Monday, January 13, 2020

PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA (MATHEMATICS MEANINGFUL LEARNING)



Pembelajaran Matematika

PEMBELAJARAN BERMAKNA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA (MATHEMATICS MEANINGFUL LEARNING)Pembelajaran merupakan upaya memperbaiki lingkungan belajar dan memberi nuansa yang mendukung dalam mencapai tujuan belajarnya. Proses pembelajaran dapat direncanakan dan direkayasa sebelum pembelajaran itu akan dilaksanakan dengan tidak meninggalkan tujuan bahwa belajar harus dapat menimbulkan perubahan perilaku. 

Menurut Sumarmo (2003), kemampuan dasar yang harus dimiliki dalam pengajaran matematika bagi setiap guru diklasifikasikan kedalam lima standar yaitu kemampuan.

1.         Pernalaran matematika;
2.         Pemahaman matematika;
3.         Pemecahan masalah matematika;
4.         Melakukan koneksi matematika; dan
5.         Komunikasi matematika.

Pelajaran matematika dianggap sulit oleh siswa disebabkan karena merupakan ilmu yang hanya lebih terlihat mementingkan kemampuan nalarnya saja. Padahal kalo dicermati berdasarkan klasifikasi di atas tentu masih ada kemampuan lainnya yang berbeda. Lebih jauh dari itu, Hudoyo (2002) menjalaskan ada tiga teori  proses transfer belajar dalam matematika, yaitu.

1.        Teori disiplin formal
Merupakan proses yang dilakukan oleh siswa dalam menyusun konsep (teorema), contohnya dalam memecahkan permasalahan. Nah masalah tersebut merupakan latihan bagi siswa dalam memahami setiap konsep permasalahannya. Setelah memahami konsep masalahnya maka siswa akan mulai mencari solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalahnya.

2.        Teori unsur identik
Merupakan suatu proses yang dilakukan oleh siswa dalam melatih setiap kemampuannya agar lebih efektif, kemudian setiap kemampuan tersebut dihubungkan dengan kemampuan lainnya. Misalnya, untuk membuat siswa terampil dalam memanipulasi kemampuan aljabarnya, maka siswa tersebut dilatih secara berulang-ulang dalam penggunaannya.

3.        Teori pengorganisasian kembali pengalaman.
Merupakan proses yang dilakukan siswa dalam merangkai kembali pengalaman baru dari pengamatan yang telah ada sebelumnya (bukan bagian–bagian).

Pengajaran Matematika
Polya (dalam Surbakti, 2002) menjelaskan bahwa hakekat mengajar adalah mengetahui apa yang ingin diajarkan dan mengetahui sesuatu lebih dari apa yang dapat diajarkan. Mengajar tanpa memahami apa yang akan diajarkannya sama saja dengan membohongi diri sendiri dan orang yang diajarinya.

Bagi guru ketika mengarahkan siswa dalam mengajar, harus sesederhana mungkin dan bersifat logis. Oleh karena siswa biasanya lebih tertarik dengan situasi-situasi yang lebih sederhana terlebih dahulu kemudian setelah itu mereka akan tertantang sendiri untuk mencoba hal yang lebih komplek.

Arahan yang diberikan guru juga harus bersifat umum, diharapkan penerapannya tidak hanya untuk persoalan saai ini, akan tetapi bagi semua masalah yang mungkin harus dihadapi siswa di masa yang akan datang.

Teori Belajar Ausubel

Teori belajar Ausubel merupakan teori yang relevan dengan pembelajaran yang menekankan pada belajar bermakna. Teori ini menekankan mengenai bagaimana pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai.

Teori ini pula yang membedakan antara bagaimana belajar menemukan dan bagaimana belajar menerima. Selain itu, ausubel membedakan pula antara bagaimana belajar menghafal dengan belajar bermakna.

Ketika siswa  menghafal materi apa yang telah diterimanya, sedangkan pada belajar bermakna materi yang telah diperolehnya itu dikembangkan pada situasi lain sehingga belajarnya lebih dimengerti.

Pembelajaran Bermakna

Proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman merupakan hakekat dari pembelajaran menurut sebagian orang. Sedangkan upaya yang sistemik dan sistematis dalam menata lingkungan belajar guna menumbuhkan dan mengembangkan belajar siswa adalah pengertian dari pembelajaran itu sendiri.

Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dengan adanya keterkaitan informasi yang baru dengan konsep-konsep yang relevan dalam struktur kognitif siswa.  Proses belajar dengan berusaha menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep yang sudah ada inilah merupakan proses belajar yang bermakna.

Oleh karena itu mengetahui konsep yang sudah ada pada siswa dan kemudian menghubungkannya dengan konsep baru akan terjadi proses pemahaman yang akan tersimpan dengan cukup cepat dan biasanya tidak gampang dilupakan. Bila tidak dilakukan usaha untuk memadukan pengetahuan baru dengan konsep-konsep relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa, maka pengetahuan baru tersebut cenderung akan dipelajari secara hafalan. Pembelajaran bermakna merupakan kebalikan dari pembelajaran teoretis.  

No comments:

Post a Comment

Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta