam kindahan alam ini, sekarang sudah tak dapat lagi mendengar tangisan penghuninya.
Wajahnya yang rupawan itu, sekarang sudah tak mau lagi melihat rintihan anak-anak yang kehausan. Sikapnya yang ramah pun, sekarang sudah tak mau lagi menunduk kebawah hanya sekedar untuk menyapa siapa saja yang ada disekelilingnya.
Seakan ia sudah tiada dihadapan orang yang meminta belas kasihan, tiada diantara anak - anak yang kelaparan, bahkan ia sudah mulai melupakan siapa diantaranya yang sering menemani ketika ia sedang berlumuran darah.
Negeriku yang damai ini, sekarang sudah tak mampu melihat orang terhakimi.Terhempas keangkuhan yang menodai wajahnya yang dulu begitu rupawan.
Saat ini negeriku tak tau kemana, yang katanya dulu gagah nan wibawa. Hingga, setiap orang yang mengenalnya merasa nyaman, tentram dan bahagia.Wajahnya yang rupawan lalu pembawaannya yang tenang serta sifat yang dermawan padanya. Sekarang tak tau kemana ?
Babakan Sawo Tasikmalaya, 2014
Suana
Sore Ini
Karya
: Yan Firmansyah
Sore ini ku sempatkan berpikir tentang malam, lalu berusaha berwajah senyum menyibak gundah yang hinggap dalam diri.
Kubayangkan malam ini setiap orang keluar dari rumahnya dan berbondong-bondong menuju pintu tempat ibadah. Melepaskan baju keangkuhan, keserakahan, kekerdilan dihadapan sang pencipta pemilik alam semesta.
Lalu di tempat yang suci itu pula mereka melantunkan kalimat-kalimat ampunan dan permohonan. Seraya menyaksikan bahwa ia selalu melakukan kealfaan kemudian ia menasbihkan segalanya yang menandakan ketawadloan.
Suara takbir akan menggema malam ini, karena esok hari raya akan tiba. Orang saling berkurban seraya bersyukur atas nikmat yang diterimanya selama ini, kemudian di tanah suci mekah setiap orang sedang menyaksikan ke agungan-Nya, mengelilingi baitullah memohon keridhoan-Nya di dunia sampai akhirat.
Aku disini, diantara ratusan orang dari berbagai daerah di nusantara, menunjukan wajah haru penuh rasa rindu akan kampung halaman. Hari dimana antara teman saling menyapa, keluarga saling berdoa dan antar tetangga saling mengasihi memohon ampunan dan keikhlasan hilap yang pernah dilakukan.
Di tempat ini, kami saling mengenal satu sama lain. Untuk sekedar menyapa, bergurau bahkan saling mengingatkan kala tujuan kami terlupakan yang lainnya. Pare nama tempatnya, dimana setiap orang belajar untuk memperlancar bahasa asing, mengikuti arah jalan kedepan guna menghindari ketertinggalan jaman.
Di tempat ini pula, kami menaiki sepeda kemana-mana, dan sesekali menikmati suasana gunung kelud, lalu berangkat menuju peristirahatan pemimpin pertama negeri ini. Alun-alunnya setia menemani kami setiap malam minggu tiba, hanya sekedar untuk minum kopi lalu berbicara tentang sastra bersama kawan.
Dua bulan lamanya aku disana, ditempat orang-orang pantang menyerah untuk mendapatkan impiannya. Saling berpindah tempat belajar, hilir mudik mencari kenyamanan guna mudah untuk memahaminya.
Antara wajah-wajah penuh keringat kehausan itu, kami saling berjabat tangan ketika perjumpaan sudah mulai diakhiri.
Kediri Jawa Timur, 2014
Sore ini ku sempatkan berpikir tentang malam, lalu berusaha berwajah senyum menyibak gundah yang hinggap dalam diri.
Kubayangkan malam ini setiap orang keluar dari rumahnya dan berbondong-bondong menuju pintu tempat ibadah. Melepaskan baju keangkuhan, keserakahan, kekerdilan dihadapan sang pencipta pemilik alam semesta.
Lalu di tempat yang suci itu pula mereka melantunkan kalimat-kalimat ampunan dan permohonan. Seraya menyaksikan bahwa ia selalu melakukan kealfaan kemudian ia menasbihkan segalanya yang menandakan ketawadloan.
Suara takbir akan menggema malam ini, karena esok hari raya akan tiba. Orang saling berkurban seraya bersyukur atas nikmat yang diterimanya selama ini, kemudian di tanah suci mekah setiap orang sedang menyaksikan ke agungan-Nya, mengelilingi baitullah memohon keridhoan-Nya di dunia sampai akhirat.
Aku disini, diantara ratusan orang dari berbagai daerah di nusantara, menunjukan wajah haru penuh rasa rindu akan kampung halaman. Hari dimana antara teman saling menyapa, keluarga saling berdoa dan antar tetangga saling mengasihi memohon ampunan dan keikhlasan hilap yang pernah dilakukan.
Di tempat ini, kami saling mengenal satu sama lain. Untuk sekedar menyapa, bergurau bahkan saling mengingatkan kala tujuan kami terlupakan yang lainnya. Pare nama tempatnya, dimana setiap orang belajar untuk memperlancar bahasa asing, mengikuti arah jalan kedepan guna menghindari ketertinggalan jaman.
Di tempat ini pula, kami menaiki sepeda kemana-mana, dan sesekali menikmati suasana gunung kelud, lalu berangkat menuju peristirahatan pemimpin pertama negeri ini. Alun-alunnya setia menemani kami setiap malam minggu tiba, hanya sekedar untuk minum kopi lalu berbicara tentang sastra bersama kawan.
Dua bulan lamanya aku disana, ditempat orang-orang pantang menyerah untuk mendapatkan impiannya. Saling berpindah tempat belajar, hilir mudik mencari kenyamanan guna mudah untuk memahaminya.
Antara wajah-wajah penuh keringat kehausan itu, kami saling berjabat tangan ketika perjumpaan sudah mulai diakhiri.
Kediri Jawa Timur, 2014
Daunnya
Semakin Pucat
Karya
: Yan Firmansyah
Tanah subur yang tiap hari ku lalui. Tlah ditanami benih padi dari induk yang daunnya pucat pekat, menguning dan tangkainya berlumut basah
Ia dikalahkan rerumputan yang daunnya hijau dan tangkainya mengeras seperti batu, tak goyah oleh angin yang lembut itu. Warnanya pekat dan baunya mulai harum seperti bunga di taman kota. Warna-warni tumbuhan pun mulai terpikat karena nyanyian lagunya yang merdu
Lalu, benih itu mau ikut siapa?, akarnya mulai mengekor. Pada sunyi, pada hujan dan angin yang memperhatikannya
Benih itu mulai dirambati lumut yang baunya busuk, lalu sesekali menawarinya untuk saling bergurau. Bahkan tanah yang ia hinggapi sudah tak tau bagaimana mengusir lumut, apalagi menyuruhnya untuk hilang dari ruang sunyi.
Di atas sana, batang, ranting dan dedaunan sudah mulai berguguran karna angin yang terlalu keras menyibaknya. Batang-batang mengelupas kulitnya, ranting saling berlomba untuk memisahkan dirinya dari batang dan dedaunan beterbangan seolah sudah tak kuat menahan angin yang datang padanya.
Bandung, 2013
Misteri
Penghambaan
Karya
: Yan Firmansyah
Saat, keramaian tak nampak lagi. telingaku hanya mendengar suara-suara samar dikejauhan, hingga. mengubah suasana menjadi semakin menakutkan. aromanya yang mencekam, bau yang tak mengenakkan, seolah gamang untuk menerima kenyataan
lalu. tak mampu membedakan mana Tuhan dan Syetan
Tinggallah. nafas yang terpongah hati yang terkoyak, raga yang melemah
dan suara sendu yang bersenandung
lalu. keberanian pun memudar, langkah tersendat diambang batas kekuatan. diripun mulai mencari tempat berlindung
Tuhan! bukankah ini jalan untuk menjauhkanku dari-Mu? karena lupa mengingat, menasbihkan, mengamalkan dan merasakan ayat-ayat-Mu. dengan keagungan-Mu lingdungiku, kembalikan kekuatan, keberanian dan ketenangan-Mu pada hamba.
Bandung, 2013
Saat, keramaian tak nampak lagi. telingaku hanya mendengar suara-suara samar dikejauhan, hingga. mengubah suasana menjadi semakin menakutkan. aromanya yang mencekam, bau yang tak mengenakkan, seolah gamang untuk menerima kenyataan
lalu. tak mampu membedakan mana Tuhan dan Syetan
Tinggallah. nafas yang terpongah hati yang terkoyak, raga yang melemah
dan suara sendu yang bersenandung
lalu. keberanian pun memudar, langkah tersendat diambang batas kekuatan. diripun mulai mencari tempat berlindung
Tuhan! bukankah ini jalan untuk menjauhkanku dari-Mu? karena lupa mengingat, menasbihkan, mengamalkan dan merasakan ayat-ayat-Mu. dengan keagungan-Mu lingdungiku, kembalikan kekuatan, keberanian dan ketenangan-Mu pada hamba.
Bandung, 2013


