SAJAK UNTUK AHSAN
(Karya : Yan Firmansyah)
Sudah enam bulan ia disini
tumbuh mengakar dari tangkai sampai kedahan
dedaunannya hijau dan bunganya bermekaran
terkena gemercik embun, mentari pagi
dengan warnanya yang mulai menguning.
Hangatnya sampai di jendela rumahku
merambat lembut mengikuti hembusan angin.
Di tempat ini pula tercium wewangian
yang menyebar sampai ditepi sudut-sudut kecil,
terbawa injakan kaki dan hempasan telapak tangan
tertinggal dan tak terlihat sedikitpun,
tanpa sengaja semua mulai memerhatikannya.
Padahal kemaren aku menunggunya
sampai duduk mendengkur mengeja kalimat do'a
agar anginnya datang perlahan
lalu menasbihkan kata Lillah.
Pun dengan air suci sang Murrabbi
melepaskan genggaman yang tlah lama
menahan wewangian itu tiba
tlah pudar, tlah hancur
hingga terlepas begitu saja
lalu kubawa dan kujaga dengan hati-hati.
Bersamaku hembusan angin
yang dipenuhi wewangian itu
kini tlah menyatu dan kunamai ia Ahsan.
Anak kecil yang tak mengenal siapa dirinya itu Syauqi
sekarang tumbuh: di kamar, ruang tamu, pelataran
bahkan di tempat-tempat kami menantinya.
Kini ia tau siapa aku,
dengan suara terbata-bata
ia mulai mengenal kata
"yah, aaaa, heeeee, hoooo, ha, hau"
kemudian tersenyum lebar
kupangku, cium, dan peluk erat
dekap kasih rangkul sayang
sambil melantunkan kalimat rindu.
Entahlah, senyumnya cerita manis,
menawari cinta
kemudian tenggelam begitu saja:
dalam diam, senyap
bahkan ketika hening melalui wajahku.
Ia ada saat keluh,
hilang tanpa tau siapa yang menghapusnya
pun kala gundah, terlupakan begitu saja
mengajak bercerita diantara banyak warna
dengan suara lirih berdekatan.
Petang ini, ku beranikan kembali memanggil namanya
Pada do'a yang sering diutarakan,
pada keindahan yang mengiringi
dan kebaikan yang hakiki. mengenali diri,
sambil tak melupakan siapa Tuhannya (Allah Swt),
Rosulnya (Muhammad Saw),
pun Bunda yang mengandung.
Yang kurindukkan Ahsan
dari Ayahmu Yan Firmansyah
Jakarta, 27 Agustus 2019
Setiap kita punya pola yang bisa tersampaikan lewat kata. Namun manakala kata tak pernah sampai pada laku nyata, ia hanya akan tersimpan sebagai sebuah teori. Dan di sinilah tempat saya menuliskannya.
Tuesday, August 27, 2019
Sunday, August 25, 2019
Jamal D. Rahman : Aku Mengemas Senyum Membawa Cinta yang Ranum
Aku
Mengemas Senyum Membawa Cinta yang Ranum
Jamal
D. Rahman
Orang menulis puisi tentulah berasal dari hal-hal yang sangat
dekat dengan dirinya. Dekat dalam arti fisik, perasaan, pikiran dan lain
sebagainya. Orang memang hanya bisa menulis dengan baik hal-hal yang dia
rasakan dekat dengan perasaan dan pikirannya. Tapi dalam menulis puisi,
persoalan berikutnya adalah mengolah bahasa dan imajinasi tetang yang kita
tulis itu. Sejauhmana seseorang mampu mengolah bahasa dan imajinasi dalam
meulis sesuatu yang betapapun amat dekat dengan dirinya, pada akhirnya amat
tergantung pada keterampilannya berbahasa dan mengeksplorasi imajinasi.
