Perjalanan menuju jogja
Persiapan sudah hampir selesai ketika waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, hanya tinggal menunggu kapan teman² yang lainnya akan berangkat menuju Stasiun Gambir kala itu.
Jam 16.30 setelah aku memasukan motor kedalam rumah lalu mematikan semua listrik dan mencabut colokan tv, ac, dispenser dll. Kemudian bergegas membuka WhatsApp (WA) untuk mengetahui informasi keberangkatan ke Stasiun Gambir dari teman - teman.Ku telusuri setiap grup di WA untuk mencari nama SDN Duri Kosambi 06 Pagi, akhirnya ketemu lalu ku centang dan ku baca satu persatu dengan sedikit mengernyitkan dahi karena silau dengan sinar HP. Hampir semua teman sudah bersiap berangkat menuju Stasiun Gambir dengan menggunakan Taxi Online (Grab Car).
Keadaan suasana sore yang terik membuat badan panas dan seketika mengeluarkan keringat. Kemudian aku ikut chat di grup sekedar memberi informasi keberangkatanku yang akan menaiki commuter line (KRL) menuju Stasiun Gambir. "Saya naik KRL" cetusku dalam chat itu.
Kemudian ku gendong tas di punggung, mengikatkan tas slempang lalu beranjak menuju Stasiun Kalideres yang tidak begitu jauh dari rumah.
Kemudian ku gendong tas di punggung, mengikatkan tas slempang lalu beranjak menuju Stasiun Kalideres yang tidak begitu jauh dari rumah.
Sampai di Stasiun tak lupa ku keluarkan dompet untuk mengambil kartu kecil nan berfungsi banyak dalam perjalanan selama di Jakarta yaitu kartu "Jack Lingko". Tempel kartu lalu masuk deh ke area Stasiun.
10 menit menunggu akhirnya KRL mulai menunjukan batang hidungnya. Aku bergegas naik lalu mencari tempat duduk yang kosong. Sesampainya di Stasiun Duri, dilanjut menaiki KRL yang mengarah ke Stasiun Tanah Abang. Ketika sampai di Stasiun Tanah Abang, waktu sholat Magrib sudah tiba, tak begitu lama akupun bergegas melaksanakan sholat di mushola luar Stasiun dekat dengan warung nasi uduk tempat biasa aku makan disana.
Pukul 18.25 WIB terlihat dijam tanganku saat beranjak dari Tanah Abang menuju Stasiun Gambir mengendarai Ojek Online (Grab Bike) kala itu dengan ongkos yang hanya 10 ribu saja. Ku nikmati saja perjalannya dengan tanpa mengenakan helm, ku hirup udara malam Jakarta yang sesak dengan riuh suara klaksonnya lalu ku keraskan suara guna melontarkan beberapa pertanyaan tentang kehidupan.
Tak lama kemudian tibalah aku tepat di depan pintu gerbang Stasiun Gambir. "Wooow edun" bisikku, banyak sekali orang di Stasiun "Gila, pada mau kemana ni orang" lanjutku.
Aku lalu beranjak menuju toilet. Mengepakkan celana, menyisir rambut, merapikan baju, dan ngeunteung (bercermin) sambil tengok kanan dan kiri sekedar memastikan bahwa aku masih mirip dengan brama kumbara _______ heup.
Aku lalu beranjak menuju toilet. Mengepakkan celana, menyisir rambut, merapikan baju, dan ngeunteung (bercermin) sambil tengok kanan dan kiri sekedar memastikan bahwa aku masih mirip dengan brama kumbara _______ heup.
Setelah keluar pintu toilet bin wc aku bergegas mencari mushola untuk melaksanakan sholat Isya, pukul 19.23 wib ketika aku beranjak dari mushola depan pos polisi Stasiun Gambir. Jebret.....palang pintu masuk kendaraan roda empat hampir saja menyasar kepalaku "astagfirullah" sungutku. Dengan rasa yang lumayan mengagetkan aku jalan kembali menuju teman-teman yang sudah berkumpul di ruang tunggu.
Sesampainya di ruang tunggu, tak lupa aku mengeluarkan senjata perang yang sedari tadi tersimpan di saku kiri celana. Senjatanya adalah Hanphon bin HP bin tongteng binti martabak haneut yang bermerek Vivo. Sambil sesekali kami berfoto ria, bercanda kecil lalu mengamati keadaan sekitar yang ramai dengan hilir mudik penikmat kereta. Tepat sekitar 20 meter di hadapan kami setiap orang sedang berduyun menunggu antrian masuk menuju kereta yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Yan Firmansyah...."iya saya" jawabku. Namaku dipanggil oleh sang pembagi tiket dari gunung travel. Akupun berjalan mendekati sumber suara, lalu mengambil tiket keretanya. Sambil membaca tulisan yang ada pada tiket, aku bergumam "Jogja bro...jogja hehe..." senang memang perasaanku, karena terakhir aku kesana tahun 2005 bersama teman-teman SMA. Adapun pada tahun 2012 hanya lewat saja tanpaa menikmati suasana kota nan bersejarah itu.
Ya...KTP dan tiketnya pak, sahut petugas tiket kereta. Setelah diperiksa kami bergegas menuju peron kereta yang berada di lantai 3 Stasiun. Dengdong....ternyata kami salah peron bro, "kacau euy" cetusku. Padahal kami sudah siap bersolek lalu berfoto ala artis yang sedang ngeksis di saat hujan gerimis di depan warung pak kumis hari kamis didekat pasar boncis.
Sesampainya di peron yang dituju, kami bergegas mendekati gerbong tempat kami akan duduk. Namun sebelum masuk, tepat di seberang sana moncong monas yang menyala bersanding dengan purnama menantang kami untuk menyalakan kamera lalu mengarahkan fokusnya untuk sekedar menjadikannya latar potret.
Tot...."Kereta Taksaka Eksekutif tujuan Jogjakarta siap berangkat" terdengar suara peringatan dari petugas kereta. Waktu menunjukkan pukul 20.45 WIB dan kami telah duduk di bangku masing-masing. Sedang aku, masih merapikan tas kemudian di simpan di bahasi tepat di atas bangku tempatku duduk.
Tot...."Kereta Taksaka Eksekutif tujuan Jogjakarta siap berangkat" terdengar suara peringatan dari petugas kereta. Waktu menunjukkan pukul 20.45 WIB dan kami telah duduk di bangku masing-masing. Sedang aku, masih merapikan tas kemudian di simpan di bahasi tepat di atas bangku tempatku duduk.
Kali ini aku duduk dengan Pak Marino yakni guru kelas 6 C yang menjadi partnerku selama dua tahun terakhir di kelas 6. Sambil sesekali mengobrol tentang kelucuan siswa, kami pun kemudian menikmati hidangan malam yang ada dihadapan lengkap dengan air mineralnya. "Silahkan makan" seseorang yang membagikan nasi box itu menyahut. Aris namanya, si jangkung lenjang alias tinggi kurus yang ramah nan humoris si jago sulap inilah yang akan menjadi pemandu kami berlibur di Jogjakarta.
Selang beberapa lama, ku kabari istri tercinta bahwa aku sudah beranjak dari Jakarta. Ia dan anakku Ahsan tersayang sedang berada di Sumedang. Mereka kesana seminggu sebelum aku berangkat ke Jogja. Ahsan Syauqi usianya baru menginjak 4 bulan dan ia baru belajar mengangkat lehernya karena sudah belajar tengkurep. Selama ia disana setiap luang waktu kerja ku sempatkan untuk video call sekedar memupus rasa kangen pada anak pertamaku itu. Ah.....begini ya ternyata rasanya jauh dari anak dan istri, kangennya kebangetan keluhku setiap sampai di rumah. Selain itu ku berkabar pula pada kakaku di Tangerang, bahwa aku sudah berangkat dengan kereta sampai 2 hari ke depan.
Tak lama kemudian kami sambung lagi percapakan yang sempat tertunda, kali ini tentang perjalanan malam yang kami susuri setiap kelipan cahaya di luar sana yang menampilkan kehangatan. Waktu sudah mulai malam, Pak Marino sudah mulai mengeluarkan hadsetnya, kemudian ku ikuti pula dengan menyambungkan hedset ke HP dan mengeluarkan buku.Yang lainnya sudah hening, aku yang sedari tadi masih membaca buku dan mendengarkan musik dengan hedset mencoba untuk mencari posisi yang enak untuk tidur. Mengibaskan selimut, mendekap bantal, menutup setengah wajah dengan masker, menutup kepala lalu memakai kaos kaki dan sepatu berharap tertidur dengan pulas sampai Jogjakarta.
Stasiun demi stasiun telah terlewati kereta yang kami tumpangi, aku tersadar ketika kereta berhenti si Stasiun Cirebon dan Purwokerto lalu tidur kembali. Tepat pukul 04.00 WIB sampailah kami di Stasiun akhir tujuan yakni Jogjakarta kota pelajar yang terkenal dengan Candi Brobudur dan Prambanannya. Dengan wajah yang lusuh dan bau yang kurang sedap semuanya bergegas turun dari kereta, kemudian menyusuri jalanan peronmenuju ruang tunggu. Tak lama setelah sampai di ruang tunggu, adzan subuh berkumandang.
Setelah setiap kami selesai melaksanakan solat subuh, kemudian diarahkan menuju pintu keluar Stasiun dan mencari bis yang sudah siap membawa kami berkeliling Jogjakarta. Sampailah kami di samping bis hijau kekuning-kuningan dengan volume tiga perempat. Aku naik lalu duduk bersandar menikmati kabut pagi yang begitu asing dalam hidupku selama ini. Meski lelah dan ngantuk, kami masih sempat mendengarkan penjelasan dari pemandu. Bukan Aris yang bersilat lidah sudah hampir 20 menitan ini, tapi Nana namanya. Perempuan asli Jogja yang siap menjelaskan setiap destinasi yang kami kunjungi nanti ini lumayan hambel dan berusaha mengajak kami untuk terhibur dengan penjelasannya. Namun sayang seribu saya....kami ngantuk Mbak Nana.
Kemudian kami dipersilahkan untuk istirahat tidur sebelum sampai di tempat makan pagi di daerah Gunung Kidul. Sekitar hampir 1 jam diperjalanan, akhirnya kami sampai ditempat tujuan pertama yakni tempat makan lesehan ala Gunung Kidul.
Aku yang sedari tadi telah mengeluarkan peralatan mandi, lalu bergegas mencari toilet untuk mandi seraya menikmati udara pagi yang asing dibadanku. Selesai mandi lalu aku berjemur sebentar kemudian mengikuti yang lainnya makan dan minum kopi hitam setengahnya. "Pait" gumamku, ternyata Aris memesan kopi tanpa gula yang ku seruput setelah makan selesai.
Tak begitu lama setelah kami mengobrol tentang VeV alias rokok elektrik, bis berjalan kembali menuju destinasi pertama. "Sampai di Gua Pindul" sungut Nana ketika kami sampai di parkiran tempat wisata Gua Pindul. Setelah itu, aku beranjak merapiakan tas yang ku buka setelah mengambil pakaian untuk berenang di Goa. Kemudian aku mendekat ke kios souvenir untuk membeli celana, kaos dan sandal guna pengganti pakaian yang aku kenakan ketika msuk ke Goa.
