Pengertian nilai dalam pendididikan karakter pendidikan umum pendidikan islam pendidikan pancasila dan sikap yang baik dalam kehidupan sehari - hari
Nilai dan Sikap dalam Pendidikan
Oleh : Yan Firmansyah
Hubungan antara nilai dengan pendidikan sangat erat.
Nilai dilibatkan dalam setiap tindakan pendidikan, baik dalam memilih maupun
dalam memutuskan setiap hal untuk kebutuhan belajar. Melalui persepsi nilai,
guru dapat mengevaluasi siswa. Demikian pula sebaliknya, siswa dapat mengukur
kadar nilai yang disajikan guru dalam proses pembelajaran.
Masyarakat juga dapat merujuk sejumlah nilai (benar
salah, baik buruk, indah tidak indah) ketika mereka mempertimbangkan kelayakan
pendidikan yang dialami oleh anaknya. Singkat kata, dalam segala bentuk
persepsi, sikap, keyakinan, dan tindakan manusia dalam pendidikan, nilai selalu
disertai. Bahkan melalui nilai itulah manusia dapat bersifat kritis terhadap dampak-dampak
yang ditimbulkan pendidikan.
Dengan demikian, nilai dan pendidikan merupakan dua hal
yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Demikian pula, ketika rangkaian peristiwa
pendidikan sangat sarat dengan pembelajaran keterampilan teknis seperti yang
banyak dilakukan oleh lembaga - lembaga pendidikan keterampilan baik pendidikan
formal maupun pendidikan non-formal, yang di dalamnya juga terdapat proses
pembelajaran nilai yang mengandung nilai benar salah, baik buruk, atau indah
tidak indah.
Hubungan Antara Nilai dan Pendidikan
Secara umum hubungan antara nilai dengan pendidikan dapat
dilihat dari tujuan pendidikan itu sendiri. Seperti yang terdapat di dalam
tujuan pendidikan nasional, bahwa pengembangan potensi peserta didik/anak agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis dan bertanggung jawab mengandung sejumlah nilai penting bagi
pembangunan karakter bangsa.
Upaya untuk membangun kualitas pendidikan manusia melalui
pendidikan persekolahan terus dilakukan dan tidak akan berhenti selama
kehidupan manusia masih ada. Proses itu berjalan secara simultan dan
berkelanjutan
Pada kenyataannya kehidupan selalu menuntut kita untuk menentukan
pilihan atas dasar kriteria terbaik atau terburuk demi benar, tetapi caranya
salah; sikap orang itu baik, meski penampilan fisiknya buruk; tau lukisan itu
indah, walaupun pigurannya jelek.
Setiap orang memiliki citarasa nilai, dan tidak ada satu komunitas masyarakatpun yang terbebas dari sistem nilai. Karena itu, ketika kita berada pada posisi tidak memilih nilaipun banyak faktor luar seperti teman, lembaga, orang tua, atau tetangga ikut menentukan nilai yang pada akhirnya mempengaruhi pilihan kita.
Setiap orang memiliki citarasa nilai, dan tidak ada satu komunitas masyarakatpun yang terbebas dari sistem nilai. Karena itu, ketika kita berada pada posisi tidak memilih nilaipun banyak faktor luar seperti teman, lembaga, orang tua, atau tetangga ikut menentukan nilai yang pada akhirnya mempengaruhi pilihan kita.
Untuk menghindari adanya peran nilai yang tidak baik atau
sering disebut sebagai nilai destruktif, kita harus memiliki pandangan yang
utuh tentang manusia dan alam. Hal itu penting karena sebagian besar manusia
disatu sisi sering manyaksikan nilai konstruktif seperti kesopanan, keadilan,
keindahan, kasih sayang, dan ketaatan, sedangkan dilain hal iya kerap
dihadapkan dengan peristiwa yang bermuatan nilai destruktif seperti kebrutalan,
kezaliman, kebencian, dan kecurangan.
Pengaruh Iptek terhadapat Penerapan Nilai
Diyakini bahwa kehidupan manusia saat ini sudah jauh
berubah dari kehidupan manusia sebelumnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) telah membawa manusia kedalam kehidupan modern. Karena itu,
kemajuan iptek benar-benar telah merubah tatanan kehidupan yang serba mudah dan
nyaman.
Namun dibelakang perubahan tatanan kehidupan yang
bersifat materil itu banyak melahirkan konfil-konflik yang berkepanjangan.
Konfilk nilai ini diakibatkan adanya perubahan perilaku manusia yang terkadang
bertolak belakang dengan nilai-nilai kehidupan yang ada dimasyarakat.
Newcomb (1978) menyatakan bahwa pendidikan nilai
merupakan tujuan terpisah yang terjadi secara luar biasa dan disekelilingnya
terdapat pola-pola tingkah laku yang diorganisasi. Newcomb menggambarkan antara
nilai, sikap, motif, dan dorongan saling adanya keterkaitan yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain.
Keterlibatan dalam Pendidikan Nilai
Pada dasarnya setiap pendidikan menyertakan nilai dengan
beragam jenis dan intensitasnya. Namun proses pendidikan nilai masih sangat
terbuka untuk dibicarakan dalam kerangka mencari alternatif-alternatif terbaik
bagi proses internalisasi nilai agar dicapai secara optimal. Dalam rangka
mengembangkan Pendidikan Nilai, tidak dapat berperan secara tunggal. orang tua,
masyarakat dan sistem politik pada dasarnya harus ikut bertanggung jawab.
Kebutuhan akan pendidikan mulai nampak dan dirasakan
penting setelah maraknya berbagai bentuk penyimpangan asusila dan amoral
ditengah masyarakat. Hampir setiap hari pemberitaan dimedia cetak dan
elektronik tentang tawuran, pembunuhan, pemerkosaan, seks bebas, aborsi,
pemakaian dan peredaran narkoba, lebih miris lagi pernah dilansir kasus
pemerasan yang dilakukan geng anak usia sekolah dasar (SD).
Tentu hal ini membuat gelisah dan cemas para orang tua
dan termasuk lembaga sekolah yang bertanggung jawab untuk mendidik,
melatih, dan membimbing anak didiknya. Sekolah merupakan sarana yang secara
sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan, salah satunya adalah
pendidikan nilai.
Ki Hajar Dewantara, menyatakan bahwa suasana kehidupan
keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan
individu maupun pendidikan sosial. Karena dalam lingkungan keluarga itulah
orang tua dapat membimbing dan mengarahkan serta menunjukan kepada anak-anaknya
bagaimana bersikap yang baik dalam kehidupan.
Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan karakter
anak, harus mampu menciptakan suasana sikap yang baik secara moral, sehingga
anak akan memahami cara bergaul dilingkungannya.
Dengan demikian maka pendidikan nilai dilingkungan keluarga akan memiliki dampak bagi anak-anak yang dibentuk oleh lingkungan keluarganya yang memenuhi kriteria pendidikan nilai pada umumnya.
Dengan demikian maka pendidikan nilai dilingkungan keluarga akan memiliki dampak bagi anak-anak yang dibentuk oleh lingkungan keluarganya yang memenuhi kriteria pendidikan nilai pada umumnya.


No comments:
Post a Comment