Tuesday, September 10, 2019

Saini KM : Saya Mendefinisikan Dunia, dan Dunia Mendefisikan Saya


Saya Mendefinisikan Dunia, dan Dunia Mendefisikan Saya



Oleh : Saini Karnamisastra (Saini KM)

Proses kreatif seniman, seseorang penyair khususnya, niscaya memiliki persamaan dan perbedaan dengan proses kreatif seniman atau penyair lainnya. Hakikat proses kreatif sendiri, seperti hakikat hal-hal lainnya, akan bersifat rahasia. Yang dapat diungkapkan mungkin hanya pandangan atau pendapat seniman tentang proses kreatifnya itu, pendapatnya ini pun belum tentu tepat didalam menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Kendatipun demikian, betapapun tidak memadainya suatu uraian tentang proses kreatif, diharapkan sedikitnya akan dapat menerangi beberapa sisi daripadanya.

Tidaklah diketahui sejak kapan daya jiwa seseorang, yaitu daya pikir, daya rasa, dan daya khayalnya, mulai bersinggungan dengan lingkungannya, baik yang bersifat jasmani maupun jiwani. Yang jelas ialah pada suatu ketika ketiga daya itu secara kesatuan, sebutlah kesadaran, bersinggungan dengan lingkungan itu, sebutlah dunia. Persinggungan ini menimbulkan pengaruh terhadap kesadaran, dalam bentuk kegiatan jiwani. Kegiatan ini dan bekas atau kesan yang ditinggalkannya pada kesadaran dapat disebut pengalaman.

Di satu pihak karena jumlah dan sifat pengalamannya, di lain pihak karena temperamennya, yaitu unsur-unsur kimiawi didalam darahnya, struktur kesadaran seseorang berbeda dengan struktur kesadaran orang lain. Itulah yang disebut watak yang senantiasa bersifat amung (unik), seperti daun pada sebatang pohon, tidak pernah sama satu sama lain. Kehadiran seseorang di dunia ditandai dengan wataknya yang amung ini.

Watak seseorang penyair memiliki dua kecenderungan. Disatu pihak ia sangat peka terhadap lingkungan atau dunianya, di pihak lain ia memiliki dorongan kuat untuk mengungkapkan pengalamannya, yaitu proses dan hasil persinggungan antara watak dan dunianya itu. Kepekaan penyair datang dari sifatnya yang lain.

Albert Camus pernah mengatakan bahwa seniman adalah orang yang tidak berlapang dada terhadap kenyataan. Ia tidak toleran terhadap realitas. Artinya, setiap kali ia berhadapan dengan das Sein, ia melihat das Sollen. Setiap kali ia menemukan yang nyata, ia membayangkan dan mendambakan yang seharusnya. Itulah sebabnya seorang penyair gelisah, apakah ketika ia berhadapan dengan objek-objek jasmani maupun jiwani; apakah ketika ia berhadapan dengan orang lain, benda-benda atau alam semesta, maupun dengan pengertian-pengertian (konsep-konsep) seperti keadilan, kebenaran, cinta, Tuhan, kehidupan, kematian dan sebagainya. Kegelisahan penyair ini dapat pula dikatakan sebagai akibat dari kecenderunganya untuk mengkonfrontasikan das Sein dengan das Sollen itu, antara kenyataan dan cita-cita. Semakin sengit konfrontasi itu, semakin gawat kegelisahannya.

Seandainya ia tidak dapat menemukan jalan keluar dari kegawatan konfrontasi itu, ia akan menderita neurosia. Katakanlah mungkin ia akan menjadi sinting. Mereka yang bukan penyair akan tetapi memiliki kepekaan seperti penyair akan mengataasi kegawatan konfrontasi itu di dalam berbagai kegiatan. Seorang penyair mengatainya dengan menciptakan karya puisi.    

Bagi seorang penyair, dengan demikian, menulis puisi dapat dianggap sebagai upaya konsolidasi diri. Artinya, di hadapan ketegangan antara das Sein dan das Sollen ia mencari tepatnya, mencari kedudukannya. Katakanlah, ia berupaya mendefinisikan dirinya. Hanya kala ia dapat mendefinisikan dirinya di hadapan berbagai masalah, yaitu pertentangan antara das Sein dan das Sollen,  ia dapat menemukan ketenangan atau kedamaian. Sedikitnya sebelum ia berhadapan kembali dengan masalah baru. Dengan demikian, mengalirlah tinta penyair, tidak habis-habisnya sampai akhir hayatnya; selama kehidupan masih mengandung masalah atau dunia menyentuh kesadarannya dengan segala yang mengagumkannya.

Dalam diri penyair yang proses kreatifnya seperti itu dapatlah diduga, bahwa karya-karyanya dapat dibandingkan dengan cermin. Pembaca dapat melihat masalah-masalah, objek-objek melalui kesadaran penyair. Atau sebaliknya, melalui masalah-masalah atau objek-objek yang ditulis penyair, pembaca akan melihat sosok pribadi penyair sendiri. Masalah-masalah dan atau objek-objek itu akan memberikan kesan yang khas, yang berbeda dengan mungkin yang ditemukan dalam karya penyair lain. Masalah dan objek itu tampak seperti dalam cermin berwarna atau yang permukaannya tidak terlalu rata. Kekhasan ini, warna lain ini, datang dari watak penyair yang amung, yang tidak ada duanya. Keamungan inilah yang memberikan kekaayaan pada pembaca, dengan cara membaca peluang untuk mengalami dunia secara lain, secara lebih sengit, lebih tajam, lebih mendalam dan meluas. Mengalami dunia tidak semata-mata dengan pancaindera tau pikiran, melainkan dengan segenap daya jiwa, bahkan dengan roh.

Dalam kedudukannya sebagai cermin itulah maka penyair menjadi saksi zamannya. Akan tetapi karena cermin itu berwarna dan permukaanya memiliki tekstur yang khas, maka zamannya itu pada gilirannya menjadi saksinya pula. Penyair berkata, saya menyaksikan zamanku. Namun zamannya pun berkata, aku menyaksikan penyair berhadapan denganku; ia kutemukan karena ia memilih tempat dan cara tertentu dalam menyaksikanku.

Dengan kata lain dapat pula dikatakan, bahwa penyir mendefinisikan dunianya melalui karya-karyanya, namun tanpa disadarinya pula dalam karya-karyanya itu. Sedikitnya, itulah yang terjadi dengan diri dan kepenyairan saya.

Sekilas tentang penulis:



Saini KM lahir di Sumedang, 16 Juni 1938. Ia berasal dari sebuah keluarga yang kental dengan kehidupan seni tradisi Sunda. Ayahnya seorang pemain kecapi suling dan penembang. Susana yang akrab dengan seni tradisi Sunda itu pulalah yang agaknya membentuk sensitivitas terhadap keindahan bahasa puisi dan menjadi awal dari kesenangannya membaca dan mendeklamasikan puisi-puisi karya Sanusi Pane, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, dan Rendra.

Kecintaannya pada puisi semakin besar ketika ia melanjutkan studinya di Jurusan Bahasa Inggris Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung, kemudian berubah nama menjadi Institut Keguraun dan Ilmu Pendidikan (IKIP), dan sekarang berubah lagi menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Puisi Saini KM untuk pertama kali dimuat di Siasat pada tahun 1960. Ketika itu ia memperlihatkan karyanya kepada Ajip Rosidi, dan sama sekali tidak berminat mempublikasikannya. Setelah membacanya Ajip berkata bahwa ia akan memberikan puisi itu pada Atun (Ramadhan KH), redaktur Siasat masa itu. Saini KM sendiri tidak tahu puisinya dimuat beberapa waktu kemudian.      

Sumber Tulisan : Majalah Sastra HORISON edisi Mei 2001 
Sumber Foto : http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Saini_K_M 
                     https://80tahunsainikm.com/2018/09/18/berfilsafat-bersama-saini-km/

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta