Saya Mendefinisikan Dunia, dan Dunia Mendefisikan Saya
Oleh : Saini Karnamisastra (Saini KM)
Proses
kreatif seniman, seseorang penyair khususnya, niscaya memiliki persamaan dan
perbedaan dengan proses kreatif seniman atau penyair lainnya. Hakikat proses
kreatif sendiri, seperti hakikat hal-hal lainnya, akan bersifat rahasia. Yang dapat
diungkapkan mungkin hanya pandangan atau pendapat seniman tentang proses
kreatifnya itu, pendapatnya ini pun belum tentu tepat didalam menggambarkan apa
yang sebenarnya terjadi. Kendatipun demikian, betapapun tidak memadainya suatu
uraian tentang proses kreatif, diharapkan sedikitnya akan dapat menerangi
beberapa sisi daripadanya.
Tidaklah
diketahui sejak kapan daya jiwa seseorang, yaitu daya pikir, daya rasa, dan daya
khayalnya, mulai bersinggungan dengan lingkungannya, baik yang bersifat jasmani
maupun jiwani. Yang jelas ialah pada suatu ketika ketiga daya itu secara
kesatuan, sebutlah kesadaran, bersinggungan dengan lingkungan itu, sebutlah
dunia. Persinggungan ini menimbulkan pengaruh terhadap kesadaran, dalam bentuk
kegiatan jiwani. Kegiatan ini dan bekas atau kesan yang ditinggalkannya pada
kesadaran dapat disebut pengalaman.
Di satu
pihak karena jumlah dan sifat pengalamannya, di lain pihak karena temperamennya,
yaitu unsur-unsur kimiawi didalam darahnya, struktur kesadaran seseorang
berbeda dengan struktur kesadaran orang lain. Itulah yang disebut watak yang
senantiasa bersifat amung (unik), seperti daun pada sebatang pohon, tidak
pernah sama satu sama lain. Kehadiran seseorang di dunia ditandai dengan
wataknya yang amung ini.
Watak
seseorang penyair memiliki dua kecenderungan. Disatu pihak ia sangat peka
terhadap lingkungan atau dunianya, di pihak lain ia memiliki dorongan kuat
untuk mengungkapkan pengalamannya, yaitu proses dan hasil persinggungan antara
watak dan dunianya itu. Kepekaan penyair datang dari sifatnya yang lain.
Albert
Camus pernah mengatakan bahwa seniman adalah orang yang tidak berlapang dada
terhadap kenyataan. Ia tidak toleran terhadap realitas. Artinya, setiap kali ia
berhadapan dengan das Sein, ia
melihat das Sollen. Setiap kali ia
menemukan yang nyata, ia membayangkan dan mendambakan yang seharusnya. Itulah sebabnya
seorang penyair gelisah, apakah ketika ia berhadapan dengan objek-objek jasmani
maupun jiwani; apakah ketika ia berhadapan dengan orang lain, benda-benda atau
alam semesta, maupun dengan pengertian-pengertian (konsep-konsep) seperti
keadilan, kebenaran, cinta, Tuhan, kehidupan, kematian dan sebagainya. Kegelisahan
penyair ini dapat pula dikatakan sebagai akibat dari kecenderunganya untuk mengkonfrontasikan
das Sein dengan das Sollen itu, antara kenyataan dan cita-cita. Semakin sengit
konfrontasi itu, semakin gawat kegelisahannya.
Seandainya
ia tidak dapat menemukan jalan keluar dari kegawatan konfrontasi itu, ia akan
menderita neurosia. Katakanlah mungkin
ia akan menjadi sinting. Mereka yang bukan penyair akan tetapi memiliki
kepekaan seperti penyair akan mengataasi kegawatan konfrontasi itu di dalam
berbagai kegiatan. Seorang penyair mengatainya dengan menciptakan karya puisi.
Bagi seorang
penyair, dengan demikian, menulis puisi dapat dianggap sebagai upaya
konsolidasi diri. Artinya, di hadapan ketegangan antara das Sein dan das Sollen
ia mencari tepatnya, mencari kedudukannya. Katakanlah, ia berupaya mendefinisikan
dirinya. Hanya kala ia dapat mendefinisikan dirinya di hadapan berbagai
masalah, yaitu pertentangan antara das
Sein dan das Sollen, ia dapat menemukan ketenangan atau kedamaian. Sedikitnya
sebelum ia berhadapan kembali dengan masalah baru. Dengan demikian, mengalirlah
tinta penyair, tidak habis-habisnya sampai akhir hayatnya; selama kehidupan masih
mengandung masalah atau dunia menyentuh kesadarannya dengan segala yang
mengagumkannya.
Dalam
diri penyair yang proses kreatifnya seperti itu dapatlah diduga, bahwa
karya-karyanya dapat dibandingkan dengan cermin. Pembaca dapat melihat
masalah-masalah, objek-objek melalui kesadaran penyair. Atau sebaliknya,
melalui masalah-masalah atau objek-objek yang ditulis penyair, pembaca akan
melihat sosok pribadi penyair sendiri. Masalah-masalah dan atau objek-objek itu
akan memberikan kesan yang khas, yang berbeda dengan mungkin yang ditemukan
dalam karya penyair lain. Masalah dan objek itu tampak seperti dalam cermin
berwarna atau yang permukaannya tidak terlalu rata. Kekhasan ini, warna lain
ini, datang dari watak penyair yang amung, yang tidak ada duanya. Keamungan inilah
yang memberikan kekaayaan pada pembaca, dengan cara membaca peluang untuk
mengalami dunia secara lain, secara lebih sengit, lebih tajam, lebih mendalam
dan meluas. Mengalami dunia tidak semata-mata dengan pancaindera tau pikiran,
melainkan dengan segenap daya jiwa, bahkan dengan roh.
Dalam
kedudukannya sebagai cermin itulah maka penyair menjadi saksi zamannya. Akan tetapi
karena cermin itu berwarna dan permukaanya memiliki tekstur yang khas, maka
zamannya itu pada gilirannya menjadi saksinya pula. Penyair berkata, saya
menyaksikan zamanku. Namun zamannya pun berkata, aku menyaksikan penyair
berhadapan denganku; ia kutemukan karena ia memilih tempat dan cara tertentu
dalam menyaksikanku.
Dengan
kata lain dapat pula dikatakan, bahwa penyir mendefinisikan dunianya melalui
karya-karyanya, namun tanpa disadarinya pula dalam karya-karyanya itu. Sedikitnya,
itulah yang terjadi dengan diri dan kepenyairan saya.
Sekilas
tentang penulis:
Saini
KM lahir di Sumedang, 16 Juni 1938. Ia berasal dari sebuah keluarga yang kental
dengan kehidupan seni tradisi Sunda. Ayahnya seorang pemain kecapi suling dan
penembang. Susana yang akrab dengan seni tradisi Sunda itu pulalah yang agaknya
membentuk sensitivitas terhadap keindahan bahasa puisi dan menjadi awal dari kesenangannya
membaca dan mendeklamasikan puisi-puisi karya Sanusi Pane, Amir Hamzah, Sitor
Situmorang, dan Rendra.
Kecintaannya
pada puisi semakin besar ketika ia melanjutkan studinya di Jurusan Bahasa
Inggris Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung, kemudian berubah nama
menjadi Institut Keguraun dan Ilmu Pendidikan (IKIP), dan sekarang berubah lagi
menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Puisi
Saini KM untuk pertama kali dimuat di Siasat pada tahun 1960. Ketika itu ia
memperlihatkan karyanya kepada Ajip Rosidi, dan sama sekali tidak berminat
mempublikasikannya. Setelah membacanya Ajip berkata bahwa ia akan memberikan
puisi itu pada Atun (Ramadhan KH), redaktur Siasat masa itu. Saini KM sendiri
tidak tahu puisinya dimuat beberapa waktu kemudian.
Sumber Tulisan : Majalah Sastra HORISON edisi Mei 2001
Sumber Foto : http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Saini_K_M
https://80tahunsainikm.com/2018/09/18/berfilsafat-bersama-saini-km/
Sumber Foto : http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Saini_K_M
https://80tahunsainikm.com/2018/09/18/berfilsafat-bersama-saini-km/



No comments:
Post a Comment