Tak begitu lama setelah kami mengobrol tentang VeV alias rokok elektrik, bis berjalan kembali menuju destinasi pertama. "Sampai di Gua Pindul" sungut Nana ketika kami sampai di parkiran tempat wisata Gua Pindul. Setelah itu, aku beranjak merapiakan tas yang ku buka setelah mengambil pakaian untuk berenang di Goa. Kemudian aku mendekat ke kios souvenir untuk membeli celana, kaos dan sandal guna pengganti pakaian yang aku kenakan ketika msuk ke Goa.
Kemudian, masing-masing dari kami mengenakan pelampung sebagai tanda pengamanan selama menyusuri Goa yang dipenuhi dengan air di dalamnya. Setelah itu, kami menaiki mobil PicUp menuju Goa dengan suasana candaan kambing yang khas pada PicUp. Embe....e...e..e, embe...begitulah kira-kira teriakan beberapa diantara penumpang edun ini. Kemudian diikuti dengan gekak tawa semuanya.
Tibalah kami di tempat tujuan, hanya 3 menit mungkin perjalanan dari parkiran bis menuju Goa Pindul ini. Setelah itu, kami diarahkan untuk mengambil ban satu persatu guna keperluan di dalam Goa yang lumayan dalam. Sampai di muka Goa, setiap kami dipandu untuk menaiki ban kemudian saling berpegangan ban teman di depannya supaya tidak berhamburan.
Tiba-tiba kami sudah berada di tengah Goa, sedangkan orang-orang sedang ramai menikmati dalamnya sungai dengan cara berenang. Aku yang sudah berniat untuk berenang kemudian melepaskan diri dari sekawanan pemandu dan naik menuju tempat berenang. Sambil sesekali kami mengabadikan momen yang akan sangat jarang terjadi di Jakarta bahkan mungkin tidak akan terjadi.
Aku dan empat teman lainnya saling bergantian melemparkan diri ke sungai lalu berenang menuju tempat yang lebih dangkal. Engap sih lumayan, karena terakhir aku berenang seperti ini ketika aku SMP, setelahnya ya berenang di kolam saja.
Selesai menikmati suasana Goa, akhirnya aku bergegas menuju keluar Goa dengan cara berenang sambil sesekali memegang ban pengunjung yang lainnya ketika napas sudah engap bin eungap. Sampai dimuka Goa kembali lalu menaiki tangga yang lumayan menjulang kemudian berjalan menyusuri sungai kecil yang begitu bening menuju mobil PicUp untuk kembali ke tempat semula.
Aku dan empat teman lainnya saling bergantian melemparkan diri ke sungai lalu berenang menuju tempat yang lebih dangkal. Engap sih lumayan, karena terakhir aku berenang seperti ini ketika aku SMP, setelahnya ya berenang di kolam saja.Selesai menikmati suasana Goa, akhirnya aku bergegas menuju keluar Goa dengan cara berenang sambil sesekali memegang ban pengunjung yang lainnya ketika napas sudah engap bin eungap. Sampai dimuka Goa kembali lalu menaiki tangga yang lumayan menjulang kemudian berjalan menyusuri sungai kecil yang begitu bening menuju mobil PicUp untuk kembali ke tempat semula.
Setelah selesai, aku turun kembali untuk membeli foto dalam Goa yang sudah siap di jual. Dengan harga 20 rebu per foto aku membeli 2 saja sebagai tanda kenangan di Goa Pindul. Selesai bayar, lalu kembali ke bis yang sudah siap untuk berangkat.
Kali ini tujuan kami adalah Candi Prambanan, namun sebelum sampai kesana kami terlebih dahulu menikmati makan siang disalah satu restoran yang ada di Kabupaten Gunung Kidul. Selesai makan langsung menunaikan Solat Duhur dan bersiap kembali untuk berangkat. Disana kami disuguhkan dengan beberapa makanan khas Gunung Kidul (tapi namanya lupa lagi hehe). Tempatnya lumayan nyaman namun kurang sejuk aja sih, mungkin karena tempatnya persis berada di samping jalan raya.
Tak lama kemudia setelah perjalanan bis dimulai, tiba-tiba bis berhenti dan masuk kearea parkiran jajanan oleh-oleh makanan khas Gunung Kidul. Diantara semua penumpang kemudian menghampiri beberapa kios jajanan. Akupun kemudian mengikuti menuju salah satu kios, dan membeli beberapa jajanan. Setelah itu bergegas kembli menuju bis dan kami melanjutkan perjalanan kembali.
Tepat pukul 14.20 WIB, perjalanan menuju Candi Prambanan menemui titik temu. Alhamdulillah kami sudah sampai tepat di parkiran salah satu destinasi wisata di Kota Jogjakarta. Namun sebelum sampai di area parkiran, kami harus melawatkan 1 jam untuk mengantri macet menuju kedalamnya. Karena mungkin saking penuh dan sesaknya.
Dengan cuaca yang begitu terik menyengat, satu persatu dari kami berjalan menuju pintu antrian pemesanan tiket masuk area Candi. Karena saking teriknya, akupun bergegas memakai kecamata hitam untuk melindungi mata dari sinar ultraviolet. Begitupun dengan yang lainnya sama mengenakan kecamata bahkan ada pula yang memakai penutup kepala.
Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya tiket dibagikan satu persatu. Setelah itu kemudian kami mengantri kembali di pintu masuk. Aku sampai di depan pintu masuk kemudian menempelkan tiket, agar kode barcodenya terbaca oleh mesin pintu masuk.
Setelah lumayan lama menunggu, akhirnya tiket dibagikan satu persatu. Setelah itu kemudian kami mengantri kembali di pintu masuk. Aku sampai di depan pintu masuk kemudian menempelkan tiket, agar kode barcodenya terbaca oleh mesin pintu masuk.
Sampai di depan candi perambanan dengan suasana panas. aku dan beberapa teman guru saling bergantian berfoto sambil sesekali mengernyitkan dahi karena melihat matahari yang begitu teriknya. Sesekali aku selfi sekedar untuk mengabadikan momen yang menurutku akan sangat membantu imajinasiku tentang Candi Prambanan.
Beberapa menit sudah sambil menunggu teman yang lainnya, kamipun beranjak mendekati candi yang begitu megahnya dengan suasana keunikan yang begitu luar biasa hebatnya.
Sambil berjalan dengan kecamata hitam yang sedari turun dari bis sudah nempel pada mataku, aku dan teman-teman sesekali mengabadikan melalui foto hanphon dan bersuka ria tertawa bersama sambil melupakan bahwa terik matahari menyengati kulit.
Naik tangga, naik lagi lalu mendekat ke setiap candi yang ada membuat suasana candi begitu terasa dan keindahannya mulai kami nikmati. Begitu banyak orang yang datang di hari ini, mulai dari anak-anak sampai orang tua dan tak terhindarkan pula turis mancanegara yang menghiasai wisata Candi Prambanan.
Selang 1 jam lebih kami di Candi Prambanan, lalu turun menjauh dari candi menuju pintu keluar. Sambil sesekali menikmati suasana orang saling berfoto mengabadikan candi, aku dan teman-teman berjalan santai mengitari jalanan. Tak lama kemudian sekitar 15 menit dari candi, tibalah di pintu keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 wib, kemudian aku bertanya pada salah satu petugas ngenenai tempat solat. Setelah ditunjukkan tempatnya, aku berjalan menuju mushola yang berada di samping pasar souvenir. Sedangkan yang lainnya mempir ditempat minuman kelapa.
Berjalan menuju Mushola melewati pasar souvenir dan baju-baju, aku tertuju pada pakaian anak kecil dan aku teringat pada anakku Ahsan di rumah yang usianya baru 4 bulan lebih dengan berat badan 7.5 kg, dalam pikirku setelah solat aku akan belikan anaku baju itu.
Selesai solat akhirnya aku mendekat ke tempat pakaian yang aku lewati tadi, sambil bertanya akupun sedikit menanyakan harganya, katanya 40 satu stel dan 100 ribu tiga stel. Akhirnya aku tawar beli dua stel 50 ribu dan alhamdulillah di kasih.
Setelah itu aku ketemu dengan teman, lalu berjalan melalui ke tengah pasar. Tetibanya di tengah aku menemukan topi yang selama ini aku cari, akhirnya aku tawar-tawar dan di kasih dengan harga 35 rb. Lalu aku pakai dan beranjak mengikuti teman yang sudah lebih dulu berjalan.
Tiba di depan pintuk keluar pasar, aku melihat ibu yang separuh baya mengelar dagangannya, lalu aku tertuju pada mainan anak kecil yang bersuara tok tok tok...ku tanyakan harganya, ternyata hanya 5 rb, tak menawar lagi akupun mengeluarkan uang kertas dan memberikannya pada Ibu penjualnya dambil mengucapkan terimakasih.Tiba di pintu keluar dan menuju bis kembali, lalu berangkat menuju tempat makan kembali. waktu sudh menunjukan pukul 17.20. di tengah perjalanan suara adzan berkumandang, hatiku sudah mulai bergetar menunjukan ketidak tenangan karena tak tahu mau berhenti dimana dan jam berapa akan melaksanakan solat magrib. Akhirnya aku niatkan dalam hati untuk melaksanakan solat kodo karena waktu perjalanan sudah sampai adzan isya.
Sampailah kami di tempat makan, yang dipinggirnya berjejeran batik-batik yang siap menawarkan jajanan pada pengunjung. Setelah selasai makan akupun bergegas mengikuti yang lainnya melihat-lihat batik. Aku langsung tertuju pada batik perempuan, karena aku ingat istri dan orang tua di rumah. Lumayan lama berjalan-jalan dan melihat-lihat harga serta modelnya, akhirnya aku membelikan batik buat anakku Ahsan, Istri, Ibuku dan Ibu mertuaku.
Sampai di depan hotel tepat pukul 20.00 wib dan kami langsung turun dan mebawa semua barang-barang yang ada. Aku yang sudah lelah lalu duduk di kursi depan resepsionis hotel dan memanggil pak marino untuk mengambilkan kunci kamar hotel. Alhamdulillah kami mendapatkan kamar 303 alias lantai 3 nomor 03.
Beranjak menuju kamar, dan di antarkan oleh petugas hotel. Masuk ke kamar dan bergegas menuju toilet untuk melaksanak solat isya kemudian aku dan Marino berniat untuk mencari udara segar ke malioboro. Sambil menunggu temn yang lainnya yang mau ikut, aku duduk di pinggir jalan depan hotel dengan beralaskan sandal jempit yang aku beli di parkiran goa pindul tadi siang aku memperhatikan hilir mudik kendaraan sambil sesekali mengitari baliho-baliho yang terpampang di depan toko-toko yang sudah tutup.
Tepat di seberang jalan, temanku Marino sedang makan di warung pecel lele. Tak lama akupun tertuju pada reklame yang bertuliskan "Diana" yang begitu besar dengan tulisan sambung yang menarik dan dilengkapi dengan lampu kuning menyala. Dalam pikirku bagus juga ya kalo aku bikin cerpen atau novel dengan tokoh utamanya Diana dengan tulisan yang mirip dengan tulisan hotel diana itu.
Aku mengimajinasikan, diana gadis yang ulet nan sabar menghadapi hidupnya ketika di tinggalkan kedua orang tuanya lalu mengabdi pada tuan Rangga yang kaya di kampungnya sekedar untuk makan dan mengurusi dua adiknya yang masih kecil. Lalu diana termashur dengan kecerdikannya dalam mengemban ilmu, kemudian tuan Rangga melamarnya ketika istrinya sudah meninggal dunia karena penyakit kangker yang dideritanya,.
Diana ada dalam kebingungan, karena ia sudah punya pujaan hati tapi tak bisa menolak tuan Rangga yang telah menolong dia dan dua adiknya selama ini. Begitulah kira-kira imajinasi yang aku utarakan dalam pikirku ketika melihat reklame itu.
Tak berselang lama teman-teman sudah berdatangan, dengan rombongan haji berikutnya yang berjumlah 11 orang akhirnya kami memesan taksi online atau grabcar dengan dua mobil. Tepat sampai di depan BNI beokan kiri depan alun-alun djogja kami turun dan memandangi jalanan yang penuh dengan makhluk planet bumi dan jalanan yang ramai hilir mudik kendaraan yang sesekali berhenti karena di berhentikan oleh lampu yang bernama merah.
Kami yang menunggu teman di mobil berikutnya tak lupa mengabadikan momen lewat foto, aku duduk di atas batu pagar hiasan kota yang sedang mashur di beberapa kota temanku ada yang berdiri ada pula yang bergaya-gayaan.
Setelah berkumpul semuanya, kamipun beranjak menuju malioboro. Yang kutuju kali ini adalah tas buat tepat baju atau tas selempangan. Setelah berjlan cukup jauh akhirnya aku mendapatkannya dengan harga 35 ribu, dan lumyan besar dengan gambar kamera didepannya dan atassnya dilengkapi resleting.
Berjalan lagi agak kedepan beberapa teman ada yang berbelanja bati lagi, sedang aku, Reza dan Marino dudul memperhatikan setiap orang yang sedang merapikan dagangannya untuk beranjak pulang. Tak lama kemudian kami mampir untuk menikmati hidangan jahe angat.
Setelah berjalan agak lama, kami menemukan kerumunan orang yang sedang bergoyang diiriingi oleh musik yang lumayan menarik pengunjung yang datang. Yang katanya di masukan ke youtube. Sambil ketawa kecil akupun beranjak dan berjalan kembali.
Tulisan Malioboro masih setengah jalan, waktu sudah larut malam dan badan sudah terasa lelah. Akhirnya kami tidak melanjutkan perjalanan, tapi beranjak pulang.
Setelah sampai di kamar kembali, aku menyempatkan untuk mengepak barang-barang dan paiakaian pada tang yang kubawa dan tas selempangan yang ku beli tadi supaya lebih rapi dan esok tidak terllu ribet.
Selesai mengepak dan semuanya sudah rapi, tak lupa aku video call istriku dan melihat anakku yang sudah tidur. kemudian sedikit membaca buku lalu tidur.
Pagi menjelang setelah aku mandi dan melaksanakan solat subuh. Satu lagi pekerjaanku, yakni membungkus kado untuk acara tukar kado dengan harga tidak kurang dari 50 rb. Dengan kado kipas angin kecil yang aku siapkan ku bungkus jada dengan koran yang sudah kubawa dari rumah sebelumnya. berlipat-lipat solasi ku ikatkan akhirnya selesai juga. Waktu menunjukan pukul 07.30 wib kami turun ke lantai dasar untuk sarapan pagi, sampai di tempat makan yang lainya sudah siap sedia dengan hidangan yang di ambilnya masing-masing.
Pagi ini kami di arahkan untuk mengunjungi tempat bakpia 25, batik terkenal di dgogja dan terakhir ke tebing bereksi setelah itu lalu bersiap pulang menuju stasiun
Sesampainya di tempat bakpia 25, kami beranjak turun dan membeli bakpia. Aku hanya membeli 3 bungkus saja itupun yang keju dengan harga satunya 50 rb sedangkan bakpia yang original yang banyak orang cari dengan harga 35 rb sudah habis. Lalu aku membeli yang lainnnya dengan menghabiskan kocek seharga 280 rb, waw dalam pikirku cuma 7 bungkus dengan harga sekian.
Setelah beranjak dari situ kemudian menuju tempat batik, tibalah kami di sana kemudian seperti biasa melihat-lihat baju kaos dan yang lainnya, aku yang sedari tadi berdiri tak lupa meluhat harganya. Kalo ada yang murah dan bagus ku sabet dah dalam hatiku... akhirnya aku membeli satu topi dengan harga 19.500 rupih lagi dan satu baju kerah seharga 105 ribu rupiah.
Beranjak ke depan pintu, aku melihat buku-buku sambil ku baca dan kuniatkan akan membeli. Eh dalam pikirku bukuku saja belum ku baca semuanya, ya nanti aja dah. Ini hanya nafsu saja faktanya nanti bacanya akan lama karena yang ada masih bekum selesai di baca.
Menuju merapi, sampai sekitar pukul 11.30 lalu langsung di suguhi makan siang tak lama kemudian berkumandang adzan dluhur dan akupun bergegas melaksanakan solat di mushola. Seperti biasa aku melihat teman-temanku melaksanakan solat zama dengan asharnya, akhirnya ku solat munfarid saja.
Setelah keluar dari mushla kepalaku agak sedikit pusing, lalu aku beranjak mencari penjual salak yang tadi ku lihat saat aku turun dari bis. Lalu aku mendekatinya dan membelinya sambil dudk di bawah pohon rindang aku menikmati salak bersama Reza.
Tak lama kemudian rombongan kami di panggil untuk bersiap menaiki mobil jip dan pergi menuju merapi, setelah menaiki mobil jip. Aku, Reza, Marino dan Iqbal di persilahkan untuk memakan helm penutup kelapa, maasker dan kecamata.
Perjalanan lumayan agak jauh dan menanjak, sesampainya di puncak dengan tempat bersejarah. Kami dipersilahkan untuk turun dan menikmati suasana merapi. Kami dipandu petugas dan dijelaskan beberapa kejadian yang terjadi pada masa 2005 dan 2010 ketika terjadinya letusan gunung merapi.
Akhirnya kami beranjak turun, aku pikir mau langsung ketempat semula. ternyata eh ternyata menuju tempat wisata kali ouproad kali ya. kami sampai di tepi sungai dan mobil siap masuk kesuangai yang penuh bebatuan kecil, teriakan demi teriakan kami keluarkan saat mibil menghantam genangan air dan membelok, sekitar tiga kali putaran lalu mobil beranjak naik dan kembali ketempat semula dengan pengalaman yang begitu menarik.
Beranjak ke tebing breksi, sampai disana waktu asar berkumandang, karena perut lapat kami semuanya makan baso, mungkin hanya aku saja yang makan baso tapi tidak pakei basi alias hanya mie dan sayurnya saja. Sehingga pedagangnya aja tertawa hahaha...dia bilang masa makan baso cuma kuahnya aja.
Kami lalu menaiki tangga demi tangga untuk sampai ke atas dan menikmati tebing bereksi dan melihat matahari tenggelam.
Alhamdulillah setelah selesai menikmati tebing bereksi akhirnya kami beranjak kembali menuju bis dan melanjutkan perjlanan menuju stasiun.
Kami sudah lelah dan sampailah di stasiun, sambil menunggu tiket kami saling mengibrol satu sama lainnya. Tiket sudah di dapat dengan keberangkatan pukul 20.00 menuju stasiun gambir jakarta. Setelah masuk stasiun aku beranjak mencari mushola dan akhirnya bisa melaksanakan solat magrib dan isya.
Kereta sampai akupun masuk ke gerbong 3 bersama pak marino, perjalanan dimulai makan malam lalu mendengarkan musik baca buku dan tidur.
Sampai di stasiun gambir jam 3.40 lalu berjalan ke depan menaiki taksi sampai di rumah
(Belum di Edit)
(Belum di Edit)










No comments:
Post a Comment