Puisi-puisi siswa SMUN 1 Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, dalam kaki
langit edisi ini, tentulah bertolak dari hal-hal yang sangat dekat dengan para
penulisnya. Ini terutama terlihat dari tema-tema yang mereka pilih. Hendrawan,
misalnya, menulis tentang ibu, seseorang yang pastilah bersemayam di hatinya. Dalam
konteks ini, ia berimajinasi tentang ibu, dan dia sampai pada ungkapan berikut
ini: engkau laksana malaikat yang menjelma.
Sangat menarik bahwa Hendrawan mengumpamakan ibu dengan malaikat. Di sini
segera terasa keagungan, kemulyaan, dan kebesaran sang ibu. Ia adalah jelmaan
malaikat, sesuatu atau seseorang yang amat mulia dan agung. Dengan itu, Hendrawan
sebenarnya sudah cukup baik berimajinasi tentang ibu.
Sayangnya, imajinasi Hendrawan tentang ibu berhenti sampai
malaikat. Dia tidak menggalinya lebih jauh. Larik-lariknya bukan lagi tentang
malaikat, melainkan tentang manusia biasa. Kalausaja Hendrawan terus
mengeksplorasi malaikat sebagai metafor sang ibu, dia pasti akan sampai pada
kemungkinan-kemungkinan baru dalam menggambarkan sosok ibu. Mungkin dia akan
menulis begini: mama, engkau malaikat
yang menjelma/ meneteskan wahyu di relung sukma/ menyemai Tuhan di relung dada.
Hendrawan boleh mencoba mengeksplorasi malaikat sebagai metafor ibu.
Sementara itu, Jiyono memberi judul puisinya “Pengecut”, dan
menulis tentang surya dari sudut-pandang negatif. Dengan cara itu puisi Jiyono
setidaknya mengandung dua kemungkinan. Pertama, Jiyono bermaksud menjadikan
surya sebagai metafor sang pengecut (siapa pun dia). Kedua, memang dia
bermaksud mengatakan bahwa surya itu sendiri adalah pengecut. Adanya banyak
kemungkinan seperti ini dalam puisi merupakan hal menarik. Sayangnya, puisi
tersebut tidak didukung oleh diksi atau bahasa yang padat. Sebagaian lariknya
bahkan mengganggu, khususnya larik bagaimana
malam nanti.
Puisi Farida meyajikan lompatan imajinasi, dari melati ke wanita
malang. Hanya saja ketika berbicara tentang wanita malang, puisi Farida jadi
miskin imajinasi. Puisinya segera berubah jadi ungkapan yang sangat normatif. Padahal,
ketika sebelumnya dia berbicara tentang melati, imajinasinya lumayan hidup. Perhatikan
terutama larik berikut: Melati tetaplah
putih suci/Walaupun tumbuh di atas lumpur hitam tak bertepi. Imaji lumpur hitam tak bertepi sangat menarik.
Ia menggambarkan betapa luas (tak bertepi) lumpur hitam tempat melati tumbuh. Imaji
yang cukup bagus ini semestinya dijaga, bahkan dikembangakan, dalam larik-larik
berikutnya.
Sebagaimana Farida, Helga memulai pusinya dengan imaji menarik: Aku memungut air mata/ Dalam keraguan tanpa
makna/ Aku mengemas senyum/ Dan membawa cinta yang ranum. Larik-larik ini
menarik bukan saja imajinya, melainkan persamaan bunyinya. Puisi itu berirama, seakan
alunan musik yang merdu. Lalau bayangkanlah aku-lirik memungut airmata;
bayangkan pula aku-larik mengemas senyum; bayangkan juga cinta yang ranum. Semua
itu merupakan imajinasi yang segar, menggambarkan keraguan apakah cinta
aku-lirik akan sampai atau tidak. Di akhir puisi, kita tahu bahwa-lirik
benar-benar ragu bahwa cintanya akan sampai.
Tapi masih ada juga larik puisi Helga yang mengganggu. Misalnya larik
aku mencari namun tak kutemukan. Larik
ini terasa dipaksakan, baik imaji maupun persamanan bunyi (akhir)-nya. Sebenarnya
Helga bisa mengungkapkan hal itu dengan manis, misalnya dengan tetap
menggunakan imaji awal puisinya, kira-kira begini: tapi kini, tak bisa kupungut lagi air mata/ tak bisa lagi ku kemas senyum/ tak
bisa ku bawa lagi cinta yang ranum.
Teruslah berkarya, mencoba berbagai kemungkinan bahasa dan
imajinasi.
Sekilas tentang penulis:
Jamal D.
Rahman lahir di Sumenep, Madura pada 14 Desember 1967.
Ia adalah sastrawan dan merupakan salah satu penyunting buku 33 Tokoh Sastra
Indonesia Paling Berpengaruh yang menuai berbagai kritik dari sejumlah
kritikus dan sastrawan. Sejak 1993 Jamal menjadi redaktur
majalah Horison, dan kini dia memimpin majalah tersebut.
Jamal
merupakan alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura. Setelah
itu beliau menimba ilmu di IAIN yang kini berubah nama menjadi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Kemudian, menyelesaikan pendidikan S2 pada
Fakultas Ilmu Budaya di Universitas
Indonesia (FIB-UI).
Menulis
puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian, dan kebudayaan di berbagai media
massa adalah kegiatan yang dilakukannya. Ia kerap diundang mengikuti acara-acara
sastra di dalam dan luar negeri antara lain Festival Seni Ipoh III, Negeri
Perak, Malaysia (1998), Program Penulisan Majelis
Sastra Asia Tenggara bidang Esai di Cisarua, Bogor
(1999), Seminar Kritkan Sastra Melayu Serantau, Kualalumpur (2001), dan Pertemuan Penulis
Asia Tenggara (South-East Asian Writers Meet) di Kualalumpur (2001), Festival Poetry on the
Road di Bremen, Jerman (2004). Puisi-puisinya diterjemahkan
ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Dimuat dalam berbagai antologi.
Puisi-puisi siswa dan siswi SMUN 1 Jatinom, Klaten, Jawa Tengah.
Pengecut
Sang surya gagah berani
Dengan sombong sekali
Menyinari bumi ini
Panasi siang hari
Bagaimana malam nanti
Sanggupkah ia tampakkan diri
Ia hanya sembunyi
Di balik rembulan, sang permaisuri
Jiyono
Melati
Butir-butir embun pagi
Membasahi tiap helai kuntum melati
Hatinya menarik hati
Untuk mendekat, menyentuh dan menciumi
Melati tetap putih suci
Walaupun tumbuh di atas lumpur hitam tak bertepi
Wanita bagai melati....
Harga diri harus dijaga sampai mati
Lalu aku teringat pada wanita malang
Yang kehilangan kehormatan
Hilang kehormatan hancur segalanya
Melati layu, jatuh ke tanah
Terkena rayu sang kumbang jantan
Penyesalan hadir setelah semua terjadi
Sang waktu tak mungkin dapat kembali
Tangis pilu tak ada arti
Mati bunuh diri dikutuk Ilahi
Lalu kemana harus pergi...?
Di dunia mendapat caci maki,
Di akhirat mendapat siksa pedih Ilahi.
Parida P.
Astuti
Hilang
Aku memungut air mata
Dalam keraguan tanpa makna
Aku mengemas senyum
Dan membawa cinta yang ranum
Rindu demi rindu luntur seketika
Aku mengajarnya namun percuma saja
Dia lenyap dalam pekat kegelapan
Aku mencari namun tak kutemukan
Aku bimbang dengan semua ini
Haruskah aku mencari
Cinta yang telah mati
Dan mimpiku yang kian pergi
Helga Sandra
Alfiandari
Sumber Tulisan : Majalah Sastra HORISON edisi Kaki Langit 87/Maret
2004 halaman 20.
Sumber Foto : https://id.wikipedia.org/wiki/Jamal_D._Rahman
Friday, August 23, 2019
Memaknai Hari Sumpah Pemuda
Hari Sumpah Pemuda dalam Bingkai Pendidikan Dasar
Pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 merupakan
hari bersejarah bagi Negara Indonesia. Pada tanggal ini pula lapisan pemuda
dari berbagai daerah berkumpul untuk menyatukan suatu tujuan dan pemikiran akan
adanya satu tanah yang bernama “tanah air Indonesia”, akan ada bangsa yang
bernama “bangsa Indonesia”, dan akan ada bahasa yang memepersatukannya yang
dinamai “bahasa Indonesia”. Kemudian hasil dari perkumpulan itupun tercipta
semboyan yang bersejarah, yakni:
“Kami
putra dan putri Indonesia megaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
Kami
putra dan putri Indonesia megaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
Hari besar ini tentu tidak luput dari
sorotan dunia pendidikan sebagai garda terdepan dalam memperingatinya. Hampir
semua lapisan instansi pendidikan dan pemerintahan pada hari nan bersejarah ini
melaksanakan upacara bendera sebagai seremonial mengingat kembali sejarah awal
terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa. Begitu pula halnya dengan salah
satu sekolah yang berada di ujung barat Kota Jakarta yang bernama Sekolah Dasar Negeri
Duri Kosambi 06 Pagi ikut serta meramaikan kemeriahan hari yang selalu dikenang
oleh bangsa ini.
Upacara kali ini, tentunya bukan hanya
seremonial belaka yang hanya berdiri, menghormat bendera, menyanyikan lagu
Indonesia raya, lalu mendengarkan amanat pembina upacara. Namun siswa dan semua yang hadir diajak untuk memaknai sumpah pemuda tersebut. Drs. Jumangin selaku pembina
upacara memberikan amanat untuk semua yang hadir pada upacara kali ini, mengenai
pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, saling menghormati satu sama
lain dan bagaimana cara mencintai tanah air yang indah ini.
Menjaga persatuan dan kesatuan dalam
pandangan pendidikan dasar dimulai dengan saling menghargai sesama temannya.
Menghargai dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik menghargai seseorang
yang berlatar belakang keluarga yang sama, misalnya: secara suku, agama, ras dan
kebiasaan, begitupun sebaliknya. Hal ini, akan menjadi salah satu wujud adanya
persatuan dan kesatuan yang kokoh jika diantara sesama warga bangsa sudah mampu
menerapkannya dengan baik.
Pada tatanan ini pula, siswa sebagai
generasi emas masa depan diarahkan untuk selalu memelihara persatuan dalam laku
sosialnya dan kesatuan dalam menanamkan sikapnya sebagai pelajar yang baik
secara moral. Pada pelaksaan itulah maka setidaknya tujuan dari cita-cita
pendidikan yakni karakter building telah mulai terpapar dalam sikap keseharian.
Oleh karena itu, ketika siswa melakukan kesalahan dalam bersikap yang mengarah
pada tercorengnya persatuan dan kesatuan, guru sebagai pendidik
sekaligus pembimbing wajib untuk mengingatkannya kembali pada perilaku yang
semestinya.
Setelah saling menghargai dalam tingkah
yang baik, selanjutnya menurut pembina upacara, makna sumpah pemuda dapat diartikan pula sebagai sarana pengingat untuk saling menghormati dalam berbagai
kesempatan. Menghormati tersebut dapat berupa menghormati teman yang berbeda
dalam bersikap, bertindak maupun mengambil keputusan yang dia yakini
kebenarannya. Dengan sebab itu, maka terciptanya persatuan dan kesatuan akan sangat terlihat dalam keseharian yang penuh dengan kedamaian di lingkungan yang
manapun. Karena menghormati adalah bagian dari makna persatuan dan kesatuan,
maka sudah harga mati harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran oleh warga
bangsa yang bermoral.
Pada akhirnya, cinta tanah air adalah
bagian daripada penerapan dari dua sikap di atas yang harus tertanam dalam
setiap wujud warga bangsa yang merasa bahwa Indonesia adalah negara yang
seharusnya dijaga dan dilingdungi dari pencemaran provokasi yang dapat memecah
belah persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia bukan negara yang diberikan
begitu saja oleh penjajah, bukan negara yang tanpa tujuan, bukan pula negara
tanpa jajahan yang dapat mengelola bangsanya dari jaman kerajaan sampai
sekarang.
Tapi Indonesia adalah negara yang
diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pahlawan negeri ini, pengorbanan demi
pengorbanan telah berguguran selama 3,5 abad yang lalu, melawan untuk waktu
yang sangat lama dari sabang sampai merauke dan dari miangas sampai pulau rote
adalah karakter sebenarnya yang telah ditunjukkan oleh para pecinta dan pejuang
bangsa yang pernah berlumuran darah ini.
Maka sudah seharusnya, pada masa emas
bangsa seperti saat ini, tidak hanya menari meneriakkan kemerdekaan bangsanya,
tetapi ikut pula merasakan cinta kepada tanah airnya tanpa alasan apapun.
Merasa terpatri bahwa nenek moyangnya sedang berpesan kepadanya dengan berucap "Cintailah negeri
ini dengan sepenuh hati tanpa pamrih, karena aku nenek moyangmu telah memeprjuangkan kemerdekaan ini dengan penuh keyakinan bahwa masa depan
Indonesia adalah masa depan anak cucuku kelak".
Baca Juga:
Memaknai Sumpah Pemuda Di Lingkungan Sekolah Dasar
Butir - Butir Pancasila dan Penjelasannya
Pengibar Sangsaka Merah Putih
Makna dan Nilai yang Terkandung dalam Pancasila
Baca Juga:
Memaknai Sumpah Pemuda Di Lingkungan Sekolah Dasar
Butir - Butir Pancasila dan Penjelasannya
Pengibar Sangsaka Merah Putih
Makna dan Nilai yang Terkandung dalam Pancasila
Sumber Foto : https://www.liputan6.com/citizen6/read/3678382/5-fakta-hari-sumpah-pemuda-yang-wajib-kaum-milenial-ketahui?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F
Tuesday, August 20, 2019
Soal Ulangan Harian Kelas 4 Tema 1 Sub Tema 2 dan Sub Tema 3 Kurikulum 2013 Revisi
Salam pendidikan. Sahabat guru yang berbahagia, kali ini admin akan membagikan contoh soal ulangan harian untuk kelas 4 tema 1 sub tema 2 dan sub tema 3. Soal berjumlah 30 item dengan 2 tipe soal, yakni soal isian dan soal uraian. Penyusunan soal didasarkan atas materi yang telah dipelajari di dalam kelas. Sebagian soal diperoleh dari internet dan sebagiannya lagi diperoleh dari buku pegangan siswa dan guru di kelas. Penyesuaian soal menjadi salah satu bagian dari latar belakang yang lainnya ketika soal ini tercatat di halaman ini.
Pentingnya menyusun soal ulangan harian mungkin sama halnya dengan kepentingan menyusun materi ajar yang akan disampaikan pada peserta didik. Namun bedanya hanya waktunya saja, jika soal ulangan harian dibuat setelah materi ajar selesai dalam kurun waktu tertentu, maka materi ajar dibuat sebelum pembelajaran dimulai. Kebutuhan akan soal ulangan berbanding lurus pula dengan program semester yang telah dibuat dan ditentukan secara berkala.
Ulangan harian sebagai sasaran evaluasi dan penilaian bagi peserta didik dalam hal ini. Dengan demikian, guru sebagai pengajar dapat mengetahui kemampuan anak didiknya dalam memahami pelajaran yang telah dia berikan. Kegiatan semacam ini tentunya menjadi bagian yang sudah sering dilaksanakannya setiap pengajaran berlangsung. Namun, kebutuhan akan soal setiap periodenya akan berbeda karena peserta didik yang dia ajar memiliki karakteristik yang berbeda dengan angkatan sebelumnya.
Pada kesempatan kali ini, soal dibuat khusus untuk materi ajar tema 1 sub tema 2 dan sub tema 3. Bagian evaluasi ini diperlukan sebagai ukuran capaian peserta didik memahami dan menguasai materi yang telah dipelajarinya selama ini. Kaitannya dengan itu, hasil dari evaluasi akan menjadi dasar tindak lanjut yang harus dilakukan oleh guru untuk pembelajaran selanjutnya.
Pentingnya menyusun soal ulangan harian mungkin sama halnya dengan kepentingan menyusun materi ajar yang akan disampaikan pada peserta didik. Namun bedanya hanya waktunya saja, jika soal ulangan harian dibuat setelah materi ajar selesai dalam kurun waktu tertentu, maka materi ajar dibuat sebelum pembelajaran dimulai. Kebutuhan akan soal ulangan berbanding lurus pula dengan program semester yang telah dibuat dan ditentukan secara berkala.
Ulangan harian sebagai sasaran evaluasi dan penilaian bagi peserta didik dalam hal ini. Dengan demikian, guru sebagai pengajar dapat mengetahui kemampuan anak didiknya dalam memahami pelajaran yang telah dia berikan. Kegiatan semacam ini tentunya menjadi bagian yang sudah sering dilaksanakannya setiap pengajaran berlangsung. Namun, kebutuhan akan soal setiap periodenya akan berbeda karena peserta didik yang dia ajar memiliki karakteristik yang berbeda dengan angkatan sebelumnya.
Pada kesempatan kali ini, soal dibuat khusus untuk materi ajar tema 1 sub tema 2 dan sub tema 3. Bagian evaluasi ini diperlukan sebagai ukuran capaian peserta didik memahami dan menguasai materi yang telah dipelajarinya selama ini. Kaitannya dengan itu, hasil dari evaluasi akan menjadi dasar tindak lanjut yang harus dilakukan oleh guru untuk pembelajaran selanjutnya.
Kurikulum 2013 untuk kelas 4 sudah lebih dahulu diterapkan di sekolah-sekolah, khususnya sekolah yang berlatar belakang negeri. Selain kelas 4, kelas 1 juga sama dilaksanakan lebih dahulu. Oleh sebab itu, tentu sudah banyak sekali tipe atau cara evaluasi untuk tingkat kelas tersebut, tinggal bagaimana guru mencari dan memperolehnya saja. Selain itu, soal-soal ulangan harian yang sejenis tentu sudah sangat banyak sekali di google maupun media lainnya,
Soal yang dibagikan kali ini dapat pula dijadikan sebagai bahan untuk membuat evaluasi pembelajaran pada tema 1 untuk kelas 4 SD maupun MI. Dengan senang hati bila sahabat sekalian ingin mengcopy atau menyadurnya. Jikapun ada kesamaan dengan soal lainya yang telah ada, itu bagian dari intisari soal yang admin copy pula dari blog lainnya. Terimakasih dan Salam Pendidikan.
Soal yang dibagikan kali ini dapat pula dijadikan sebagai bahan untuk membuat evaluasi pembelajaran pada tema 1 untuk kelas 4 SD maupun MI. Dengan senang hati bila sahabat sekalian ingin mengcopy atau menyadurnya. Jikapun ada kesamaan dengan soal lainya yang telah ada, itu bagian dari intisari soal yang admin copy pula dari blog lainnya. Terimakasih dan Salam Pendidikan.
Soal Ulangan Harian Matematika Tema 1 Sub Tema 1 Kelas 6
Soal Ulangan Harian Tema 1 Sub Tema 1 Kelas 6
Soal Ulangan Harian Tema 1 Sub Tema 2 Kelas 6
Soal Ulangan Harian Tema 1 Sub Tema 1 Kelas 4
Soal Ulangan Harian Tema 1 Sub Tema 2 & 3 Kelas 4
SOAL ULANGAN HARIAN
TEMA 1 SUB TEMA 2 & 3
|
|||
Nama
Siswa
|
: ...................................
|
Nilai
|
: ...............................
|
No
Absen
|
: ...................................
|
TTD
Orang Tua
|
: ...............................
|
Kerjakan soal-soal berikut ini !
1. Pada bacaan untuk menentukan ide utama, dapat berupa menentukan kalimat inti atau dapat pula berupa berupa pokok
paragraf disebut ............
2.
Uraian yang menunjukan informasi tambahan untuk gagasan pokok disebut ........
3.
Perhatikan gambar
dibawah ini!
