Saturday, September 8, 2018

PENDIDIKAN KARAKTER SEPANJANG HAYAT


Pendidikan Karakter Sepanjang Hayat
Oleh: Yan Firmansyah, M.Pd



Terdapat beberapa istilah setara yang sering digunakan untuk pendidikan karakter. Pendidikan akhlak, yang menggunakan pendekatan keagamaan dengan bersumber dari Al-Qur’an. Pendidikan budi pekerti yang menggunakan pendekatan kultural yang bersumber dari masyarakat. Pendidikan moral, dengan pendekatan filosofisnya dan bersumber dari hati nurani. Serta istilah pendidikan karakter itu sendiri yang menggunakan pendekatan psikologis yang bersumber dari ilmu pengetahuan.

Terlepas dari apapun istilah yang digunakan, pendidikan karakter merupakan akar dari pembentukan pribadi yang harus dipelajari peserta didik, bukan untuk diajarkan hanya dengan beberapa jam dalam ruang kelas. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk membentuk karakter seseorang, terlebih sesuai dengan nilai yang berlaku dan diakui sebagai kebenaran.

Seperti asal kata “karakter” itu sendiri yang berasal dari bahasa Yunani yaitu charassein yang kemudian dialihbahasakan dalam bahasa Inggris menjadi to engrave, yang memiliki arti mengukir di atas batu permata atau besi yang keras.

Melalui pendidikan karakter, diharapkan seorang guru dapat membantu peserta didiknya untuk memiliki sifat-sifat kejiwaan dan akhlak atau budi pekerti yang membedakan dirinya dengan orang lain. Hingga ia bisa menentukan nilai yang akan ia pegang sebagai dasar segala bentuk tindakannya.

Sebelum melaksanakan pendidikan karakter, baik adanya apabila seorang guru terlebih dahulu memeriksa dirinya sendiri mengenai karakter apa yang ia miliki, nilai seperti apa yang tertanam dalam dirinya hingga menjadi alasan untuknya bertindak dan ia tahu apa yang akan ia ajarkan pada peserta didiknya.

Mencuri, mencontek, bersikap curang, berkata kasar, atau menyakiti teman, nilai-nilai itukah yang dianggap benar? Sebaliknya berkata jujur, menepati janji, saling memberi, menyayangi teman atau bersikap rajinkah yang dianggap salah? Terkadang masih perlu perenungan untuk menjawab hal itu, karena selalu ada sisi berbeda yang mungkin justru di situlah letak dari kebenaran.

Kebenaran itu terlalu luas, sementara kemampuan manusia amatlah terbatas. Ranah guru dalam pendidikan karakter bukanlah menentukan muridnya harus memiliki satu karakter yang guru inginkan, melainkan memiliki karakter yang memiliki nilai kebenaran. Melalui beragam lembaga kebenaran yaitu agama, filsafat, atau ilmu pengetahuanlah kebenaran itu dapat diperoleh dengan kurun waktu pencarian sepanjang hayat.

Sepanjang sejarah manusia (termasuk guru), adalah untuk mencari kebenaran yang menjadi landasan karakter yang dimilikinya. Bukan suatu sikap yang arif manakala seorang guru merasa bahwa dirinya sudah benar dalam segala hal. Gurulah yang harus pertama memberi contoh bahwa ia bukanlah orang yang sudah baik dan benar melainkan orang yang terus berusaha untuk baik dan benar.

Sikap real yang dapat ditunjukkan oleh guru sebagai perwujudan hal tersebut adalah kemauan, sikap, dan tindakan untuk terus mau belajar, memperbaiki dirinya dan segala hal yang dilakukannya. Adapun upaya perbaikan tersebut teruslah berlangsung selama masih berlangsungnya hidup.

Bukan hal yang tidak mungkin suatu konsep dalam pendidikan karakter yang ditanamkan guru kepada murid mengalami perubahan. Nilai sebagai bahan pendidikan karakter merupakan sesuatu yang diperlu dipelajari hingga menjadi suatu keyakinan tertentu yang dijadikan acuan berprilaku.

Seperti yang diungkap Hakam, K. A. (2007) salah satu pakar pendidikan karakter Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dalam bukunya Pengantar pendidikan nilai. Menyebutkan bahwa nilai merupakan kapasitas manusia yang dapat diwujudkan dalam bentuk gagasan atau konsep, kondisi psikologis atau tindakan yang berharga (nilai subjek), serta berharganya sebuah gagasan atau konsep, kondisi psikologis atau tindakan (nilai objek) berdasarkan standar agama, filsafat (etika dan estetika), serta norma-norma masyarakat (rujukan nilai) yang diyakini oleh individu sehingga menjadi dasar untuk menimbang, bersikap, berperilaku bagi individu dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat (value system).

Dengan demikian, salah satu kunci dalam pendidikan karakter yang harus dipegang oleh seorang guru adalah kemampuan untuk terus membuka diri mencari nilai-nilai kebenaran. Dengan konsekuensi tugas guru yang satu ini adalah tugas yang tidak akan ada akhirnya selain dengan berakhirnya waktu untuk hidup dunia. Karena waktu untuk mencari kebenaran adalah sepanjang sejarah manusia.


No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta