Pendidikan
Karakter Sepanjang Hayat
Oleh: Yan
Firmansyah, M.Pd
Terdapat beberapa istilah setara yang
sering digunakan untuk pendidikan karakter. Pendidikan akhlak,
yang menggunakan pendekatan keagamaan dengan bersumber dari Al-Qur’an. Pendidikan budi
pekerti yang menggunakan pendekatan kultural yang bersumber dari masyarakat. Pendidikan moral,
dengan pendekatan filosofisnya dan bersumber dari hati nurani. Serta istilah pendidikan karakter itu
sendiri yang menggunakan pendekatan psikologis yang bersumber dari ilmu
pengetahuan.
Terlepas dari apapun istilah yang
digunakan, pendidikan karakter merupakan akar dari pembentukan pribadi yang
harus dipelajari peserta didik, bukan untuk diajarkan hanya dengan beberapa jam
dalam ruang kelas. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk membentuk karakter
seseorang, terlebih sesuai dengan nilai yang berlaku dan diakui sebagai
kebenaran.
Seperti asal kata “karakter” itu
sendiri yang berasal dari bahasa Yunani yaitu charassein yang
kemudian dialihbahasakan dalam bahasa Inggris menjadi to engrave, yang
memiliki arti mengukir di atas batu permata atau besi yang keras.
Melalui pendidikan karakter,
diharapkan seorang guru dapat membantu peserta didiknya untuk memiliki
sifat-sifat kejiwaan dan akhlak atau budi pekerti yang membedakan dirinya
dengan orang lain. Hingga ia bisa menentukan nilai yang akan ia pegang sebagai
dasar segala bentuk tindakannya.
Sebelum melaksanakan pendidikan
karakter, baik adanya apabila seorang guru terlebih dahulu memeriksa dirinya
sendiri mengenai karakter apa yang ia miliki, nilai seperti apa yang tertanam
dalam dirinya hingga menjadi alasan untuknya bertindak dan ia tahu apa yang
akan ia ajarkan pada peserta didiknya.
Mencuri, mencontek, bersikap curang,
berkata kasar, atau menyakiti teman, nilai-nilai itukah yang dianggap benar?
Sebaliknya berkata jujur, menepati janji, saling memberi, menyayangi teman atau
bersikap rajinkah yang dianggap salah? Terkadang masih perlu perenungan untuk
menjawab hal itu, karena selalu ada sisi berbeda yang mungkin justru di situlah
letak dari kebenaran.
Kebenaran itu terlalu luas, sementara
kemampuan manusia amatlah terbatas. Ranah guru dalam pendidikan karakter
bukanlah menentukan muridnya harus memiliki satu karakter yang guru inginkan,
melainkan memiliki karakter yang memiliki nilai kebenaran. Melalui beragam
lembaga kebenaran yaitu agama, filsafat, atau ilmu pengetahuanlah kebenaran itu
dapat diperoleh dengan kurun waktu pencarian sepanjang hayat.
Sepanjang sejarah manusia (termasuk
guru), adalah untuk mencari kebenaran yang menjadi landasan karakter yang
dimilikinya. Bukan suatu sikap yang arif manakala seorang guru merasa bahwa
dirinya sudah benar dalam segala hal. Gurulah yang harus pertama memberi contoh
bahwa ia bukanlah orang yang sudah baik dan benar melainkan orang yang terus
berusaha untuk baik dan benar.
Sikap real yang
dapat ditunjukkan oleh guru sebagai perwujudan hal tersebut adalah kemauan,
sikap, dan tindakan untuk terus mau belajar, memperbaiki dirinya dan segala hal
yang dilakukannya. Adapun upaya perbaikan tersebut teruslah berlangsung selama
masih berlangsungnya hidup.
Bukan hal yang tidak mungkin suatu
konsep dalam pendidikan karakter yang ditanamkan guru kepada murid mengalami
perubahan. Nilai sebagai bahan pendidikan karakter merupakan sesuatu yang
diperlu dipelajari hingga menjadi suatu keyakinan tertentu yang dijadikan acuan
berprilaku.
Seperti yang diungkap Hakam, K.
A. (2007) salah satu pakar pendidikan karakter Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam
bukunya Pengantar
pendidikan nilai. Menyebutkan bahwa nilai merupakan kapasitas
manusia yang dapat diwujudkan dalam bentuk gagasan atau konsep, kondisi
psikologis atau tindakan yang berharga (nilai subjek), serta berharganya sebuah
gagasan atau konsep, kondisi psikologis atau tindakan (nilai objek) berdasarkan
standar agama, filsafat (etika dan estetika), serta norma-norma masyarakat
(rujukan nilai) yang diyakini oleh individu sehingga menjadi dasar untuk
menimbang, bersikap, berperilaku bagi individu dalam kehidupan pribadi maupun
bermasyarakat (value
system).
Dengan demikian, salah satu kunci
dalam pendidikan karakter yang harus dipegang oleh seorang guru adalah
kemampuan untuk terus membuka diri mencari nilai-nilai kebenaran. Dengan
konsekuensi tugas guru yang satu ini adalah tugas yang tidak akan ada akhirnya
selain dengan berakhirnya waktu untuk hidup dunia. Karena waktu untuk mencari
kebenaran adalah sepanjang sejarah manusia.


No comments:
Post a Comment