Jam gadang terkenal sebagai menara jam yang terletak di salah satu kota yang berada di provinsi Sumatera Barat, tepatnya di pusat kota
...........
4.
Perhatikan gambar
dibawah in!
Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat pada gambar di atas yaitu ......
5.
Sebutkan contoh-contoh
kerjasama di dalam lingkungan masyarakat!
6. Sebutkan contoh-contoh
sumber bunyi yang dapat dihasilkan di tempat tinggalmu!
7.
Jelaskan bagaimana proses telinga ketika merasakan getaran!
8.
Sebutkan beberapa manfaat
kerjasama yang terjadi di lingkungan masyarakat!
9.
Sebutkan 5 bagian-bagian
telinga yang kamu ketahui!
10.
Jelaskan bagaimana proses
terjadinya pendengaran pada manusia!
11. Telinga atau pendengaran merupakan alat
indera pada manusia sangat pentinga adanya. Bagaimana cara mensyukuri atas nikmat
telinga yang telah diberikan Tuhan kepadamu.
12.
Agar gendang
telinga tidak rusak maka apa yang semestinya dilakukan?
13.
Sebutkan nama-nama
perayaan hari besar pada setiap agama yang berada di Indonesia!
14.
Sebutkan ciri-ciri membuat ringkasan!
15.
Apa sajakah manfaat dari
seseorang membuat ringkasan?
16.
Perhatikan gambar dibawah ini!
Gambar di atas
merupakan salah satu contoh makanan yang berasal dari Betawi. Apakah nama makanan tersebut ............
17.
Perhatikan gambar dibawah ini!
Keberagaman
Indonesia tercermin pada rumah adat. Gambar diatas merupakan rumah adat
masyarakat Nangroe Aceh Darussalam yang bernama ...........
18.
Perhatikan gambar dibawah ini!
Gambar diatas
merupakan rumah adat masyarakat provinsi Maluku yang bernama .........
19.
Suatu hari Udin, Beni dan Edo bermain kedalam sebuah gua
yang tidak jauh dari kampung mereka. Di dalam gua mereka berteriak dan suara
mereka terdengar memantul. Bunyi pantul setelah bunyi asli selesai terucapkan
disebut .......
20.
Gudeg merupakan makanan tradisional khas daerah ........
21.
Bunyi yang dipantulkan oleh dinding yang jaraknya tidak
jauh dari sumber bunyi disebut........
22.
Bunyi juga dapat diserap. Benda-benda yang dapat menyerap
bunyi adalah benda yang permukaannya lunak, Benda yang demikian disebut peredam
bunyi, misalnya ........
23.
Perhatikan gambar dibawah ini!
Gambar diatas merupakan budaya
masyarakat Nias yang disebut ............
24. Bunyi
memerlukan media penghantar untuk bisa terdengar. Salah satu contoh media
penghantar untuk perambatan bunyi yaitu …….
25.
Sebutkan makanan tradisonal beserta daerah asal yang kamu
ketahui!
26. Perhatikan gambar dibawah ini!
Gambar diatas merupakan contoh karya
seni mozaik.
Apa yang kalian
ketahui mengenai mozaik?
27. Bagaimanakah
bunyi dapat memantul?
28. Sebutkan
dan jelaskan macam-macam bunyi pantul!
29. Gema
terjadi karena bunyi dipantulkan oleh dinding yang jaraknya jauh dari sumber
bunyi. Dimanakah gema biasanya terjadi?
30.
Dimana biasanya
alat peredam digunakan?
Kunci Jawaban
1.
Gagasan pokok.
2.
Gagasan pendukung.
3.
Bukit Tinggi.
4.
Gotong royong dalam
membersihkan lingkungan.
5.
Contoh kerjasama
dilingkungan masyarakat :
·
Gotong royong
membersihkan lingkungan.
·
Ronda
6.
Bel rumah, televisi,
radio, gitar.
7.
Semua bunyi membuat
udara bergetar. Getaran bunyi mengenai gendang telinga yang berupa selembar
kulit tipis. Saat itulah gendang telingamu juga mulai bergetar. Getaran dari
gendang telingamu menjadi lebih besardi telinga tengahmu dan diubah menjadi
pesan-pesan listrik di telinga dalammu.
8.
Manfaat kerjasama
dalam lingkungan masyarakat :
·
Meringankan
pekerjaan.
·
Menjalin hubungan
kekeluargaan.
·
Menjalin persatuan
kesatuan dalam keberagaman.
9.
Bagian-bagian
telinga :
·
Telinga Luar
·
Telinga tengah
·
Telinga dalam
10.
Proses terjadinya
pendengaran :
·
Gelombang Suara masuk melalui
telinga luar
·
Masuk ke membran timpani
·
Membran Timpani mengubah
gelombang suara menjadi getaran
·
Getaran Diteruskan ke Koklea
(Rumah Siput)
·
Getaran membuat cairan di
rumah siput bergerak
·
Pergerakan cairan merangsang
berbagai reseptor rambut di koklea (rumah siput)
·
Sel rambut akan bergetarà Getaran akan dikirim melalui saraf
sensoris menuju otak dalam bentuk impuls
·
Otak menerima impuls dan
menerjemahkannya sebagai suara
11.
Digunakan untuk
mendengarkan suara yang baik dan bermanfaat
12.
Menhindari suara
yang keras masuk telinga, jika ada suara keras maka segera menutup telinga.
13.
Perayaan hari besar
setiap agama :
·
Islam : Hari Raya Idul Fitri.
·
Kristen : Natal
·
Hindu : Hari raya Nyepi.
·
Budha : Hari raya waisak.
14.
Cara membuat
ringkasan :
·
Membaca Naskah Asli
·
Mencatat Gagasan Utama
·
Gunakan Kalimat Baru
·
Ketentuan Tambahan
15.
Cara membuat
ringkasan :
·
Memudahkan Membaca Isi Pokok
Suatu Bacaan
·
Memudahkan Mengingat Materi
·
Membantu Memahami Teks
16.
Dodol Betawi.
17.
Rumoh Aceh.
18.
Baileo
19.
Gema.
20.
Yogyakarta
21.
Gaung atau kerdam.
22.
Karpet, goni,
kertas, kain, busa, dan wol.
23.
Fahombo Batu atau
lompat batu.
24.
Udara, zat cair,
dan benda padat.
25.
Contoh makanan
tradisional misalnya:
·
Kerak telor dari
Jakarta
·
Dodol garut dari
Garut.
·
Gudeg dari
Yogyakarta
·
Rujak cingur dari
Surabaya.
26.
Seni dekorasi
bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan
perekat, kepingan benda-benda itu, antara lain kepingan pecahan keramik,
potongan kaca, potongan kertas, potongan daun, potongan kayu.
27. Bunyi dapat memantul, jika dalam perambatannya dihalangi
oleh benda yang permukaannya keras, seperti kayu, kaca, dinding, atau besi.
28. Macam-macam bunyi pantul :
·
Gaung atau kerdam
terjadi karena bunyi dipantulkan oleh dinding yang jaraknya tidak jauh dari
sumber bunyi. Hal itu menyebabkan datangnya bunyi pantul bersamaan dengan bunyi
asli yang belum selesai terucapkan. Akibatnya, bunyi pantul mengganggu bunyi
asli sehingga suara yang terdengar tidak jelas.
·
Gema terjadi karena
bunyi dipantulkan oleh dinding yang jaraknya jauh dari sumber bunyi. Hal itu
menyebabkan datangnya bunyi pantul setelah bunyi asli selesai terucapkan. Jadi,
bunyi pantul yang terdengar lengkap sesudah bunyi asli.
29. Gema sering terjadi di gua-gua, lembah-lembah, dan
bukit-bukit yang jaraknya jauh serta permukaannya keras dan rapat.
30. Dinding dan langit-langit gedung pertemuan, studio
rekaman, dan gedung bioskop.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Artikel Terkait
Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020
s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia, pada artikel kali in...
- Yan Firmansyah
- Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta









