PUISI TUJUH WARNA
( Karya: Yan Firmansyah )
Kelihatannya
Putih sedang bertanya pada merah
tentang perangainya selama ini
yang berteriak pesakitan, berlari menakutkan,
dan tertawa menertawakan kegalauan.
Katanya, mengapa menyala lalu membakar
sampai tak menyisakan apapun juga?
Menerjang, tanpa mengenal siapa saja yang ditemui
Bahkan tersiar kabar, bergerak laju
mengepalkan tangan sampai terjatuh di pelataran.
Ia hanya bisu menunduk
seolah terancam dengan tanya
yang baru saja sampai dihadapannya
Malah bertanya pada putih
yang sedari tadi memenjarakannya dengan tanya.
Begini katanya, mengapa begitu damai, bersih,
hingga tak sedikit yang memuja-muji tanpa sebab.
Sudahkah tau orang tentang kau?
Keduanya lalu terdiam menyusuri jawaban
atas setiap pertanyaan yang ada
Aku yang sedari tadi memerhatikannya
tergerak untuk menikmati nyanyian hening
diantara lirik, nada dan kalimat
yang mereka susun dengan rapi
Tak begitu lama hijau dan biru saling menyusul
Hijau bergeming, katanya sampai saat ini
masih terheran dengan biru dan dirinya
karna setiap biru muncul sering di atasnamakan dirinya
Biru balik berceloteh, pun denganku
masih sering bertanya-tanya, ketika yang lain melihat hijau,
lalu di panggil namaku. Kenapa?
Diantara mereka pun ikut terdiam
Sedang aku masih setia menemani hening
di bawah pepohonan rindang itu
Sesaat kemudian
sekawanan kumbang mengabarkan padaku
Katanya, ungu dan jingga lupa memberi warna sore ini
Pada anggrek dan senja
Hingga anggrek mulai hilang pekatnya yang rupawan
dan senja menguning pucat tak seperti biasanya :
riang, senang dan menawan.
Bahkan hari ini, awan cantik tak mau
menemaninya lagi menyambut malam.
Suasana ini pun akhirnya mengantarkanku
pada tegukan teh hangat.
Dalam nyanyian hening itu,
ada kalimat yang kusuka nadanya, begini
-tujuh warna ini tak boleh lepaskan genggaman
putih ada seperti tiada semua berasal darinya,
yang lainnya pada satu lengkung di seusai hujan
dibalik bukit yang nyaris menyentuh sungai
disekitar gunung seperti menyentuh langit
putih membias lalu muncul yang lainnya,
titisan air hujan melengkung dalam birama
yang tak pernah boleh saling menyiksa-
Hilang satu hilang semua,
nampak satu nampak semua,
katanya.
Jakarta, 2019
sampai tak menyisakan apapun juga?
Menerjang, tanpa mengenal siapa saja yang ditemui
Bahkan tersiar kabar, bergerak laju
mengepalkan tangan sampai terjatuh di pelataran.
Ia hanya bisu menunduk
seolah terancam dengan tanya
yang baru saja sampai dihadapannya
Malah bertanya pada putih
yang sedari tadi memenjarakannya dengan tanya.
Begini katanya, mengapa begitu damai, bersih,
hingga tak sedikit yang memuja-muji tanpa sebab.
Sudahkah tau orang tentang kau?
Keduanya lalu terdiam menyusuri jawaban
atas setiap pertanyaan yang ada
Aku yang sedari tadi memerhatikannya
tergerak untuk menikmati nyanyian hening
diantara lirik, nada dan kalimat
yang mereka susun dengan rapi
Tak begitu lama hijau dan biru saling menyusul
Hijau bergeming, katanya sampai saat ini
masih terheran dengan biru dan dirinya
karna setiap biru muncul sering di atasnamakan dirinya
Biru balik berceloteh, pun denganku
masih sering bertanya-tanya, ketika yang lain melihat hijau,
lalu di panggil namaku. Kenapa?
Diantara mereka pun ikut terdiam
Sedang aku masih setia menemani hening
di bawah pepohonan rindang itu
Sesaat kemudian
sekawanan kumbang mengabarkan padaku
Katanya, ungu dan jingga lupa memberi warna sore ini
Pada anggrek dan senja
Hingga anggrek mulai hilang pekatnya yang rupawan
dan senja menguning pucat tak seperti biasanya :
riang, senang dan menawan.
Bahkan hari ini, awan cantik tak mau
menemaninya lagi menyambut malam.
Suasana ini pun akhirnya mengantarkanku
pada tegukan teh hangat.
Dalam nyanyian hening itu,
ada kalimat yang kusuka nadanya, begini
-tujuh warna ini tak boleh lepaskan genggaman
putih ada seperti tiada semua berasal darinya,
yang lainnya pada satu lengkung di seusai hujan
dibalik bukit yang nyaris menyentuh sungai
disekitar gunung seperti menyentuh langit
putih membias lalu muncul yang lainnya,
titisan air hujan melengkung dalam birama
yang tak pernah boleh saling menyiksa-
Hilang satu hilang semua,
nampak satu nampak semua,
katanya.
Jakarta, 2019

No comments:
Post a Comment