Sunday, September 2, 2018

HATI-HATI PENDIDIKAN INDIVIDUALISME


Hati-Hati Pendidikan Individualisme
Oleh: Yan Firmansyah, M.Pd


Pendidikan, bukan istilah asing yang kerap menjadi sasaran yang disalahkan untuk beragam masalah yang terjadi di sebuah negeri. Proses jangka panjang yang hasilnya pun hanya akan terlihat dalam jangka waktu panjang. Proses yang dengan rutin melakukan hal-hal kecil di setiap harinya, namun sangat mungkin mengakibatkan masalah besar dalam hitungan beberapa tahun setelahnya. Peranan dan keadaan masyarakat saat inipun menjadi tolak ukur berhasil atau tidaknya usaha yang dilakukan para pendidik dalam prosesnya.

Peranan manusia sebagai makhluk sosial, merupakan salah satu peran dari sekian banyak peran manusia yang menjadi tanggung jawab pendidik dalam setiap proses pembelajarannya. Namun bukan tidak mungkin seorang pendidik malah memberikan sumbangsih hilangnya peranan manusia sebagai makhluk sosial dan memicu paham individualisme.

Seperti yang dikemukakan Spiro (1951), paham individualisme adalah pengakuan tentang “prioritas pada individu yang dipandang lebih utama secara kronologis maupun moralitas. Seluruh nilai berasal dari individu dan akhirnya diekspresikan dalam masyarakat yang lebih luas.” 

Istilah sosial yang identik dengan ketertarikan minat memperhatikan kepentingan di luar kepentingan pribadi agaknya mulai tampak dengan wajah yang sedikit berbeda. Benarlah bahwa kesejahteraan suatu negara akan dimulai dari sejahteranya hidup masing-masing individu yang mendiami negara tersebut. Tapi itu bukanlah sesuatu yang patut terus diperjuangkan tanpa batas, hingga manusia itu lupa bahwa ia pun memiliki kewajiban atas manusia lainnya.

Di kota-kota besar, katakanlah Jakarta. Setiap harinya, ada berapa banyak orang yang menggunakan mobil pribadi untuk berangkat ke tempatnya bekerja? Berapa orang yang ada dalam mobil pribadinya? Bisa jadi hanya ia sendiri, atau hanya ditambah satu orang sopir. Jika satu mobil hanya ditumpangi dua orang, maka sebenarnya secara tidak langsung ia telah memilih kenyamanan pribadinya, dan yang dikorbankan adalah kenyamanan umum, karena kemacetan dan polusi yang ditimbulkannya adalah dua hal yang sudah pasti akan diakui sebagai ketidaknyamanan umum.

Kendaraan roda dua yang kian menjamur juga salah satu hal yang dapat dijadikan indikasi bahwa sedapat mungkin masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan pribadinya dan nyaris melupakan apa yang dapat ia sumbangkan untuk kepentingan umum. Memang bukan hal yang dapat dipersalahkan, karena di sisi lain, ada hal yang juga perlu dikedepankan, kebutuhan menafkahi keluarga misalnya.

Contoh lain adalah  pihak yang mengambil keuntungan dari kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan belakangan ini. Kebakaran hutan yang diduga merupakan kesengajaan untuk membuka lahan yang akan digunakan untuk menanam kelapa sawit telah menimbulkan bencana dan kerugian untuk banyak orang akibat kabut asap yang masih belum dapat ditangani.

Lahan yang dibuka dengan pembakaran hutan jelas lebih menguntungkan para pengusaha kelapa sawit, dengan kisaran beda harga beli dan jual yang tinggi (BBCNews.com 25/10/15). Menguntungkan segelintir orang, namun merugikan untuk sekian ribu orang yang terkena penyakit gangguan paru-paru atau sejenisnya.

Satu contoh sederhana lainnya adalah masalah sampah yang berakibat pada bencana banjir. Pengendara mobil kerap ingin menjaga kebersihan kendaraannya, namun sama sekali tidak memperhatikan kebersihan lingkungan dengan melempar sampah ke pinggiran jalan. Ibu rumah tangga yang ingin menjaga kebersihan rumahnya dengan menyediakan tempat samah di dalam rumah, namun setelah sampah terkumpul, dibuangnya ke aliran sungai.

Apabila sikap-sikap hidup individualisme tersebut terus berkembang, dan peranan makhluk sosial semakin terlupakan, bukan tidak mungkin kelak Jakarta akan menjadi ibukota dari salah satu negara yang menganut paham individualisme. Diikuti oleh lunturnya nilai-nilai gotong royong, saling menolong, dan nilai lainnya yang menjadi budaya bangsa Indonesia.

Pantas kiranya menjadi pertanyaan bagi para pendidik (termasuk orang tua), “Adakah sesuatu yang salah dari pendidikan sehingga menghasilkan output atau lulusan-lulusan yang mengedepankan nilai-nilai individualisme daripada nilai-nilai sosial?

Sulitnya mencapai kesejahteraan hidup terkadang memang menjadi masalah yang berakhir pada mengutamakan kepentingan pribadi dibanding dengan mengutamakan kepentingan umum. Mungkin inilah yang disebut oleh salah satu tokoh kontrak sosial bernama Thomas Hobbes dengan teorinya homo homini lupus, yang berarti manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Melalui teorinya, moralitas dianggap sebagai kelayakan relative, sehingga moral dianggap sebagai sesuatu yang boleh ada dan boleh juga tidak untuk memenuhi segala kebutuhan dan kenyamanan pribadi.

Pendidikan sosial bukan lagi sesuatu yang hanya dianggap sebagai sebuah pengajaran yang mengajari peserta didik untuk mampu bersosialisasi dengan orang lain, melainkan ada tanggung jawab moral yang terkandung di dalamnya. Pendidikan sosial bukan hanya soal bagaimana peserta didik memiliki banyak teman, melainkan memfasilitasi mereka untuk memahami bagaimana cara, untuk apa, dan dengan siapa mereka berteman.

Bahkan apabila dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional dalam undang-undang No. 20 tahun 2003, pendidikan sosial tidak sedikitpun mengarah pada paham individualism, melainkan bertujuan agar peserta didik memiliki sikap: (a) Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) cerdas dan terampil, (c) berbudi pekerti yang luhur, (d) memiliki kepribadian yang kuat, dan (e) memiliki semangat kebangsaan dan cinta tanah air.


No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta