Friday, December 13, 2019

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS)


pengertian, aplikasi, penerapan, penggunaan Model-Model Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS)

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) - Hots (Higher Order Thinking Skill) atau pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan program yang sedang digalakkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan serta meningkatkan kualitas lulusan disetiap sekolah.

Apakah sudah layak pengembangan Hots ini diterapkan di Indonesia? Secara keseluruhan memang sudah seharusnya pengembangan ini diselenggarakan. Entah nantinya ada problem dan penolakan yang berdatangan, itu soal lain dari pada perbaikan yang harus dijelaskan secara mendalam kepada siapa saja yang masih bertanya-tanya tentang hots ini, sehingga setiap orang mampu memahami tujuan yang sebenarnya.

Pengertian Higher Order Thinking Skill (Hots)

Hots atau keterampilan tingkat tinggi menurut Resnick (1987) adalah proses berpikir yang kompleks dalam menguraikan suatu materi, membuat suatu kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan cara melibatkan aktivitas mental yang paling besar.

Keterampilan berpikir tinggat tinggi digunakan pula dalam pengembangan dalam tahapan-tahapan yang ada didalam teori taksonomi bloom. Menurut teori tersebut, keterampilan dibagi menjadi dua bagian penting, diantaranya.

Pertama, keterampilan tingkat rendah yakni meliputi keterampilan mengingat (remembering), memahami (understanding), dan penerapan (applying).

Kedua, keterampilan tingkat tinggi yang meliputi keterampilan menganalisis (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating).

Model Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (Hots)

Berikut ini merupakan tiga model pembelajaran yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial, dan rasa ingin tahu yang tinggi yang tercantum dalam Permendikbud No. 22 tentang standar proses. Tiga model pembelajaranya tersebut diantaranya sebagai berikut.

1.         Model Pembelajaran Discovery/Inquiry Learning (penemuan/pencarian)

Merupakan pembelajaran yang menekankan bagaimana memahami konsep, memahami arti, dan hubungan melalui intuitif sehingga sampai pada kemampuan menyimpulkan.

Penemuan dilakukan melalui observasi, klarifikasi, pegukuran, penentuan, prediksi, dan inferensi. Keterampilan tersebut disebut proses pengetahuan dan penemuan disebut oleh Robert (2001) sebagai the mental process of assimilating concepts and principles in the min.

Adapun langkah-langkah pembelajarannya (sintak) pada model Discovery Learning adalah sebagai berikut.
a.       Pemberian rangsangan (stimulation);
b.      Identifikasi masalah (problem statement);
c.       Pegumpulan data (data collection);
d.      Pengolahan data (data processing);
e.       Pembuktian (verification); dan
f.        Menarik kesimpulan (generalization)




Sedangkan langkah-langkah pembelajaran (sintak) pada model Inquiry Learning menurut Joice dan Wells (2003) sebagai berikut.
a.       Orientasi masalah;
b.      Pengumpulan data dan verifikasi;
c.       Pengumpulan data melalui eksperimen;
d.      Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi; dan
e.       Analisis proses inquiri.





2.        Model Pembelajaran Problem Based Learning (berbasis masalah)

Seng (2000) mengemukakan model pembelajaran berbasis masalah sebagai pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik atau siswa secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual. Tujuannya supaya siswa mengalami peningkatan kemampuan dalam menerapkan konsep pada setiap permasalahan baru yang dihadapinya.

Langkah-langkah pembelajaran (sintak) berbasis masalah (Problem Based Learning) menurut Arends (2012) sebagai berikut.
a.       Orientasi masalah;
b.      Mengorganisasikan siswa untuk belajar;
c.       Membimbing individu maupun kelompok;
d.      Mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan
e.       Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.



3.        Model Pembelajaran Project Based Learning (berbasis proyek)

Model pembelajaran yang melibatkan keaktifan siswa dalam memecahkan sebuah masalah adalah pembelajaran berbasis proyek. Proyek dikerjakan secara mandiri maupun secara kelompok melalui tahapan-tahapan ilmiah dengan dibatasi waktu tertentu yang kemudian dituangkan dalam sebuah produk. Hasil produk kemudian dipaparkan kepada teman sebaya atau kelompok lain.

Ciri-ciri pembelajaran berbasis proyek ada lima bentuknya, diantaranya sebagai berikut.
a. Penyelesaian tugas dilakukan secara mendiri, yang dimulai dari tahap perencanaan, penyusunan, sampai pemaparan produk;
b.    Proyek melibatkan peran teman sejawat, guru, orang tua, bahkan masyarakat;
c.     Melatih kemampuan berpikir kreatif; dan
d.    Situasi kelas sangat toleran dengan kekurangan dan perkembangan gagasan.





No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta