Hari Sumpah Pemuda dalam Bingkai Pendidikan Dasar
Pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 merupakan
hari bersejarah bagi Negara Indonesia. Pada tanggal ini pula lapisan pemuda
dari berbagai daerah berkumpul untuk menyatukan suatu tujuan dan pemikiran akan
adanya satu tanah yang bernama “tanah air Indonesia”, akan ada bangsa yang
bernama “bangsa Indonesia”, dan akan ada bahasa yang memepersatukannya yang
dinamai “bahasa Indonesia”. Kemudian hasil dari perkumpulan itupun tercipta
semboyan yang bersejarah, yakni:
“Kami
putra dan putri Indonesia megaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia
Kami
putra dan putri Indonesia megaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.
Hari besar ini tentu tidak luput dari
sorotan dunia pendidikan sebagai garda terdepan dalam memperingatinya. Hampir
semua lapisan instansi pendidikan dan pemerintahan pada hari nan bersejarah ini
melaksanakan upacara bendera sebagai seremonial mengingat kembali sejarah awal
terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa. Begitu pula halnya dengan salah
satu sekolah yang berada di ujung barat Kota Jakarta yang bernama Sekolah Dasar Negeri
Duri Kosambi 06 Pagi ikut serta meramaikan kemeriahan hari yang selalu dikenang
oleh bangsa ini.
Upacara kali ini, tentunya bukan hanya
seremonial belaka yang hanya berdiri, menghormat bendera, menyanyikan lagu
Indonesia raya, lalu mendengarkan amanat pembina upacara. Namun siswa dan semua yang hadir diajak untuk memaknai sumpah pemuda tersebut. Drs. Jumangin selaku pembina
upacara memberikan amanat untuk semua yang hadir pada upacara kali ini, mengenai
pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, saling menghormati satu sama
lain dan bagaimana cara mencintai tanah air yang indah ini.
Menjaga persatuan dan kesatuan dalam
pandangan pendidikan dasar dimulai dengan saling menghargai sesama temannya.
Menghargai dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik menghargai seseorang
yang berlatar belakang keluarga yang sama, misalnya: secara suku, agama, ras dan
kebiasaan, begitupun sebaliknya. Hal ini, akan menjadi salah satu wujud adanya
persatuan dan kesatuan yang kokoh jika diantara sesama warga bangsa sudah mampu
menerapkannya dengan baik.
Pada tatanan ini pula, siswa sebagai
generasi emas masa depan diarahkan untuk selalu memelihara persatuan dalam laku
sosialnya dan kesatuan dalam menanamkan sikapnya sebagai pelajar yang baik
secara moral. Pada pelaksaan itulah maka setidaknya tujuan dari cita-cita
pendidikan yakni karakter building telah mulai terpapar dalam sikap keseharian.
Oleh karena itu, ketika siswa melakukan kesalahan dalam bersikap yang mengarah
pada tercorengnya persatuan dan kesatuan, guru sebagai pendidik
sekaligus pembimbing wajib untuk mengingatkannya kembali pada perilaku yang
semestinya.
Setelah saling menghargai dalam tingkah
yang baik, selanjutnya menurut pembina upacara, makna sumpah pemuda dapat diartikan pula sebagai sarana pengingat untuk saling menghormati dalam berbagai
kesempatan. Menghormati tersebut dapat berupa menghormati teman yang berbeda
dalam bersikap, bertindak maupun mengambil keputusan yang dia yakini
kebenarannya. Dengan sebab itu, maka terciptanya persatuan dan kesatuan akan sangat terlihat dalam keseharian yang penuh dengan kedamaian di lingkungan yang
manapun. Karena menghormati adalah bagian dari makna persatuan dan kesatuan,
maka sudah harga mati harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran oleh warga
bangsa yang bermoral.
Pada akhirnya, cinta tanah air adalah
bagian daripada penerapan dari dua sikap di atas yang harus tertanam dalam
setiap wujud warga bangsa yang merasa bahwa Indonesia adalah negara yang
seharusnya dijaga dan dilingdungi dari pencemaran provokasi yang dapat memecah
belah persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia bukan negara yang diberikan
begitu saja oleh penjajah, bukan negara yang tanpa tujuan, bukan pula negara
tanpa jajahan yang dapat mengelola bangsanya dari jaman kerajaan sampai
sekarang.
Tapi Indonesia adalah negara yang
diperjuangkan kemerdekaannya oleh para pahlawan negeri ini, pengorbanan demi
pengorbanan telah berguguran selama 3,5 abad yang lalu, melawan untuk waktu
yang sangat lama dari sabang sampai merauke dan dari miangas sampai pulau rote
adalah karakter sebenarnya yang telah ditunjukkan oleh para pecinta dan pejuang
bangsa yang pernah berlumuran darah ini.
Maka sudah seharusnya, pada masa emas
bangsa seperti saat ini, tidak hanya menari meneriakkan kemerdekaan bangsanya,
tetapi ikut pula merasakan cinta kepada tanah airnya tanpa alasan apapun.
Merasa terpatri bahwa nenek moyangnya sedang berpesan kepadanya dengan berucap "Cintailah negeri
ini dengan sepenuh hati tanpa pamrih, karena aku nenek moyangmu telah memeprjuangkan kemerdekaan ini dengan penuh keyakinan bahwa masa depan
Indonesia adalah masa depan anak cucuku kelak".
Baca Juga:
Memaknai Sumpah Pemuda Di Lingkungan Sekolah Dasar
Butir - Butir Pancasila dan Penjelasannya
Pengibar Sangsaka Merah Putih
Makna dan Nilai yang Terkandung dalam Pancasila
Baca Juga:
Memaknai Sumpah Pemuda Di Lingkungan Sekolah Dasar
Butir - Butir Pancasila dan Penjelasannya
Pengibar Sangsaka Merah Putih
Makna dan Nilai yang Terkandung dalam Pancasila
Sumber Foto : https://www.liputan6.com/citizen6/read/3678382/5-fakta-hari-sumpah-pemuda-yang-wajib-kaum-milenial-ketahui?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com%2F


No comments:
Post a Comment