Peranan
yang amat penting dalam belajar adalah motivasi. Menurut Maslow (1984)
dengan teori kebutuhannya, menjelaskan bahwa hubungan
hirarkhis dan berbagai kebutuhan pada ranah kebutuhan pertama merupakan
dasar
untuk mentimbulkan kebutuhan berikutnya. Menurutnya apabila kebutuhan
yang pertama sudah terpenuhi dan terpuaskan,
maka barulah manusia akan mulai timbul keinginan untuk memuaskan
kebutuhan yang berikutnya.
Dengan kata lain, pada situasi tertentu hasrat manusia akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih, misalnya orang ingin makan bukan karena ia lapar akan tetapi karena ia memiliki kebutuhan lain yang mendorongnya. oleh sebab itu, jika suatu kebutuhan telah terpenuhi dan perpuaskan, hal tersebut tidak berarti bahwa kebutuhan itu tidak akan muncul kembali untuk selamanya, akan tetapi kepuasan itu berlaku hanya untuk sementara waktu saja.
Menurut Maslow (1984), Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan tersebut. Aplikasinya pada dunia belajar disekolah, siswa atau peserta didik yang lapar dan haus dalam belajar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Namun biasanya setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi dalam dirinya, maka biasanya akan meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman.
Misalnya ketika seorang siswa yang merasa terancam atau dengan kata lain dikucilkan oleh lingkungannya baik oleh teman-temannya mapun gurunya, maka siswa tersebut tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Contoh tersebut menggambarkan ada suatu kebutuhan yang biasa disebut harga diri, yaitu kebutuhan ingin merasa dipentingkan dan dihargai dilingkungannya.
Seseorang dalam hal ini siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan termotivasi memiliki rasa percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu dan bisa, dan merasa berguna dalam hidupnya karena diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Kebutuhan yang paling utama dalam diri seseorang adalah apabila seluruh kebutuhan seseorang sudah terpenuhi maka dia akan merasa bebas dan percaya diri dalam menampilkan seluruh potensinya secara penuh tanpa ada sedikitpun rasa ragu.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing di sekolah harus betul-betul memahami apa yang diinginkan oleh siswanya. Misalnya kebutuhan untuk berprestasi. Banyak siswa atau peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Mereka sering takut gagal dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mau menanggung dan menghadapi resiko dalam mencapai prestasi belajar yang mereka harapkan. Akan tetapi sebenarnya banyak pula siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dalam berprestasi.
Siswa cenderung memiliki motivasi berprestasi tinggi manakala keinginannya untuk meraih harapannya berasal dari dalam dirinya sendiri. Mereka akan bekerja keras dengan segenap kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam dirinya meskipun mesti bersaing dengan siswa lain.
Siswa secara umum memiliki pemahaman tentang dirinya sendiri, begitu juga mereka mengerti tentang kemampuannya sendiri. Oleh karena itu, mereka yang memiliki kemampuan yang lebih biasanya akan termotivasi dengan baik dalam dirinya, akan tetapi sebaliknya siswa yang tidak merasa mempunyai kemampuan dia akan merasa minderan. Sehingga ini akan sangat mempengaruhi kegiatan belajarnya.
Gambaran ini mulai terbentuk ketika siswa atau individu belajar melalui berinteraksi dengan orang lain, misalnya keluarga dan teman sebayanya maupun orang dewasa diluar contoh tadi. Hal ini jelas akan mempengaruhi prestasi belajar siswa tersebut di sekolah.
Berdasarkan acuan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa siswa datang ke sekolah sudah memahami bagaimana dirinya, yang sudah terbentuk dengan sendrinya. Akan tetapi, guru tetap dapat mempengaruhi dan membimbingnya dengan tujuan supaya tercapai gambaran tentang masing-masing siswa yang lebih positif dan lebih baik lagi.
Yang diharapkan dalam situasi di kelas dalam belajar yaitu guru tidak boleh terlalu banyak mengkritik, mencela, bahkan merendahkan kemampuan siswa, karena dengan itu siswa akan cenderung menilai diri rendah dan merasa tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini akan berakibat pada perkembangan siswa baik secara psikologis maupun kognitifnya.
Sebaliknya jika guru memberikan penghargaan yang bersifat membangaun motivasi belajar siswa dapat meningkat, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan tersebut untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar.
Dorongan tersebut dapat berupa dorongan intelektual mapun dorongan emosional. Dorongan intelektual adalah dorongan untuk memotivasi keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan termasuk ke dalam kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi secara penuh.
Daftar Pustaka :
Maslow, Abraham H. (1984). Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi dengan Ancangan Hirarki Kebutuhan Manusia. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.
Dengan kata lain, pada situasi tertentu hasrat manusia akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih, misalnya orang ingin makan bukan karena ia lapar akan tetapi karena ia memiliki kebutuhan lain yang mendorongnya. oleh sebab itu, jika suatu kebutuhan telah terpenuhi dan perpuaskan, hal tersebut tidak berarti bahwa kebutuhan itu tidak akan muncul kembali untuk selamanya, akan tetapi kepuasan itu berlaku hanya untuk sementara waktu saja.
Menurut Maslow (1984), Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan tersebut. Aplikasinya pada dunia belajar disekolah, siswa atau peserta didik yang lapar dan haus dalam belajar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Namun biasanya setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi dalam dirinya, maka biasanya akan meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman.
Misalnya ketika seorang siswa yang merasa terancam atau dengan kata lain dikucilkan oleh lingkungannya baik oleh teman-temannya mapun gurunya, maka siswa tersebut tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Contoh tersebut menggambarkan ada suatu kebutuhan yang biasa disebut harga diri, yaitu kebutuhan ingin merasa dipentingkan dan dihargai dilingkungannya.
Seseorang dalam hal ini siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan termotivasi memiliki rasa percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu dan bisa, dan merasa berguna dalam hidupnya karena diterima dan dihargai oleh lingkungannya. Kebutuhan yang paling utama dalam diri seseorang adalah apabila seluruh kebutuhan seseorang sudah terpenuhi maka dia akan merasa bebas dan percaya diri dalam menampilkan seluruh potensinya secara penuh tanpa ada sedikitpun rasa ragu.
Guru sebagai pendidik dan pembimbing di sekolah harus betul-betul memahami apa yang diinginkan oleh siswanya. Misalnya kebutuhan untuk berprestasi. Banyak siswa atau peserta didik yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Mereka sering takut gagal dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mau menanggung dan menghadapi resiko dalam mencapai prestasi belajar yang mereka harapkan. Akan tetapi sebenarnya banyak pula siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dalam berprestasi.
Siswa cenderung memiliki motivasi berprestasi tinggi manakala keinginannya untuk meraih harapannya berasal dari dalam dirinya sendiri. Mereka akan bekerja keras dengan segenap kemampuannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam dirinya meskipun mesti bersaing dengan siswa lain.
Siswa secara umum memiliki pemahaman tentang dirinya sendiri, begitu juga mereka mengerti tentang kemampuannya sendiri. Oleh karena itu, mereka yang memiliki kemampuan yang lebih biasanya akan termotivasi dengan baik dalam dirinya, akan tetapi sebaliknya siswa yang tidak merasa mempunyai kemampuan dia akan merasa minderan. Sehingga ini akan sangat mempengaruhi kegiatan belajarnya.
Gambaran ini mulai terbentuk ketika siswa atau individu belajar melalui berinteraksi dengan orang lain, misalnya keluarga dan teman sebayanya maupun orang dewasa diluar contoh tadi. Hal ini jelas akan mempengaruhi prestasi belajar siswa tersebut di sekolah.
Berdasarkan acuan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa siswa datang ke sekolah sudah memahami bagaimana dirinya, yang sudah terbentuk dengan sendrinya. Akan tetapi, guru tetap dapat mempengaruhi dan membimbingnya dengan tujuan supaya tercapai gambaran tentang masing-masing siswa yang lebih positif dan lebih baik lagi.
Yang diharapkan dalam situasi di kelas dalam belajar yaitu guru tidak boleh terlalu banyak mengkritik, mencela, bahkan merendahkan kemampuan siswa, karena dengan itu siswa akan cenderung menilai diri rendah dan merasa tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini akan berakibat pada perkembangan siswa baik secara psikologis maupun kognitifnya.
Sebaliknya jika guru memberikan penghargaan yang bersifat membangaun motivasi belajar siswa dapat meningkat, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan tersebut untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar.
Dorongan tersebut dapat berupa dorongan intelektual mapun dorongan emosional. Dorongan intelektual adalah dorongan untuk memotivasi keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan atau keberhasilan termasuk ke dalam kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi secara penuh.
Daftar Pustaka :
Maslow, Abraham H. (1984). Motivasi dan Kepribadian: Teori Motivasi dengan Ancangan Hirarki Kebutuhan Manusia. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo.


No comments:
Post a Comment