pengertian, aplikasi, penerapan, penggunaan Model-Model Pembelajaran Higher Order Thinking Skill (HOTS)

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) - Hots (Higher
Order Thinking Skill) atau pembelajaran berorientasi pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi merupakan program yang sedang digalakkan oleh
kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam upaya meningkatkan kualitas
pendidikan serta meningkatkan kualitas lulusan disetiap sekolah.
Apakah sudah layak pengembangan Hots
ini diterapkan di Indonesia? Secara keseluruhan memang sudah seharusnya
pengembangan ini diselenggarakan. Entah nantinya ada problem dan penolakan yang
berdatangan, itu soal lain dari pada perbaikan yang harus dijelaskan secara
mendalam kepada siapa saja yang masih bertanya-tanya tentang hots ini, sehingga
setiap orang mampu memahami tujuan yang sebenarnya.
Pengertian Higher Order Thinking Skill (Hots)
Hots atau keterampilan tingkat tinggi menurut Resnick (1987) adalah
proses berpikir yang kompleks dalam menguraikan suatu materi, membuat suatu
kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan
cara melibatkan aktivitas mental yang paling besar.
Keterampilan berpikir tinggat tinggi digunakan pula dalam pengembangan
dalam tahapan-tahapan yang ada didalam teori taksonomi bloom. Menurut teori tersebut, keterampilan dibagi
menjadi dua bagian penting, diantaranya.
Pertama, keterampilan tingkat rendah yakni meliputi keterampilan
mengingat (remembering), memahami (understanding), dan penerapan (applying).
Kedua, keterampilan tingkat tinggi yang meliputi keterampilan
menganalisis (analysing),
mengevaluasi (evaluating), dan
mencipta (creating).
Model Pembelajaran Higher
Order Thinking Skill (Hots)
Berikut ini merupakan tiga model pembelajaran yang diharapkan dapat
membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial, dan rasa ingin tahu yang tinggi
yang tercantum dalam Permendikbud No. 22 tentang standar proses. Tiga model
pembelajaranya tersebut diantaranya sebagai berikut.
1.
Model Pembelajaran Discovery/Inquiry
Learning (penemuan/pencarian)
Merupakan pembelajaran yang
menekankan bagaimana memahami konsep, memahami arti, dan hubungan melalui
intuitif sehingga sampai pada kemampuan menyimpulkan.
Penemuan dilakukan melalui
observasi, klarifikasi, pegukuran, penentuan, prediksi, dan inferensi. Keterampilan
tersebut disebut proses pengetahuan dan penemuan disebut oleh Robert (2001)
sebagai the mental process of
assimilating concepts and principles in the min.
Adapun langkah-langkah
pembelajarannya (sintak) pada model Discovery
Learning adalah sebagai berikut.
a.
Pemberian rangsangan (stimulation);
b.
Identifikasi masalah (problem
statement);
c.
Pegumpulan data (data collection);
d.
Pengolahan data (data processing);
e.
Pembuktian (verification); dan
f.
Menarik kesimpulan (generalization)


Sedangkan langkah-langkah
pembelajaran (sintak) pada model Inquiry
Learning menurut Joice dan Wells (2003) sebagai berikut.
a.
Orientasi masalah;
b.
Pengumpulan data dan verifikasi;
c.
Pengumpulan data melalui eksperimen;
d.
Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi; dan
e.
Analisis proses inquiri.


2. Model Pembelajaran Problem Based
Learning (berbasis masalah)
Seng (2000) mengemukakan
model pembelajaran berbasis masalah sebagai pembelajaran yang menggunakan
berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik atau siswa secara individu
maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga
bermakna, relevan, dan kontekstual. Tujuannya supaya siswa mengalami
peningkatan kemampuan dalam menerapkan konsep pada setiap permasalahan baru
yang dihadapinya.
Langkah-langkah pembelajaran
(sintak) berbasis masalah (Problem Based
Learning) menurut Arends (2012) sebagai berikut.
a.
Orientasi masalah;
b.
Mengorganisasikan siswa untuk belajar;
c.
Membimbing individu maupun kelompok;
d.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan
e.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

3. Model Pembelajaran Project Based
Learning (berbasis proyek)
Model pembelajaran yang
melibatkan keaktifan siswa dalam memecahkan sebuah masalah adalah pembelajaran
berbasis proyek. Proyek dikerjakan secara mandiri maupun secara kelompok
melalui tahapan-tahapan ilmiah dengan dibatasi waktu tertentu yang kemudian
dituangkan dalam sebuah produk. Hasil produk kemudian dipaparkan kepada teman
sebaya atau kelompok lain.
Ciri-ciri pembelajaran
berbasis proyek ada lima bentuknya, diantaranya sebagai berikut.
a. Penyelesaian tugas dilakukan secara mendiri, yang dimulai dari tahap
perencanaan, penyusunan, sampai pemaparan produk;
b.
Proyek melibatkan peran teman sejawat, guru, orang tua, bahkan
masyarakat;
c.
Melatih kemampuan berpikir kreatif; dan
d.
Situasi kelas sangat toleran dengan kekurangan dan perkembangan gagasan.



No comments:
Post a Comment