Monday, October 14, 2019

Cerpen : Pertarungan Pangal Melawan Bayblade


Pertarungan Pangal Melawan Bayblade

Oleh : Yan Firmansyah


 
            Adit tampak kesal saat mendengar kabar dari ibunya bahwa ia sekeluarga harus pindah rumah karena Ayahnya dipindahkan ke kantor cabang di Bogor. Oleh karena itu, otomatis Adit pun harus pindah dari sekolahnya sekarang dan harus berpisah dengan teman-temannya. Hal itulah yang membuatnya bertambah kesal.
            Seminggu kemudian setelah ibunya menyampaikan kabar kepindahan keluarganya, seluruh anggota keluarga Adit sudah selesai mengemas semua barang yang akan dibawa, termasuk mainan-mainan Adit yang memenuhi tiga kardus coklat besar.
Adit adalah anak semata wayang, ia selalu mendapatkan mainan apapun yang ia inginkan dari ayah dan ibunya. Dari sekian banyak mainan  Adit, ia paling senang bermain Bay Blade. Hampir tak pernah ia lupa membawanya kemanapun ia pergi, kecuali ke sekolah karena sekolahnya melarang murid-murid untuk membawa mainan.
Bay Blade kesayangan Adit adalah sebuah gasing modern buatan Jepang yang khusus dibelikan oleh pamannya ketika berkunjung ke negeri sakura itu sebagai oleh-oleh untuk Adit. Jepang memang negara pertama yang memproduksi Bay Blade dengan kemunculan pertamanya dalam serial anime berjudul Bay Blade. Selain Jepang, China pun memproduksi Bay Blade dengan harga yang relatif murah sehingga pada akhirnya Bay Blade buatan China lebih laku di pasaran dari pada buatan Jepang yang terbilang lebih mahal. Karena hal itulah Adit merasa bangga dengan Bay Blade kepunyaannya.
***
            Setelah pindah, Adit sekeluarga tinggal di perumahan yang tepat bersebelahan dengan perkampungan. Rumah Adit tepat berada di sebelah perkampungan itu. Hanya ada tembok yang tidak terlalu tinggi yang memisahkan rumah Adit dan perkampungan itu. Tak jauh dari rumah Adit, ada pintu kecil yang bisa digunakan untuk memasuki perkampungan sebelah rumah Adit.
            Dari jendela kamarnya di lantai dua, Adit bisa melihat lapangan kampung yang setiap sore harinya selalu dipenuhi anak-anak kampung yang bermain dengan riang gembira. Dalam hati kecilnya, sebenarnya Adit sangat ingin bisa ikut bermain dengan mereka. Tapi sifat sombongnya selalu membuatnya berpikir bahwa anak-anak kampung pasti tidak memiliki mainan seperti yang ia punya, Adit berpikir pasti anak-anak itu hanya punya mainan kampung seperti layangan atau mobil-mobilan jelek.
            Tiga hari setelah pindah, orang tua Adit baru selesai mengurus kepindahan sekolah Adit.  Adit sudah bisa mulai masuk sekolah. Meski jarak sekolahnya tak begitu jauh, Adit tetap mau diantarkan supir naik mobil untuk berangkat ke sekolah, dan ia meminta untuk dijemput kembali oleh supir sepulang ia sekolah.
***
            Saat jam istirahat di hari pertama Adit sekolah, ia melihat beberapa teman laki-laki sekelasnya sedang berkerumun di halaman sekolah. Adit penasaran, sebetulnya apa yang sedang dilakukan teman-teman barunya itu. Ia kemudian mendekati kerumunan itu dan melihat apa yang sedang dilihat teman-temannya.
            “Hey Dit! Mau ikut main pangal?” sapa Dudung dengan semangat pada Adit.
Tanpa menjawab, Adit hanya memperhatikan benda memutar yang dikerumuni teman-temannya itu. Setelah lama memperhatikan…“Oooh… gasing” jawab Adit.
“Ini bukan sembarang gasing Dit, ini gasing keren! Ujang yang buat nih Dit. Iya kan Jang?” Dudung berkata sambil menepuk bahu Ujang bangga sementara Ujang hanya tersenyum.
Ujang adalah salah satu teman sekelas Adit di sekolahnya yang baru. Ia biasa membuat dan menjual mainan pangal pada teman-temannya. Teman-temannya biasanya memesan terlebih dahulu pada Ujang dan beberapa hari kemudian Ujang akan membawakan pangal buatannya pada teman yang memesan.
Adit heran, kenapa anak-anak di sekolahnya yang baru membawa mainan ke sekolah? Tidak seperti di sekolah lamanya yang tidak memperbolehkan semua siswa  membawa mainan. Kalau ada yang ketahuan pasti akan langsung dirajia guru.
Sontak Adit berkata, “Kok kalian bawa mainan sih? Ga takut dirajia guru? Terus itu apa  tadi namanya?”
“Pangal Dit. Asal gak dimainin waktu di kelas aja Dit”, Jawab Dudung.
“Oh iya, pangal, gasing jelek gitu juga! Aku punya yang jauuuuuuh lebih bagus dari itu di rumah” timpal Adit.
Mendengar ucapan Adit, teman-temannya hanya terdiam, sedangkan Ujang yang membuat dan menjual pangal itu pada teman-temannya hanya tersenyum dan tak membalas ucapan Adit yang sebetulnya membuat hatinya tidak enak.


***
Sepulang sekolah, Adit langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Ia melihat sekumpulan anak-anak sekolah yang masih memakai baju seragam ada di tanah lapang yang terlihat dari jendela kamarnya. Setelah ia perhatikan, ternyata mereka adalah teman-teman barunya di sekolah. Tapi tak lama kemudian mereka pergi berpencar dari lapangan itu. “Mungkin pulang” pikir Adit.
Karena baru pindah rumah, Adit belum memiliki teman seperti teman-temannya yang dulu sering main ke rumahnya. Sore hari setelah selesai mengerjakan PR, Adit melihat kembali ke jendela kamarnya, dan ternyata teman-teman di sekolah barunya yang tadi siang ia lihat berkumpul di tanah lapang itu mulai datang satu persatu dengan membawa pangal di tangan mereka.
Ujang dan Dudung teman sekelas Adit juga ada di sana. Mereka tampak gembira bermain pangal di tanah lapang itu.
“Sebetulnya apa sih serunya main pangal?” mulai muncul rasa penasaran Adit yang melihat anak-anak di tanah lapang itu, termasuk Ujang dan Dudung tampak begitu semeringah. Adit terus memperhatikan mereka dari jendela sambil memegang bay blade kesayangannya.
Tanpa sengaja, Ujang melihat Adit yang sedang memperhatikan dia dan teman-temannya bermain pangal. Tanpa mengingat kejadian di sekolah tadi, Ujang berteriak dan memanggil Adit. “Dit, ayo sini ikut main!” Adit hanya diam dan malah menimpali ajakan Ujang dengan sinis. “Ah, besok saja aku bawa bay blade ku ke sekolah, biar kalian tau ini jauh lebih keren dari pangal jelek punya kalian itu!” kemudian ia pun menutup jendela kamarnya. 
***
Keesokan harinya di sekolah, saat jam istirahat anak laki-laki mulai kembali berkerumun di halaman sekolah. Melihat itu, Adit membawa bay blade dari dalam tasnya dan berlari ke halaman.
“Ujang! Dudung!” Adit memanggil temannya dan berkata “ini lho bay blade punyaku. Ini dibawakan pamanku dari Jepang”. Pamer Adit pada teman-temannya.
Dudung mulai tampak sebal mendengar ucapan Adit. Ia berkata “ah berisik kamu Dit! Belum tentu mainan kamu itu bisa menang melawan pangal buatan Ujang. Iya kan Jang?” Tanya Dudung sambil menepuk pundak Ujang seperti biasanya.
“Ah, kamu Dung, ayo Dit kalau kamu mau ikut main, tapi main pangal ada aturan mainnya Dit! Kita ajarin deeh.., iya kan Dung!”
“Ah kamu ini emang baik, Jang! Jawab Dudung sambil menggaruk-garuk kepala. “Hehehe..” Adit hanya tertawa kecil.
Ujang kemudian menjelaskan kepada Adit bahwa bermain pangal terdiri dari dua babak yang dinamakan ngibing dan rarajaan. Ngibing yaitu permainan adu kekuatan berputar, dan rarajaan adalah permainan dengan menyerang pangal teman. Untuk memulai rarajaan ini, harus diadakan ngibing dulu. Nantinya, siapa yang pangalnya berhenti duluan disebut pemain kesatu, yang pangalnya berhenti kedua disebut pemain kedua, dan seterusnya sampai pemain terakhir. Pemain terakhir inilah yang disebut dengan raja, sedangkan pemain kesatu tadi disebut bucit.
Dalam rarajaan, bucit yang pertama memutar pangal, kemudian dibentur oleh pemain kedua. Sesudah pemain kedua membentur pangal pemain pertama, ditunggu hingga salah satu pangal berhenti atau kalah. Pemain yang menang kemudian melawan pemain ketiga, begitu seterusnya sampai pemain terakhir atau raja.
Apabila salah satu pemain menang, maka dia naik posisi satu tingkat. Misalnya pemain A sebagai pemain kesatu menang dari pemain B sebagai pemain kedua, maka pemain A menjadi pemain kedua dan pemain B karena kalah ia menjadi pemain kesatu atau bucit. Sehingga di sesi permainan berikutnya yang pertama memutar pangal adalah pemain B. Itulah aturan main yang dijelaskan Ujang pada Adit.
Adit yang tampak seperti tidak menghiraukan penjelaskan Ujang sebenarnya mendengarkan dan mencoba memahami aturan yang dijelaskan Ujang. “Ah, sudah, sama saja dengan cara main bay blade! Ayo main!” ajak Adit tak sabar.
Dimulailah raton di halaman sekolah dengan 6 pemain termasuk Adit, Ujang dan Dudung, ditambah tiga orang siswa dari kelas lain. Pada saat bersamaan, dengan aba-aba dari salah seorang murid, seluruh pemain memutar pangalnya masing-masing. Adit tak kalah bersemangat memutar bay blade kesayangannya.
Setelah beberapa lama, gasing-gasing mulai terlihat melambat berputar, hanya dua gasing yang terlihat masih berputar kencang, yaitu pangal milik Ujang, dan bay blade milik Adit. Permainan di halaman itu menjadi bertambah seru, ditambah karena anak-anak yang lain pun ikut menonton pertandingan gasing itu. Suasana menjadi mulai tampak tegang wajah para pemain pun terlihat tegang.   
Saat suasana semakin tegang, satu pangal berhenti berputar. Ternyata itu adalah pangal milik Dudung. “Aduh!”  seru Dudung sembari menepuk jidatnya sendiri. “Haha….Buciiit!” teriak Adit tertawa puas.
Setelah pangal milik Dudung berhenti, dua pangal milik siswa kelas lain ikut berhenti, otomatis mereka menjadi pemain kedua dan ketiga. Tersisa dua pangal yang masih berputar dan satu bay blade milik Adit. Adit terus memperhatikan pangal milik Ujang yang masih saja berputar kencang, sedangkan pangal milik satu siswa lain tampak mulai berputar lamban. Tanpa disangka, dengan kakinya Adit menarik batu kerikil yang ada di dekatnya. Tanpa dilihat teman-temannya, Adit menendang batu itu dan melesat mengenai pangal milik Ujang. Adit segera berlari berpindah tempat agar terlihat batu itu bukan datang dari arahnya. Prakkk!! Pangal Adit terbentur batu dan berhenti berputar.
“Pemain keempat!” teriak Adit. “Tapi tadi ada batu yang mengenai pangal Ujang!” jawab Dudung, “Tapi kan pangal Ujang udah berhenti!” timpal Adit.
“Sudah lah Dung, gak apa-apa juga kan jadi pemain keempat?” seperti biasanya, Ujang selalu tenang dan mengalah. Tidak seperti anak-anak seusianya yang lain, Ujang memang sudah belajar untuk bisa lebih dewasa dalam bersikap. Karena di  keluarganya ia adalah anak sulung dengan tiga orang adik, ditambah keadaan ekonomi keluarganya yang  tak sebaik Adit, Ujang harus belajar untuk bisa lebih bersabar.
Akhirnya di sesi raton, Aditlah yang menjadi raja atau pemain terakhir. Sekilas ia tampak senang, namun dalam hati kecilnya ia tetap mengakui bahwa ia telah curang pada Ujang, dan mengakui mungkin Ujanglah yang harusnya jadi raja. 


Rarajaan pun segera dimulai, satu persatu pangal mulai melawan pangal yang lainnya sesuai urutan tadi pada saat ngibing. Dudung yang tadinya menjadi bucit mampu  mengalahkan dua temannya sehingga menjadi pemain ketiga, namun saat harus melawan pemain keempat yaitu Ujang, pangal Dudung terpental kalah.
“Kamu memang keren Jang, kalah lagi…kalah lagi…aaaah!” keluh Dudung. Ujang hanya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu. Setelah melawan Dudung, sekarang Ujang harus melawan pemain kelima, dan tanpa kesulitan, pemain kelimapun bisa ia kalahkan. Itu berarti…ia sekarang harus melawan bay blade milik Adit.
   Adit dan Ujang mulai bersiap-siap. Adit mulai memasukan pemutar pada lubang di bay bladenya, sementara Ujang mulai menggulung tali pada pangalnya sebagai pemutar. Kali ini Dudung yang bertugas memberi aba-aba. “satu…dua…..tiiiiga!!”
Karena Ujang adalah pemain kelima, ia pun sekuat tenaga menarik tali pangalnya dan melemparkannya ke tengah lapang lebih dulu. Disusul Adit menarik tuas pemutar bay bladenya dan seketika bay bladenya melesat ke lapangan dengan kencang mendekati pangal milik Ujang. Bay blade Adit dan pangal Ujang berbenturan. Namun keduanya masih kuat berputar kencang.
Beberapa saat pangal Ujang dan bay blade Adit menjauh, namun kembali berputar mendekat dan kembali berbenturan. Di kedua kalinya benturan ini, pangal Adit terpental ke arah timur namun tetap masih dalam keadaan berputar. Sementara bay blade milik Adit terpental jauh sekali ke arah barat dan tanpa ia duga bay bladenya masuk ke gorong-gorong sekolah. Tanpa pikir panjang, Adit mengejar bay bladenya dan ia turun ke gorong-gorong. Ia ambil bay blade kesayangannya, namun ketika ia akan naik dari gorong-gorong, kakinya tersangkut akar pohon yang merambat masuk ke gorong-gorong sekolah. “Aduh duh apaan ini?!” seru Adit yang kesulitan untuk naik karena tersangkut.
Melihat Adit yang kesulitan untuk naik, Ujang menghampiri Adit untuk melihat apa yang terjadi. Disusul Dudung dan teman-temannya yang lain.
“Kamu kenapa Dit?” Tanya Ujang. “Aduuuh kakiku tersangkut akar Dit, aku paksakan lepas tapi susah” jawab Adit. Sementara ia tidak bisa melepaskan akar yang menyangkut kakinya dengan tangan karena posisi Adit yang sudah setengah naik sehingga tangannya harus berpegangan pada sisi gorong-gorong. Lagipula satu tangannya yang lain memegang bay bladenya yang baru dia ambil.
“Kita panggil guru saja teman-teman, lagipula siapa yang mau masuk ke gorong-gorong bau dan kotor itu? Iiih..” ia dan teman-temannya yang lain tampak jijik. Dua orang murid pun berlari menuju ruang guru.
Sudah cukup lama dua anak tadi pergi, namun belum juga ada guru yang datang. Adit mulai terlihat kesakitan karena kakinya yang terjepit. Tiba-tiba Ujang membuka sepatunya. “Hey Jang, kamu mau apa? Jangan bilang kamu mau turun ya!” Tanya Dudung.
“Kasian Adit, Dung!” jawab Ujang sambil berhati-hati turun masuk ke gorong-gorong. Adit kaget melihat teman barunya, Ujang, yang sering ia hina bahkan sudah ia curangi, mau membuka sepatu dan turun untuk membantu menyingkirkan akar pohon yang membuat kakinya tersangkut.
“Sepatu kamu harus dibuka dulu Dit, gak apa-apa ya Dit?” Tanya Ujang pada Adit yang terdiam dan sama sekali tidak menyangka dengan kebaikan Ujang pada dirinya. “Iya Jang, gak apa-apa” jawab Adit pelan. Setelah membuka sepatu Adit, Ujang kembali mencoba menarik akar yang menyangkut kaki Adit. Dan akhirnya…kaki Adit terlepas dari akar itu. Segera Adit naik dan segera  mengulurkan tangannya untuk menarik Ujang naik. Ujang tersenyum dan berkata “terima kasih Dit”.
Setelah keduanya naik, Adit berkata “Aku yang harusnya berterima kasih, Jang! Dan juga harusnya minta maaf sama kamu, karena aku selalu meremehkan kamu dan pangalmu Dit. Dan jugaaa.. tadi batu itu….” Belum selesai Adit berkata, Ujang memotongnya dan berkata “ Aaaah, sudah! Kamu ko jadi mirip Dudung ya, cerewet!!!!” “Hahahaha.. mereka tertawa, sementara Dudung hanya tersenyum menampakkan giginya sambil menggaruk-garuk kepala.
Setelah kejadian itu, Adit mulai berteman baik dengan Ujang, Dudung, dan teman-teman barunya yang lain. Bahkan ia tertarik untuk belajar membuat pangal pada Adit. Pada akhirnya Adit tidak lagi hanya melihat teman-temannya main pangal dari jendela kamar, melainkan ia ikut bermain bersama mereka.

 

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta