
Pembelajaran Matematika
PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA (MATHEMATICS MEANINGFUL LEARNING) - Pembelajaran
merupakan upaya memperbaiki lingkungan belajar dan memberi nuansa yang
mendukung dalam mencapai tujuan belajarnya. Proses pembelajaran dapat
direncanakan dan direkayasa sebelum pembelajaran itu akan dilaksanakan dengan
tidak meninggalkan tujuan bahwa belajar harus dapat menimbulkan perubahan
perilaku.
Menurut
Sumarmo (2003), kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam pengajaran matematika
bagi setiap guru diklasifikasikan kedalam lima standar yaitu kemampuan.
1.
Pernalaran matematika;
2.
Pemahaman matematika;
3.
Pemecahan masalah matematika;
4.
Melakukan koneksi matematika; dan
5.
Komunikasi matematika.
Pelajaran
matematika dianggap sulit oleh siswa disebabkan karena merupakan ilmu yang
hanya lebih terlihat mementingkan kemampuan nalarnya saja. Padahal kalo
dicermati berdasarkan klasifikasi di atas tentu masih ada kemampuan lainnya
yang berbeda. Lebih jauh dari itu, Hudoyo (2002) menjalaskan ada tiga
teori proses transfer belajar dalam matematika, yaitu.
1. Teori disiplin formal
Merupakan proses yang dilakukan oleh siswa
dalam menyusun konsep (teorema),
contohnya dalam memecahkan permasalahan. Nah masalah tersebut merupakan latihan
bagi siswa dalam memahami setiap konsep permasalahannya. Setelah memahami
konsep masalahnya maka siswa akan mulai mencari solusi yang tepat dalam
menyelesaikan masalahnya.
2. Teori unsur identik
Merupakan
suatu proses yang dilakukan oleh siswa dalam melatih setiap kemampuannya agar
lebih efektif, kemudian setiap kemampuan tersebut dihubungkan dengan kemampuan
lainnya. Misalnya, untuk membuat siswa terampil dalam memanipulasi kemampuan aljabarnya,
maka siswa tersebut dilatih secara berulang-ulang dalam penggunaannya.
3. Teori pengorganisasian kembali pengalaman.
Merupakan
proses yang dilakukan siswa dalam merangkai kembali pengalaman baru dari
pengamatan yang telah ada sebelumnya (bukan bagian–bagian).
Pengajaran Matematika
Polya (dalam
Surbakti, 2002) menjelaskan bahwa hakekat mengajar adalah mengetahui apa yang
ingin diajarkan dan mengetahui sesuatu lebih dari apa yang dapat diajarkan. Mengajar
tanpa memahami apa yang akan diajarkannya sama saja dengan membohongi diri sendiri
dan orang yang diajarinya.
Bagi guru
ketika mengarahkan siswa dalam mengajar, harus sesederhana mungkin dan bersifat
logis. Oleh karena siswa biasanya lebih tertarik dengan situasi-situasi yang
lebih sederhana terlebih dahulu kemudian setelah itu mereka akan tertantang
sendiri untuk mencoba hal yang lebih komplek.
Arahan
yang diberikan guru juga harus bersifat umum, diharapkan penerapannya tidak
hanya untuk persoalan saai ini, akan tetapi bagi semua masalah yang mungkin
harus dihadapi siswa di masa yang akan datang.
Teori Belajar Ausubel
Teori
belajar Ausubel merupakan teori yang relevan dengan pembelajaran yang menekankan
pada belajar bermakna. Teori ini menekankan mengenai bagaimana pentingnya
pengulangan sebelum belajar dimulai.
Teori
ini pula yang membedakan antara bagaimana belajar menemukan dan bagaimana belajar
menerima. Selain itu, ausubel membedakan pula antara bagaimana belajar
menghafal dengan belajar bermakna.
Ketika
siswa menghafal materi apa yang telah
diterimanya, sedangkan pada belajar bermakna materi yang telah diperolehnya itu
dikembangkan pada situasi lain sehingga belajarnya lebih dimengerti.
Pembelajaran Bermakna
Proses
membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman merupakan hakekat dari
pembelajaran menurut sebagian orang. Sedangkan upaya yang sistemik dan
sistematis dalam menata lingkungan belajar guna menumbuhkan dan mengembangkan
belajar siswa adalah pengertian dari pembelajaran itu sendiri.
Belajar
bermakna adalah suatu proses belajar dengan adanya keterkaitan informasi yang baru
dengan konsep-konsep yang relevan dalam struktur kognitif siswa. Proses
belajar dengan berusaha menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep yang
sudah ada inilah merupakan proses belajar yang bermakna.
Oleh
karena itu mengetahui konsep yang sudah ada pada siswa dan kemudian
menghubungkannya dengan konsep baru akan terjadi proses pemahaman yang akan
tersimpan dengan cukup cepat dan biasanya tidak gampang dilupakan. Bila tidak
dilakukan usaha untuk memadukan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan
yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa, maka pengetahuan baru tersebut
cenderung akan dipelajari secara hafalan. Pembelajaran bermakna merupakan
kebalikan dari pembelajaran teoretis.

No comments:
Post a Comment