Proyeksi Pendidikan Abad Ke-21
Oleh: Prof. DR. H. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D.

Berbicara
tentang pendidikan adalah berbicara tentang masa depan. Pendidikan adalah
tentang menyiapkan generasi baru. Pendidikan bukanlah membentuk, tapi
pendidikan adalah menumbuhkan. Karena ia menumbuhkan, maka hal yang pundamental
yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan juga iklim yang baik.
Kalau
kita bayangkan anak-anak itu sebagai bibit (biji), maka biji itu tidak
kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, dan tidak kelihatan daunnya
karena ia masih biji. Sehebat apaun sebuah biji, maka tidak akan kelihatan
semua komponennya. Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh berkembang,
maka akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat buahnya, akan
terlihat bunganya. Tapi saat itu masih berupa biji belum terlihat. Kadang
kala kita melihat biji seperti melihat tanaman yang begitu lengkap. Lalu kita
ingin biji ini punya semuanya. Punya bunga dan lainnya. Tentu tidak bisa.
Untuk
menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu memerlukan waktu, memerlukan proses
penumbuhan. Biji yang baik juga menumbuhkan lahan yang subur. Dimana lahan yang
subur itu? Di antaranya: (1) Di rumah. Rumahnya harus menjadi lahan yang subur.
(2) Di sekolah, dan (3) Di antara rumah dan sekolah, yaitu di lingkungannya.
Oleh
karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan maka bayangkan seperti kita
menumbuhkan biji itu. Karena itu saya sering mengatakan jangan katakan kata
membentuk, apalagi kalau akhlaq. Akhlaq itu ditumbuhkan sedangkan karakter itu
ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.
Dulu
saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman yang satu
ditanam dekat matahari, yang satu jauh dari matahari. Beloknya beda bukan?
Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama, arah tumbuhannya sama tidak? Maka
jawabannya tidak sama. Jadi kita mau belok kanan-belok kiri itu bukan daunnya
yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda. Cuacanya diatur, lokasinya
diatur. Karena itu mengelola sebuah institusi pendidikan itu adalah mengelola
rekayasa.
Sebagai
contoh, di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi anak yang individualis
atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya. Misalnya sebuah keluarga dengan
empat anak. Kita buat setiap kamar ada kamar mandinya agar semuanya rapi bersih
semua. Kamar mandi didalam kamar. Sementara keluarga yang lain, dengan emat
anak juga memiliki rumah dengan kamar mandi satu, di luar kamar. Maka apa yang
terjadi?
Keluarga
yang pertama anak-anaknya tumbuh individualis. Semuanya diselesaikan sendiri.
Keluar kamar semuanya sudah bersih. Sedangkan keluarga kedua, anak-anak tiap
hari rebutan. Ada yang sikatannya lama, ada yang sering samponya ketinggalan.
Mereka akat tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga pertama.
Oleh
karena itu, jangan bayangkan bahwa pendidikan itu sesuatu yang tertulis,
dibaca, dihafalkan, lalu diuji. Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan.
Jadi kita bisa merancang anak kita sesuai skenario yang kita buat. Karena itu
kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendidikan adalah bagaimana membuat
aturan main yang membentuk perilaku.
Saya
berharap kita yang bergerak dalam bidang pendidikan memikirkan rekayasa itu.
Sekolah kita saat ini. Anaknya abad ke 21, gurunya abad ke 20, ruang kelasnya
abad ke 19. Kalau mau memikirkan tentang sekolah dan pendidikan, maka
pikirkanlah masa depan. Umat islam gagal atau berhasil bukan masalah mampu dan
tidak mampu, tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan. Ini PR nya.
Karena
itu, bila mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang tidak boleh lihat hari
ini. Bijinya nanti dinilai kalau sudah tumbuh baru akan nampak dan bisa
dinilai, biji, daunnya, dan batangnnya. Jangan terlalu puas dengan penilaian
hari ini. Penilaiannya besok, karena inilah proses penumbuhan. Sehingga kami berhara
anda yang mengelola bidang pendidikan jangan puas dengan ukuran hari ini dan
siapkan masa depan.
Dalam
proyeksi pendidikan abad 21 ada tiga kompone yang mendasar yakni: (1)
Karakter/akhlaq meliputi karakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati) dan
karakter kinerja (ulet, kerjakeras, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas): (2)
Kometensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif/kerjasama) (3)
Literasi/keterbukaan wawasan (baca, budaya, teknologi, keuangan).
Di
masa sekarang ini, dalam setiap ujian anak-anak disuruh menjawab pertanyaan
disebuah kertas. Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa
pertanyaan. Tukang pos bersaing dengan teknologi: WA, email. Profesi hari ini
belum tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada anak-anak besok
mau membuat apa. Jangan bertanya mau jadi apa. Pengelola pendidikan jangan
terpukau dengan cerita masa lalu, tapi gelisahlah dengan keadaan masa depan.
Kemenangan itu disiapkan di ruang keluarga dan di ruang kelas.

