Tuesday, November 27, 2018

KUMPULAN PUISI YAN FIRMANSYAH


Menunggu Bis Kota

Karya : Yan Firmansyah

di jalanan yang sempit itu, kulewati batas trotoar
cahaya lampu tak redup di sebrang sana
mengkristal pada jalanan yang berair

diantara malam yang larut, tak ada kabut.
hanya kebisingan suara injakan sepatu memantul, lalu
gemuruh dan antrian itu menghempas kejemuan,
tak ada: tawa, sapa, gurau, canda

di pembatas halte itu, aku terus memandangi cahaya
sambil, sesekali memperhatikan wajah-wajah semu penuh keluh
seketika, sekelompok anak sekolah meramaikannya
seperti melukai, pun memerhatikannya

di antara kerumunan, dekat pintu halte
aku terjerat dalam antrian yang hanya sesekali melangkah maju
padahal suasana keluh mulai nampak padaku
pegal... bisikku, bukan hanya aku
ibu dikejauhan sana sudah berkeringat
kakinya menyandar pada tiang pembatas halte

sesekali langkahnya gontai,
perlahan seolah saling mengingat
bahwa malam sudah semakin larut
kapan harus beranjak? pun tak menentu
menunggu bis kota, disetiap halte
tanpa keringat dan
antrian

Dukuh Atas Jakarta, 2013


Percakapan dengan Alam

Karya : Yan Firmansyah

Sudah berapa lama kita tinggalkan tempat ini. Kawan,
sepertinya tiang-tiang penyanggah itu tlah tiada
tempat kita bersandar pun telah roboh, entah kemana. Sungguh!
tak terima keadaan ini

Tumbuhan hijau nan pekat itu, wewangian bunga yang tiap pagi selalu tersebar,
pelipur lara. Kumbang, kupu-kupu, sudah tak ada lagi, tak saling menyapa kembali
di tempat ini, capung yang setia mengganggunya pun entah kemana

Tembok bangunan dan jalanan sempit yang kita lihat saat ini, kumuh dipenuhi tiang-tiang pancang menjulang. Setiap tapaknya tak berbekas, menandakan alam kita sudah terampas

Tapi kawan, warna indahnya masih terbayang dan tak pudar sedikit pun, bukan?.

Tasikmalaya, 2013


Kunamai Keluarga Kecil

Karya : Yan Firmansyah

Rumah itu sejak kami tempati penuh keluh yang memancar di setiap wajah-wajah penghuninya. Salama empat puluh hari kami akan ada disana, menyusuri setiap udara malam dan siang bersama. Udaranya begitu asing untukku selama ini, jauh dari tempat keramaian yang halaman rumahnya ditumbuhi pohon-pohon berduri.

Jalanan ini yang menjajakan kami pada gang-gang rumah di desa, menyapa sambil sesekali tersenyum mengikuti alurnya.

Meskipun beberapa diantara kami tersesah disatu gang sempit yang penuh bebatuan, lalu terusir sambil mengucapkan rasa kesal karna tak dijamu dengan layak.

Rumah itu pula, yang mengenalkan kami pada alam, pada anak-anak yang riang menanti kebahagiaan, pada kakek dan nenek yang menunggu anak dan cucunya pulang kembali dengan penuh kedamaian.

Keluh kami tak sebesar ibu-ibu yang mengurusi anaknya, hanya tentang belajar memahami jati diri dan kemudian menyapa setiap orang dengan keikhlasan. Setelahnya kami pun bercerita tentang masa-masa yang penuh dengan kenangan itu

Kunamai keluarga kecil dalam gubug cerita, antara aku dan satu teman laki-lakiku, lalu tujuh teman perempuan yang senantiasa menyuguhi kami makan setiap harinya.

Manonjaya, 2011


Kemana Negeriku
                   
Karya : Yan Firmansyah

Pada langit yang setia menyelimuti siang dan malam tanpa henti dan bumi yang kami dipijak setiap hari. Kami kabarkan bahwa negeriku yang subur, makmur dipenuhi bermacam kindahan alam ini, sekarang sudah tak dapat lagi mendengar tangisan penghuninya.

Wajahnya yang rupawan itu, sekarang sudah tak mau lagi melihat rintihan anak-anak yang kehausan. Sikapnya yang ramah pun, sekarang sudah tak mau lagi menunduk kebawah hanya sekedar untuk menyapa siapa saja yang ada disekelilingnya.

Seakan ia sudah tiada dihadapan orang yang meminta belas kasihan, tiada diantara anak - anak yang kelaparan, bahkan ia sudah mulai melupakan siapa diantaranya yang sering menemani ketika ia sedang berlumuran darah.

Negeriku yang damai ini, sekarang sudah tak mampu melihat orang terhakimi.Terhempas keangkuhan yang menodai wajahnya yang dulu begitu rupawan.

Saat ini negeriku tak tau kemana, yang katanya dulu gagah nan wibawa. Hingga, setiap orang yang mengenalnya merasa nyaman, tentram dan bahagia.Wajahnya yang rupawan lalu pembawaannya yang tenang serta sifat yang dermawan padanya. Sekarang tak tau kemana ?

Babakan Sawo Tasikmalaya, 2014


Suana Sore Ini

Karya : Yan Firmansyah

Sore ini ku sempatkan berpikir tentang malam, lalu berusaha berwajah senyum menyibak gundah yang hinggap dalam diri.

Kubayangkan malam ini setiap orang keluar dari rumahnya dan berbondong-bondong menuju pintu tempat ibadah. Melepaskan baju keangkuhan, keserakahan, kekerdilan dihadapan sang pencipta pemilik alam semesta.

Lalu di tempat yang suci itu pula mereka melantunkan kalimat-kalimat ampunan dan permohonan. Seraya menyaksikan bahwa ia selalu melakukan kealfaan kemudian ia menasbihkan segalanya yang menandakan ketawadloan.

Suara takbir akan menggema malam ini, karena esok hari raya akan tiba. Orang saling berkurban seraya bersyukur atas nikmat yang diterimanya selama ini, kemudian di tanah suci mekah setiap orang sedang menyaksikan ke agungan-Nya, mengelilingi baitullah memohon keridhoan-Nya di dunia sampai akhirat.

Aku disini, diantara ratusan orang dari berbagai daerah di nusantara, menunjukan wajah haru penuh rasa rindu akan kampung halaman. Hari dimana antara teman saling menyapa, keluarga saling berdoa dan antar tetangga saling mengasihi memohon ampunan dan keikhlasan hilap yang pernah dilakukan.

Di tempat ini, kami saling mengenal satu sama lain. Untuk sekedar menyapa, bergurau bahkan saling mengingatkan kala tujuan kami terlupakan yang lainnya. Pare nama tempatnya, dimana setiap orang belajar untuk memperlancar bahasa asing, mengikuti arah jalan kedepan guna menghindari ketertinggalan jaman.

Di tempat ini pula, kami menaiki sepeda kemana-mana, dan sesekali menikmati suasana gunung kelud, lalu berangkat menuju peristirahatan pemimpin pertama negeri ini. Alun-alunnya setia menemani kami setiap malam minggu tiba, hanya sekedar untuk minum kopi lalu berbicara tentang sastra bersama kawan.

Dua bulan lamanya aku disana, ditempat orang-orang pantang menyerah untuk mendapatkan impiannya. Saling berpindah tempat belajar, hilir mudik mencari kenyamanan guna mudah untuk memahaminya.

Antara wajah-wajah penuh keringat kehausan itu, kami saling berjabat tangan ketika perjumpaan sudah mulai diakhiri.

Kediri Jawa Timur, 2014


Daunnya Semakin Pucat

Karya : Yan Firmansyah

Tanah subur yang tiap hari ku lalui. Tlah ditanami benih padi dari induk yang daunnya pucat pekat, menguning dan tangkainya berlumut basah

Ia dikalahkan rerumputan yang daunnya hijau dan tangkainya mengeras seperti batu, tak goyah oleh angin yang lembut itu. Warnanya pekat dan baunya mulai harum seperti bunga di taman kota. Warna-warni tumbuhan pun mulai terpikat karena nyanyian lagunya yang merdu

Lalu, benih itu mau ikut siapa?, akarnya mulai mengekor. Pada sunyi, pada hujan dan angin yang memperhatikannya

Benih itu mulai dirambati lumut yang baunya busuk, lalu sesekali menawarinya untuk saling bergurau. Bahkan tanah yang ia hinggapi sudah tak tau bagaimana mengusir lumut, apalagi menyuruhnya untuk hilang dari ruang sunyi.

Di atas sana, batang, ranting dan dedaunan sudah mulai berguguran karna angin yang terlalu keras menyibaknya. Batang-batang mengelupas kulitnya, ranting saling berlomba untuk memisahkan dirinya dari batang dan dedaunan beterbangan seolah sudah tak kuat menahan angin yang datang padanya.

Bandung, 2013

Misteri Penghambaan

Karya : Yan Firmansyah

Saat, keramaian tak nampak lagi. telingaku hanya mendengar suara-suara samar dikejauhan, hingga. mengubah suasana menjadi semakin menakutkan. aromanya yang mencekam, bau yang tak mengenakkan, seolah gamang untuk menerima kenyataan

lalu. tak mampu membedakan mana Tuhan dan Syetan

Tinggallah. nafas yang terpongah hati yang terkoyak, raga yang melemah
dan suara sendu yang bersenandung

lalu. keberanian pun memudar, langkah tersendat diambang batas kekuatan. diripun mulai mencari tempat berlindung

Tuhan! bukankah ini jalan untuk menjauhkanku dari-Mu? karena lupa mengingat, menasbihkan, mengamalkan dan merasakan ayat-ayat-Mu. dengan keagungan-Mu lingdungiku, kembalikan kekuatan, keberanian dan ketenangan-Mu pada hamba.

Bandung, 2013


Thursday, November 15, 2018

FILOSOFI AIR DAN AKAR



Filosofi Air dan Akar

#air
Do’a itu seperti kucuran air yang mengalir deras, dan pemohon do’a adalah wadah yang akan menadahinya. Semakin banyak air yang ingin kita dapat, maka wadah yang dipakai untuk menadahi air tersebut pun haruslah sebuah wadah yang bisa menampung kapasitas air yang kita inginkan. Mengabulkan do’a adalah mudah bagi yang memperkenankannya. Namun, sudahkah kita menjadi sebesar wadah yang sesuai dengan banyaknya air yang ingin kita tadah?

#akar
Belajarlah dari akar. Ia terkubur dalam tanah, tidak terlihat, tapi membawa manfaat. Mencari sumber makanan untuk tumbuhan yang ia topang, menyerapnya, dan menyebarkannya melalui xylem dan floem. Hingga menghijaunya daun, tumbuhnya batang, bermekarannya bunga, dan ranumnya buah. Berbuat baiklah seperti akar, meski tak terlihat, ia membawa manfaat.



Berfilsafat alam bersama Prof. Dr. H. Rahman, M.Pd.
(Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia)


Friday, November 2, 2018

CERPEN PERTANYAAN KABAYAN TENTANG KERTAS KORAN BEKAS

Pertanyaan Kabayan Tentang Kertas Koran Bekas
Oleh : Yan Firmansyah



Di sebuah desa kecil disudut kota, tinggallah seorang nenek dan kakek paruh baya yang memiliki cucu laki-laki bernama Kabayan. Mereka tinggal di sebuah gubuk tua dekat ladang tempat kakek dan nenek itu bekerja. Kabayan dirawat oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tua Kabayan telah meninggal dunia. Kedua orang tua Kabayan meninggal dunia karena sakit keras ketika Kabayan masih berusia satu tahun.

Nama Kabayan diberikan oleh kedua orang tuanya yang sangat menyukai tokoh dongeng lucu yang berasal dari Jawa Barat. Menurut cerita kakek dan neneknya, dulu kedua orang tua Kabayan tidak pernah ketinggalan untuk mendengarkan dongeng Si Kabayan di salah satu siaran radio. Itu merupakan satu-satunya hiburan bagi mereka setelah lelah seharian bekerja di ladang. Ayah dan ibu Kabayan bisa tertawa terpingkal-pingkal jika sudah mendengarkan dongeng Si Kabayan di radio. Oleh karena itulah mereka memberi nama anaknya Kabayan. Mereka berharap kelak anaknya akan selalu membuat gembira orang-orang yang ada di dekatnya seperti mereka selalu gembira ketika mendengarkan dongeng Si Kabayan. 

Lima tahun berlalu sejak kedua orang tuanya meninggal, Kabayan tumbuh menjadi anak yang sehat dan selalu tampak gembira. Meski tubuhnya kecil, ia tetap dapat membantu pekerjaan kakek dan neneknya untuk mengurus ladang dan sawah milik orang lain. Menyiangi rumput, menyiram tanaman, menanam padi, sampai memandikan kerbau di sungai sering ia lakukan. Meskipun namanya Kabayan, sama sekali ia tidak tumbuh menjadi anak malas seperti Kabayan yang ada di dalam dongeng kesukaan kedua orang tuanya itu. Kabayan rajin membantu pekerjaan kakek dan neneknya di ladang dan sawah.

Suatu hari saat Kabayan sedang berjalan di pematang sawah, ia melihat sehelai kertas koran bekas tertiup angin yang mendekati kakinya. Kertas koran itu ia ambil kemudian ia perhatikan dengan teliti. Ada gambar seorang anak dengan baju putih dan celana merah di koran itu terlihat sedang menerima sesuatu. Melihat gambar itu, Kabayan berlari pulang menghampiri Kakek dan Neneknya karena ingin segera bertanya, benda apa yang sedang diterima anak itu? Kenapa begitu bagus, mengkilat, berwarna emas dan diberi hiasan pita?

 “Nek!... Nek!... Kek!! Kakek!” Kabayan memanggil-manggil kakek neneknya dan segera memperlihatkan kertas koran bekas yang ia temukan di pematang sawah. Kabayan kemudian menunjuk benda yang diterima anak kecil dalam gambar di kertas koran itu.  Kakek dan nenek Kabayan yang buta huruf tidak bisa membaca ataupun menulis itu saling memandang kebingungan. 
“Ini gambar apa ya Kek? Nek? ” Tanya Kabayan.

Kakek Kabayan mengambil kertas koran itu kemudian mencoba mengamatinya dari dekat karena matanya yang mulai tidak jelas melihat. Dengan wajah yang masih bingung, kakek memberikan koran itu pada nenek. Nenek kemudian melihat gambar apa yang ditunjukan oleh cucunya.

“Balai desa!!” Jawab si nenek dengan suara keras.
“Balai desa?” Tanya si kakek sambil melihat ke nenek.

“Iya cu, coba kamu bawa ke balai desa saja gambar ini, pasti orang-orang di balai desa tahu apa benda ini”. Kamu nanti di sana temui saja juru tulis desa, Cu! minta tolong dibacakan apa yang ditulis di Koran ini, sekalian tanyakan apa benda yang sedang diterima anak kecil di gambar ini. Nenek juga jadi penasaran.”

Tanpa berkata lagi, Kabayan mengambil kembali kertas koran itu dari tangan neneknya dan segera berlari ke balai desa seperti apa yang disarankan neneknya. Rasa penasaran Kabayan semakin bertambah dengan pertanyaan baru di kepalanya kenapa anak itu menggunakan baju putih dengan celana berwarna merah?

Sesampainya di balai desa, Kabayan langsung menemui juru tulis sesuai nasehat neneknya. Sambil menunjukkan koran bekas yang ia temukan, Kabayan berkata “Nenek saya bilang saya bisa bertanya ke Bapak apa tulisan di koran ini?” tanpa ia duga, bukan jawaban yang ia dapat dari juru tulis desa itu, tapi tubuhnya malah digendong paksa dan dibawa keluar dari ruangan oleh hansip desa yang berpakaian hijau. “Tong ulin didieu!” Balik! balik!” Jangan main di sini, sana pulang! Begitu kata hansip berpakaian hijau itu.

Setelah diusir hansip, Kabayan duduk di tembokan jalan di depan balai desa sambil terus melihat gambar di koran itu. Seperti biasanya, apapun yang terjadi Kabayan tidak pernah merasa sedih, ia malah duduk sambil membayangkan betapa bahagia dan bangganya ia apabila dengan memakai baju merah putih itu ia menerima benda yang ia juga belum tahu apa namanya. Sambil bibirnya tersenyum-senyum sendiri dan perlahan melihat awan putih di langit biru yang cerah, hatinya semakin menginginkan benda berwarna emas dan berpita itu.

 “Jangan melamun anak kecil!” terdengar suara mengagetkan berbarengan dengan tangan seseorang menepuk pundak Kabayan. Seketika Kabayan menoleh ke belakang dan ternyata juru tulis desa yang ingin ia temuilah yang menepuk pundaknya. “Mau bertanya apa tadi Kau, Nak?” Bapak juru tulis itu bertanya sambil tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan hansip yang tidak bisa bahasa Indonesia yang  menggendongku tadi, pikir Kabayan.

 “Ini Pak, saya menemukan kertas koran bekas makanan di pematang sawah sewaktu saya sedang berjalan, di sini ada gambar seorang anak yang sedang menerima sesuatu, lihat ini Pak, warnanya emas, mengkilat, dan juga ada pita melingkar di bagian seperti lehernya. Lalu ini, kenapa anak yang menerimanya memakai baju putih dan celana merah ya Pak?”

Bapak yang bekerja sebagai juru tulis desa itu kembali tersenyum ramah. Setelah melihat dan membaca tulisan di koran yang dibawa Kabayan, ia menjelaskan bahwa anak itu adalah  murid sekolah dasar, pakaian yang dikenakannya adalah baju seragam sekolah, dan benda yang ia terima di gambar itu adalah sebuah piala karena ia memenangkan perlombaan di sekolahnya.

 “Piala? apa itu Pak?” Kabayan bertanya pada juru tulis desa itu. “iya, piala. Piala itu adalah benda yang diberikan ketika seseorang telah memenangkan suatu  perlombaan. Biasanya selain piala, pemenang lomba juga  diberikan sebuah piagam.

‘Piagam?” apa itu piagam Pak? Kabayan kembali bertanya penasaran. “Piagam juga sama halnya seperti piala, diberikan kepada seseorang yang telah memenangkan perlombangan tertentu, hanya saja perbedaannya piagam berbentuk sebuah kertas yang di atasnya  ditulis nama orang yang menjadi pemenang lomba.” Begitu penjelasan juru tulis desa pada Kabayan. 

Kabayan sekarang sudah tahu apa nama benda yang diterima anak dalam koran bekas yang ia temukan di pematang sawah. Benda berwarna emas dan berpita itu ternyata adalah sebuah piala. Sebelum pulang ia berterima kasih pada bapak yang bekerja sebagai juru tulis di balai desa tempat tinggalnya itu.

Sepulangnya dari balai desa, Kabayan menempel kertas koran yang ia temukan di dinding bilik kamarnya. Sembari tersenyum, kini ia bercita-cita untuk bisa sekolah dan suatu saat bisa memenangkan perlombaan dan menerima piala seperti anak dalam kertas koran bekas itu. Kabayan terus pandangi gambar anak SD yang sedang menerima piala yang kini tertempel di dinding bilik bambu kamarnya.

“ketemuuu juru tulis desa nya, Kabayan?” Tiba-tiba neneknya datang dan bertanya pada Kabayan. “Ketemu Nek, itu namanya piala…” jawab Kabayan sambil menunjuk gambar piala di koran bekas itu.

Kabayan terdiam sesaat, dengan suara pelan tiba-tiba ia berucap; “Kabayan mau sekolah, Nek!, nanti Kabayan sekolah ya Nek? Kabayan mau dapat piala seperti anak yang ada di koran itu.” Suasana menjadi hening, nenek tampak sedih dan kebingungan mendengar perkataan Kabayan, begitu pula kakeknya yang sedari tadi memperhatikan percakapan Kabayan dan nenek di balik gordeng pintu kamar Kabayan.

Semenjak hari itu, Kabayan sering sekali menceritakan keinginannya untuk bersekolah pada kakek dan neneknya. Tanpa disadari Kabayan, hal itu menjadi beban bagi kakek dan neneknya.

Pada suatu siang, Kakek Kabayan baru tiba dari ladang, dan ia mendapati Kabayan yang masih saja mengoceh bercerita tentang keinginannya bersekolah, memakai seragam, dan mendapatkan piala dari perlombaan di sekolah. Siang itu kabayan sedang bercerita pada neneknya. Kakek yang baru pulang dan mendengarnya, tidak seperti biasa seketika saja menjadi marah, “Sudah Kabayan! Tidak pagi, siang, sore, malam, itu…. saja yang kamu bicarakan. Kita ini miskin, untuk makan saja susah, janganlah terlalu berharap untuk bisa sekolah, Kakek khawatir kamu akan kecewa!”

Mendengar perkataan kakeknya, Kabayan sangat kaget, karena ini pertama kali kakeknya marah seperti itu. Tanpa terasa matanya mulai berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Sambil menghapus air matanya, Kabayan mencopot kertas koran yang ia tempel di dinding bilik kamarnya dan berlari ke luar rumah.

Entah kenapa langkah kakiknya membawa Kabayan sampai di depan balai desa. Juru tulis desa adalah orang yang ia ingin temui kembali saat itu. Namun ternyata, juru tulis desa yang ia temui dulu sekarang sudah tidak bekerja lagi di balai desa tempat tinggalnya. Ia dikabarkan telah pindah ke kota dan mendapat pekerjaan lain.

Langkah Kabayan menjadi begitu lunglay, duduklah ia di tempat dulu ia mengobrol dengan juru tulis desa, saat pertama ia mulai memiliki mimpi tentang sekolah, baju seragam, bahkan mendapatkan sebuah piala. Seperti dulu, Kabayan kembali menatap langit, dan saat itu pertama kalinya ia merasa sangat sedih sambil memegang koran bekas yang diletakkan di dadanya, berbeda dengan Kabayan dalam dongeng yang selalu bergembira dan membuat orang lain senang.

“Jangan melamun, Nak!” ada tangan yang menepuk pundaknya. Sama seperti dulu ketika juru tulis desa menghampirinya di tempat itu. Sembari menolehkan wajahnya Kabayan berkata “Pak Juru Tulis Desa?” Kabayan mengira yang menepuk pundaknya adalah juru tulis desa yang ingin ia temui lagi. Namun saat menoleh dan melihat siapa orang yang berdiri di belakangnya, ia baru tahu bahwa orang itu bukan juru tulis desa yang ia temui dulu. Melainkan Kakeknya yang ternyata bergegas menyusul karena khawatir ketika melihat Kabayan berlari ke luar rumah sambil menangis.

“Kakek minta maaf ya Kabayan. Kabayan mau memaafkan Kakek?” Kakek mengajak bicara Kabayan, tapi Kabayan hanya menunduk diam mendengar perkataan Kakeknya. Dengan wajah muram Kabayan hanya berkata, “Kabayan mau sekolah, Kek”. Kakek duduk di samping Kabayan lalu merangkulnya. Kakek menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, kemudian tersenyum. Kabayan memandang wajah Kakeknya yang tersenyum memandang langit sambil berkata “Kabayan akan sekolah tahun depan! InsyaAllah Kakek dan Nenek akan berusaha agar Kabayan bisa masuk sekolah tahun depan.”

Mendengar perkataan Kakeknya, Kabayan berterima kasih dan memeluk  Kakeknya. “Terima kasih Kek… Kabayan juga minta maaf karena Kabayan terus saja menceritakan  sekolah dan piala itu pada Kakek dan Nenek setiap hari. Padahal Kabayan tahu Kakek dan Nenek tidak punya uang. Maaf ya Kek….” Kabayan semakin erat memeluk kakeknya. Keduanya kini duduk berdua memandang langit dengan penuh harap sambil sesekali melihat gambar anak yang menerima piala di koran bekas yang dipegang Kabayan. Cukup lama mereka duduk berdua di tempat itu.

“Ayo kita pulang Kabayan, nenek pasti sudah menunggu kita.” Menjelang magrib, Kakek mengajak pulang Kabayan. Sambil tersenyum Kabayan menganggukkan kepalanya. Ditemani senja sore yang semakin menguning, kakek dan Kabayan berjalan pulang bergandengan tangan. Sejak saat itu Kabayan berjanji pada dirinya sendiri akan lebih rajin lagi membantu kakek dan neneknya bekerja di ladang agar bisa menabung untuk bekal biaya nanti ia  masuk sekolah.

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta