Pertarungan Pangal Melawan
Bayblade
Oleh : Yan Firmansyah
Adit tampak kesal
saat mendengar kabar dari ibunya bahwa ia sekeluarga harus pindah rumah karena Ayahnya
dipindahkan ke kantor cabang di Bogor. Oleh karena itu, otomatis Adit pun harus
pindah dari sekolahnya sekarang dan harus berpisah dengan teman-temannya. Hal
itulah yang membuatnya bertambah kesal.
Seminggu kemudian
setelah ibunya menyampaikan kabar kepindahan keluarganya, seluruh anggota
keluarga Adit sudah selesai mengemas semua barang yang akan dibawa, termasuk
mainan-mainan Adit yang memenuhi tiga kardus coklat besar.
Adit adalah anak semata wayang, ia selalu mendapatkan
mainan apapun yang ia inginkan dari ayah dan ibunya. Dari sekian banyak
mainan Adit, ia paling senang bermain
Bay Blade. Hampir tak pernah ia lupa membawanya kemanapun ia pergi, kecuali ke
sekolah karena sekolahnya melarang murid-murid untuk membawa mainan.
Bay Blade kesayangan Adit adalah sebuah gasing modern
buatan Jepang yang khusus dibelikan oleh pamannya ketika berkunjung ke negeri
sakura itu sebagai oleh-oleh untuk Adit. Jepang memang negara pertama yang
memproduksi Bay Blade dengan kemunculan pertamanya dalam serial anime berjudul
Bay Blade. Selain Jepang, China pun memproduksi Bay Blade dengan harga yang
relatif murah sehingga pada akhirnya Bay Blade buatan China lebih laku di
pasaran dari pada buatan Jepang yang terbilang lebih mahal. Karena hal itulah
Adit merasa bangga dengan Bay Blade kepunyaannya.
***
Setelah pindah,
Adit sekeluarga tinggal di perumahan yang tepat bersebelahan dengan
perkampungan. Rumah Adit tepat berada di sebelah perkampungan itu. Hanya ada
tembok yang tidak terlalu tinggi yang memisahkan rumah Adit dan perkampungan
itu. Tak jauh dari rumah Adit, ada pintu kecil yang bisa digunakan untuk memasuki
perkampungan sebelah rumah Adit.
Dari jendela
kamarnya di lantai dua, Adit bisa melihat lapangan kampung yang setiap sore
harinya selalu dipenuhi anak-anak kampung yang bermain dengan riang gembira.
Dalam hati kecilnya, sebenarnya Adit sangat ingin bisa ikut bermain dengan
mereka. Tapi sifat sombongnya selalu membuatnya berpikir bahwa anak-anak
kampung pasti tidak memiliki mainan seperti yang ia punya, Adit berpikir pasti
anak-anak itu hanya punya mainan kampung seperti layangan atau mobil-mobilan
jelek.
Tiga hari setelah
pindah, orang tua Adit baru selesai mengurus kepindahan sekolah Adit. Adit sudah bisa mulai masuk sekolah. Meski
jarak sekolahnya tak begitu jauh, Adit tetap mau diantarkan supir naik mobil
untuk berangkat ke sekolah, dan ia meminta untuk dijemput kembali oleh supir
sepulang ia sekolah.
***
Saat jam istirahat
di hari pertama Adit sekolah, ia melihat beberapa teman laki-laki sekelasnya
sedang berkerumun di halaman sekolah. Adit penasaran, sebetulnya apa yang
sedang dilakukan teman-teman barunya itu. Ia kemudian mendekati kerumunan itu
dan melihat apa yang sedang dilihat teman-temannya.
“Hey Dit! Mau ikut
main pangal?” sapa Dudung dengan semangat pada Adit.
Tanpa menjawab, Adit hanya memperhatikan benda memutar
yang dikerumuni teman-temannya itu. Setelah lama memperhatikan…“Oooh… gasing”
jawab Adit.
“Ini bukan sembarang gasing Dit, ini gasing keren! Ujang
yang buat nih Dit. Iya kan Jang?” Dudung berkata sambil menepuk bahu Ujang
bangga sementara Ujang hanya tersenyum.
Ujang adalah salah satu teman sekelas Adit di sekolahnya
yang baru. Ia biasa membuat dan menjual mainan pangal pada teman-temannya.
Teman-temannya biasanya memesan terlebih dahulu pada Ujang dan beberapa hari
kemudian Ujang akan membawakan pangal buatannya pada teman yang memesan.
Adit heran, kenapa anak-anak di sekolahnya yang baru
membawa mainan ke sekolah? Tidak seperti di sekolah lamanya yang tidak
memperbolehkan semua siswa membawa
mainan. Kalau ada yang ketahuan pasti akan langsung dirajia guru.
Sontak Adit berkata, “Kok kalian bawa mainan sih? Ga
takut dirajia guru? Terus itu apa tadi
namanya?”
“Pangal Dit. Asal gak dimainin waktu di kelas aja Dit”,
Jawab Dudung.
“Oh iya, pangal, gasing jelek gitu juga! Aku punya yang
jauuuuuuh lebih bagus dari itu di rumah” timpal Adit.
Mendengar ucapan Adit, teman-temannya hanya terdiam,
sedangkan Ujang yang membuat dan menjual pangal itu pada teman-temannya hanya tersenyum
dan tak membalas ucapan Adit yang sebetulnya membuat hatinya tidak enak.
Sepulang sekolah, Adit langsung naik ke kamarnya di
lantai dua. Ia melihat sekumpulan anak-anak sekolah yang masih memakai baju
seragam ada di tanah lapang yang terlihat dari jendela kamarnya. Setelah ia
perhatikan, ternyata mereka adalah teman-teman barunya di sekolah. Tapi tak
lama kemudian mereka pergi berpencar dari lapangan itu. “Mungkin pulang” pikir
Adit.
Karena baru pindah rumah, Adit belum memiliki teman
seperti teman-temannya yang dulu sering main ke rumahnya. Sore hari setelah
selesai mengerjakan PR, Adit melihat kembali ke jendela kamarnya, dan ternyata
teman-teman di sekolah barunya yang tadi siang ia lihat berkumpul di tanah
lapang itu mulai datang satu persatu dengan membawa pangal di tangan mereka.
Ujang dan Dudung teman sekelas Adit juga ada di sana.
Mereka tampak gembira bermain pangal di tanah lapang itu.
“Sebetulnya apa sih serunya main pangal?” mulai muncul
rasa penasaran Adit yang melihat anak-anak di tanah lapang itu, termasuk Ujang
dan Dudung tampak begitu semeringah. Adit terus memperhatikan mereka dari
jendela sambil memegang bay blade kesayangannya.
Tanpa sengaja, Ujang melihat Adit yang sedang
memperhatikan dia dan teman-temannya bermain pangal. Tanpa mengingat kejadian
di sekolah tadi, Ujang berteriak dan memanggil Adit. “Dit, ayo sini ikut main!”
Adit hanya diam dan malah menimpali ajakan Ujang dengan sinis. “Ah, besok saja
aku bawa bay blade ku ke sekolah, biar kalian tau ini jauh lebih keren dari
pangal jelek punya kalian itu!” kemudian ia pun menutup jendela kamarnya.
***
Keesokan harinya di sekolah, saat jam istirahat anak
laki-laki mulai kembali berkerumun di halaman sekolah. Melihat itu, Adit
membawa bay blade dari dalam tasnya dan berlari ke halaman.
“Ujang! Dudung!” Adit memanggil temannya dan berkata
“ini lho bay blade punyaku. Ini dibawakan pamanku dari Jepang”. Pamer Adit pada
teman-temannya.
Dudung mulai tampak sebal mendengar ucapan Adit. Ia
berkata “ah berisik kamu Dit! Belum tentu mainan kamu itu bisa menang melawan
pangal buatan Ujang. Iya kan Jang?” Tanya Dudung sambil menepuk pundak Ujang
seperti biasanya.
“Ah, kamu Dung, ayo Dit kalau kamu mau ikut main, tapi main
pangal ada aturan mainnya Dit! Kita ajarin deeh.., iya kan Dung!”
“Ah kamu ini emang baik, Jang! Jawab Dudung sambil
menggaruk-garuk kepala. “Hehehe..” Adit hanya tertawa kecil.
Ujang kemudian menjelaskan kepada Adit bahwa bermain
pangal terdiri dari dua babak yang dinamakan ngibing dan rarajaan. Ngibing yaitu permainan adu kekuatan berputar, dan rarajaan adalah permainan
dengan menyerang pangal teman. Untuk memulai rarajaan ini, harus diadakan ngibing dulu. Nantinya,
siapa yang pangalnya berhenti duluan disebut pemain kesatu, yang pangalnya
berhenti kedua disebut pemain kedua, dan seterusnya sampai pemain terakhir.
Pemain terakhir inilah yang disebut dengan raja, sedangkan pemain kesatu tadi
disebut bucit.
Dalam rarajaan, bucit yang pertama memutar pangal,
kemudian dibentur oleh pemain kedua. Sesudah pemain kedua membentur pangal
pemain pertama, ditunggu hingga salah satu pangal berhenti atau kalah. Pemain
yang menang kemudian melawan pemain ketiga, begitu seterusnya sampai pemain
terakhir atau raja.
Apabila salah satu pemain menang, maka dia naik posisi
satu tingkat. Misalnya pemain A sebagai pemain kesatu menang dari pemain B
sebagai pemain kedua, maka pemain A menjadi pemain kedua dan pemain B karena
kalah ia menjadi pemain kesatu atau bucit. Sehingga di sesi permainan
berikutnya yang pertama memutar pangal adalah pemain B. Itulah aturan main yang
dijelaskan Ujang pada Adit.
Adit yang tampak seperti tidak menghiraukan penjelaskan
Ujang sebenarnya mendengarkan dan mencoba memahami aturan yang dijelaskan
Ujang. “Ah, sudah, sama saja dengan cara main bay blade! Ayo main!” ajak Adit
tak sabar.
Dimulailah raton di halaman sekolah dengan 6 pemain
termasuk Adit, Ujang dan Dudung, ditambah tiga orang siswa dari kelas lain.
Pada saat bersamaan, dengan aba-aba dari salah seorang murid, seluruh pemain
memutar pangalnya masing-masing. Adit tak kalah bersemangat memutar bay blade
kesayangannya.
Setelah beberapa lama, gasing-gasing mulai terlihat melambat
berputar, hanya dua gasing yang terlihat masih berputar kencang, yaitu pangal
milik Ujang, dan bay blade milik Adit. Permainan di halaman itu menjadi
bertambah seru, ditambah karena anak-anak yang lain pun ikut menonton
pertandingan gasing itu. Suasana menjadi mulai tampak tegang wajah para pemain
pun terlihat tegang.
Saat suasana semakin tegang, satu pangal berhenti
berputar. Ternyata itu adalah pangal milik Dudung. “Aduh!” seru Dudung sembari menepuk jidatnya sendiri.
“Haha….Buciiit!”
teriak Adit tertawa puas.
Setelah pangal milik Dudung berhenti, dua pangal milik
siswa kelas lain ikut berhenti, otomatis mereka menjadi pemain kedua dan
ketiga. Tersisa dua pangal yang masih berputar dan satu bay blade milik Adit.
Adit terus memperhatikan pangal milik Ujang yang masih saja berputar kencang,
sedangkan pangal milik satu siswa lain tampak mulai berputar lamban. Tanpa disangka,
dengan kakinya Adit menarik batu kerikil yang ada di dekatnya. Tanpa dilihat
teman-temannya, Adit menendang batu itu dan melesat mengenai pangal milik
Ujang. Adit segera berlari berpindah tempat agar terlihat batu itu bukan datang
dari arahnya. Prakkk!! Pangal Adit terbentur batu dan berhenti berputar.
“Pemain keempat!” teriak Adit. “Tapi tadi ada batu yang
mengenai pangal Ujang!” jawab Dudung, “Tapi kan pangal Ujang udah berhenti!”
timpal Adit.
“Sudah lah Dung, gak apa-apa juga kan jadi pemain
keempat?” seperti biasanya, Ujang selalu tenang dan mengalah. Tidak seperti
anak-anak seusianya yang lain, Ujang memang sudah belajar untuk bisa lebih
dewasa dalam bersikap. Karena di
keluarganya ia adalah anak sulung dengan tiga orang adik, ditambah
keadaan ekonomi keluarganya yang tak
sebaik Adit, Ujang harus belajar untuk bisa lebih bersabar.
Akhirnya di sesi raton, Aditlah yang menjadi raja atau
pemain terakhir. Sekilas ia tampak senang, namun dalam hati kecilnya ia tetap
mengakui bahwa ia telah curang pada Ujang, dan mengakui mungkin Ujanglah yang
harusnya jadi raja.
“Kamu memang keren Jang, kalah lagi…kalah lagi…aaaah!”
keluh Dudung. Ujang hanya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.
Setelah melawan Dudung, sekarang Ujang harus melawan pemain kelima, dan tanpa
kesulitan, pemain kelimapun bisa ia kalahkan. Itu berarti…ia sekarang harus
melawan bay blade milik Adit.
Adit dan Ujang mulai bersiap-siap. Adit mulai
memasukan pemutar pada lubang di bay bladenya, sementara Ujang mulai menggulung
tali pada pangalnya sebagai pemutar. Kali ini Dudung yang bertugas memberi
aba-aba. “satu…dua…..tiiiiga!!”
Karena Ujang adalah pemain kelima, ia pun sekuat tenaga
menarik tali pangalnya dan melemparkannya ke tengah lapang lebih dulu. Disusul
Adit menarik tuas pemutar bay bladenya dan seketika bay bladenya melesat ke
lapangan dengan kencang mendekati pangal milik Ujang. Bay blade Adit dan pangal
Ujang berbenturan. Namun keduanya masih kuat berputar kencang.
Beberapa saat pangal Ujang dan bay blade Adit menjauh,
namun kembali berputar mendekat dan kembali berbenturan. Di kedua kalinya
benturan ini, pangal Adit terpental ke arah timur namun tetap masih dalam
keadaan berputar. Sementara bay blade milik Adit terpental jauh sekali ke arah
barat dan tanpa ia duga bay bladenya masuk ke gorong-gorong sekolah. Tanpa
pikir panjang, Adit mengejar bay bladenya dan ia turun ke gorong-gorong. Ia
ambil bay blade kesayangannya, namun ketika ia akan naik dari gorong-gorong,
kakinya tersangkut akar pohon yang merambat masuk ke gorong-gorong sekolah.
“Aduh duh apaan ini?!” seru Adit yang kesulitan untuk naik karena tersangkut.
Melihat Adit yang kesulitan untuk naik, Ujang
menghampiri Adit untuk melihat apa yang terjadi. Disusul Dudung dan
teman-temannya yang lain.
“Kamu kenapa Dit?” Tanya Ujang. “Aduuuh kakiku
tersangkut akar Dit, aku paksakan lepas tapi susah” jawab Adit. Sementara ia
tidak bisa melepaskan akar yang menyangkut kakinya dengan tangan karena posisi
Adit yang sudah setengah naik sehingga tangannya harus berpegangan pada sisi
gorong-gorong. Lagipula satu tangannya yang lain memegang bay bladenya yang baru
dia ambil.
“Kita panggil guru saja teman-teman, lagipula siapa yang
mau masuk ke gorong-gorong bau dan kotor itu? Iiih..” ia dan teman-temannya
yang lain tampak jijik. Dua orang murid pun berlari menuju ruang guru.
Sudah cukup lama dua anak tadi pergi, namun belum juga
ada guru yang datang. Adit mulai terlihat kesakitan karena kakinya yang
terjepit. Tiba-tiba Ujang membuka sepatunya. “Hey Jang, kamu mau apa? Jangan
bilang kamu mau turun ya!” Tanya Dudung.
“Kasian Adit, Dung!” jawab Ujang sambil berhati-hati
turun masuk ke gorong-gorong. Adit kaget melihat teman barunya, Ujang, yang
sering ia hina bahkan sudah ia curangi, mau membuka sepatu dan turun untuk
membantu menyingkirkan akar pohon yang membuat kakinya tersangkut.
“Sepatu kamu harus dibuka dulu Dit, gak apa-apa ya Dit?”
Tanya Ujang pada Adit yang terdiam dan sama sekali tidak menyangka dengan
kebaikan Ujang pada dirinya. “Iya Jang, gak apa-apa” jawab Adit pelan. Setelah
membuka sepatu Adit, Ujang kembali mencoba menarik akar yang menyangkut kaki
Adit. Dan akhirnya…kaki Adit terlepas dari akar itu. Segera Adit naik dan
segera mengulurkan tangannya untuk
menarik Ujang naik. Ujang tersenyum dan berkata “terima kasih Dit”.
Setelah keduanya naik, Adit berkata “Aku yang harusnya
berterima kasih, Jang! Dan juga harusnya minta maaf sama kamu, karena aku
selalu meremehkan kamu dan pangalmu Dit. Dan jugaaa.. tadi batu itu….” Belum
selesai Adit berkata, Ujang memotongnya dan berkata “ Aaaah, sudah! Kamu ko
jadi mirip Dudung ya, cerewet!!!!” “Hahahaha.. mereka tertawa, sementara Dudung
hanya tersenyum menampakkan giginya sambil menggaruk-garuk kepala.
Setelah kejadian itu, Adit mulai berteman baik dengan
Ujang, Dudung, dan teman-teman barunya yang lain. Bahkan ia tertarik untuk
belajar membuat pangal pada Adit. Pada akhirnya Adit tidak lagi hanya melihat
teman-temannya main pangal dari jendela kamar, melainkan ia ikut bermain
bersama mereka.



No comments:
Post a Comment