Tuesday, November 12, 2019

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) REVISI TERBARU TAKSONOMI BLOOM KURIKULUM 2013


contoh soal KATA KERJA OPERASIONAL berdasarkan REVISI TERBARU pada KURIKULUM 2013 yang berlandaskan TAKSONOMI BLOOM doc, pdf, ppt

Salam rekan-rekan semuanya, pada artikel sebelumnya saya sudah pernah share mengenai kko, kali ini saya share kembali materi kata kerja operasional atau yang disingkat kko yang sedikit berbeda. Perbedaannya terletak pada pembahasan mengenai ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor yang menurut hemat saya perlu adanya pembahasan karena merupakan bagian keterkaitan dengan materi kata kerja operasional. 

Namun sebelum beranjak pada tujuan utama yakni pembahasan mengenai kko, berikut ini saya akan menyinggung terlebih dahulu pembahasan mengenai pengertian dari tiga ranah tersebut. Secara berurutan pertama akan dibahas dulu mengenai ranah kognitif, kemudian ranah afektif dan kemudian ranah psikomotor. Ranah yang dimaksud artinya sama halnya dengan kecakapan pada penjelasan yang lainnya yang mungkin rekan-rekan pernah temui.

RANAH KOGNITIF

Pada ranah ini, pengembangannya tidak hanya berpengaruh untuk ranah kognitif saja, akan tetapi berpengaruh positif pula terhadap ranah afektif dan ranah psikomotor. Oleh karena itu, dengan adanya pengembangan kognitif ini secara tidak langsung seseorang sedang berupaya pula dalam mengembangkan ranah yang lainnya. Dalam bahasa lugasnya sambil menyelam minum air.

Pengembangan ranah kognitif yang harus guru kembangkan terkait dengan upaya positif terhadap siswa sangat beragam. Namun secara garis besar, yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar terhadap ranah kognitif siswa terbagi menjadi dua macam, yakni.
1.    Strategi belajar memahami isi materi pelajaran;
2.  Strategi menyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung didalam materi tersebut.

Pengertian strategi itu sendiri secara umum memiliki arti yaitu prosedur mental yang berbentuk tahapan yang membutuhkan upaya yang bersifat kognitif dan selalu dipengaruhi oleh pilihan kognitif atau kebiasaan belajar. Kata kuncinya adalah mental dan kebiasaan belajar yang bersifat kognitif.

Pilihan yang dimaksud yaitu memahami prinsip yang ada di dalam sebuah materi dan diikuti dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut secara nyata.

Kalo kita terjemaahkan secara seksama tentu akan ada beberapa pemahaman yang sedikit berbeda tentang pilihan atau dorongan kognitif setiap orang, akan tetapi hal tersebut akan terwakili oleh dua dorongan kognitif di bawah ini.

1.  Motif Ekstrinsik (dorongan dari luar) yakni dapat diartikan bahwa siswa belajar bukan timbul karena ia ingin belajar semata, akan tetapi ia mau belajar karena ingin naik kelas dan atau takut tinggal kelas. Jadi pada tahapan ini, pemahaman materi menurutnya tidak terlampau penting tetapi ia hanya sekedar ingin naik kelas atau lulus sekolah.

2.  Motif Intrinsik (dorongan dari dalam) sebaliknya dengan motif sebelumnya, motif ini mengartikan bahwa siswa memang memiliki ketertarikan dalam belajar dan membutuhkan pemahaman materi peajaran yang disajikan gurunya maupun yang dibacanya.

Ranah kognitif ini merupakan ranah yang mencakup kegiatan yang bersifat mental dalam hal ini otak. Termasuk dalam ranah kognitif apabila upaya tersebut menyangkut sebagala aktivitas yang berkaitan dengan perkembangan otak.  

Ranah kognitif  memiliki enam aspek utama, yaitu:
1. Knowledge (pengetahuan/hafalan/ingatan)
2. Comprehension (pemahaman)
3. Application (penerapan)
4. Analysis (analisis)
5. Syntesis (Sintesis)
6. Evaluation (penilaian/penghargaan/evaluasi)

Ranah kognitif memiliki tujuan yaitu berorientasi pada kemampuan berfikir mencakup kemampuan intelektual yang dipandang lebih sederhana, diantaranya mengingat sampai tertuju pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang telah dipelajarinya dalam memecahkan sebuah masalah.

Oleh karena itu, aspek kognitif ini merupakan sub-taksonomi yang menjelaskan tentang kegiatan mental yang berawal dari tingkat yang paling sederhana yaitu pengetahuan (knowlarge) sampai pada tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi (evaluation).

RANAH AFEKTIF

Sikap dan nilai merupakan titik utama dalam pengembangan ranah afektif. Oleh karena itu, ranah afektif ini mencakup pada watak dan perilaku seseorang seperti halnya perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.

Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diketahui arah perubahannya apabila orang tersebut sudah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi dalam dirinya.

Oleh karena itu, tingkah laku setiap siswa yang tampak maupun terlihat merupakan ciri-ciri hasil belajar afektif yang secara tidak sadar sudah diperlihatkan pada guru.

Berikut ini lima rincian turunan dari perkembangan ranah afektif, yaitu:
1. Receiving atau attending ( menerima atua memperhatikan)
2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
3. Valuing (menilai atau menghargai)
4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
5. Characterization by evalue or calue complex (karakterisasi suatu nilai)

RANAH PSIKOMOTOR

Keterampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang mendapatkan pengalaman belajar merupakan ciri dari ranah psikomotor. Hasil belajar pada ranah psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil ranah sebelumnya yaitu ranah kognitif dan ranah efektif. Lebih singkatnya, ranah psikomotor berhubungan dengan  aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.

Hasil belajar atau hasil evaluasi belajar keterampilan psikomotor dapat dikatahui melalui:
1. Pengamatan secara langsung dan penilaian terhadap tingkahlaku siswa selama pembelajaran berlangsung;
2. Pengukuran setelah mengikuti pembelajaran yakni ketika memberikan tes pada siswa guna mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap;
3.   Beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai.

Berhasil tidaknya pengembangan kognitif sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikomotor. Dimana kecakapan psikomotor merupakan kegiatan jasmani yang konkrit dan mudah diamati baik secarakuantitas maupun kualitas. Kecakapan psikomotor ini dapat diartikan pula sebagai manifestasi wawasan pengetahuan serta sikap mentalnya.

Pada ranah kognitif terdapat enam bagian proses berpikir yang berjenjang setiap aspeknya, mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Keenam aspek tersebut diantaranya adalah.

1.       Pengetahuan (knowledge)
Kemampuan seseorang dalam mengingat kembali atau recall, baik mengingat tentang nama, ide, istilah, dan sebagainya tanpa mengaharapkan kemampuan tersebut menggunakannya. Nah hal tersebut merupakan hal yang paling rendah dari pada aspek yang lainnya. Contoh hasil belajar pada ranah kognitif dengan cara mengingat yaitu seperti menghafal surat Annas pada mata pelajaran Agama Islam.

2.     Pemahaman (comprehension)
Kemampuan untuk memahami dan mengerti tentang sesuatu hal namun setelah suatu hal tersebut diketahui dan diingat olehnya. Memahami yang dimaksud yakni mengetahui tentang suatu hal itu dari berbagai segi. Sehingga dengan pemahamannya tersebut seseorang dapat menjelaskannya secara rinci dengan kata dan kalimatnya sendiri. Kemampuan semacam ini dapat dikatakan setingkat lebih tinggi dari kemampuan ingatan atau menghafal.

3.     Penerapan (application)
Merupakan kesanggupan seseorang dalam menggunakan atau menerapkan ide yang bersifat umum, cara maupun metode, prinsip, rumus, teori dan sebagainya dalam situasi yang konkrit dan kebaruan. Kemampuan penerapan ini merupakan proses berpikir yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan pemahaman.

Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

4.      Analisis (analysis)

Merupakan kemampuan untuk menguraikan atau merinci suatu bahan kedalam bagian-bagian yang lebih kecil serta mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut antara yang satu dengan yang lainnya. Kemampuan analisis lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan aplikasi.

Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.

5.     Sintesis (syntesis)

Merupakan kemampuan berpikir  yang sebaliknya dari kemampuan berpikir  analisis. Sisntesis dapat dikatakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian sesuatu secara logis, sehingga tercipta suatu pola yang terstruktur pada pola baru.
Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.

6.      Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)

Merupakan tingkat berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif yang dicetuskan dalam konsep Taksonomi Bloom. Penilian atau evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai dan ide. Misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan kriteria dan aturan yang ada.


Pada bagian ranah apektif, menurut Krathwol (1964) berdasarkan tujuannya terbagi menjadi lima bagian.

1.      Penerimaan (recerving)

Pada bagian ini, seseorang memiliki kemampuan memperhatikan dan memberi respon terhadap stimulus yang tepat. Pada tehap ini, penerimaan merupakan kunci utamanya, yakni seseorang hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh pemberi informasi kepadanya. Tahap penerimaan pada ranah apektif merupakan tingkat yang paling rendah dibandingkan dengan tingkat yang lainnya.

2.      Pemberian respon atau partisipasi (responding)

S
edikit berbeda dengan tahap penerimaan, pada tahap ini siswa tidak hanya menerima dan merespon saja stimulasi yang datang padanya, akan tetapi siswa memeiliki ketertarikan untuk ikut terlibat secara aktif menjadi bagian dari proses pembelajaran. Sehingga tercipta pembelajaran yang efektif antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi.

3.      Penilaian atau penentuan sikap (valuing)

Pada tahapan ini, seseorang mengacu pada nilai yang ditentukan oleh sikapnya sendiri dalam melihat suatu objek atau kejadian yang digambarkan dengan reaksi-reaksi tertentu, misalnya menerima, menolak dan tidak menghiraukan apa yang dilihat dan dirasakannya. Sikap dan apresiasi menjadi klasifikasi dari tujuan pada tahap ini.

4.      Organisasi (organization)

Penyatuan nilai merupakan dasar pada tahap organisai ini, yang di realisasikan dengan sikap-sikap yang berbeda dan membuatnya lebih konsisten pada sikap yang diyakininya. Meskipun dapat menimbukan konflik internal yang terjadi pada dirinya setiap waktu, namun secara tidak langsung akan membentuk suatu sistem nilai internal dalam dirinya, sehingga tercermin pada tingkah laku dalam kesehariannya.

5.     Karakterisasi/pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)

Karakter dan daya hidup sesorang menjadi acuan dari tahap ini. Nilai yang diyakininya semakin berkemabang secara teratur, sehingga realisasi tingkah lakunya dilakukan secara konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Keteraturan pribadi, sosial dan emosional jiwa merupakan tujuan utama dalam tahapan karakterisasi ini.



Pada ranah psikomotor klasifikasi tujuannya terbagi menjadi lima bagian utama (Davc, 1970) sebagai berikut.

1.       Peniruan

Hal ini terjadi ketika siswa melihat dan mengamati suatu gerakan yang diperhatikannya. Kemudian diikuti dengan proses pemberian respons sama persis dengan apa yang diamatinya. Hal ini dapat mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf pada siswa. Peniruan yang dimaksud adalah peniruan yang bersifat umum atau dalam bentuk global dan tidak begitu sempurna seperti apa yang dilihatnya.

2.       Manipulasi

Pada tahap ini, siswa tidak hanya meniru tingkahlakunya saja seperti tahap sebelumnya, namun siswa mampu menampilkan sesuatu menurut petunjuk dan aturannya. Dimana siswa sudah mampu melakukan penekanan terhadap dirinya dalam mengembangkan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang dilakukan melalui proses latihan.

3.       Ketetapan

Setingkat lebih tinggi dari tahapan sebelumnya, pada tahap ini seseorang sudah memiliki kecermatan, kepastian dan proporsi yang lebih tinggi dalam penampilan. Pada tahap ini pula respon-respon lebih terkoreksi dengan baik dan kesalahan-kesalahan yang terjadi sangat dibatasi pada tingkat minimum.

4.       Artikulasi

Pada tahap ini, penekanan terhadap koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan urutan yang tepat sangat diperhatikan untuk mencapai apa saja yang diharapkan sehingga membentuk adanya konsistensi internal diantara gerakan yang berbeda.

5.       Pengalamiahan

Tahap pengalamiahan ini merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam ranah psikomotor, tingkah laku yang ditampilkan sangat sedikit atau bahkan paling sedikit melakukan energi fisik dan psikis. Gerakan yang dilakukannya sangat begitu rutin, sehingga membentuk adanya pengalamiahan dengan sendirinya.

Monday, November 11, 2019

Kata Kerja Operasional KKO (Revisi) Taksonomi Bloom

contoh soal Kata Kerja Operasional atau KKO Revisi terbaru word pdf ppt dokumen rar berdasarkan Taksonomi Bloom 


Kata KerjaOperasional KKO (Revisi) Taksonomi Bloom - Para pendidik dan sahabatku sekalian pasti sudah sangat kenal dan akrab dengan istilah Taksonomi Bloom. Di dalam kamus KBBI, Taksonomi memiliki arti klasifikasi bidang ilmu pengetahuan, kaidah dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek.

Dengan kata lain, Taksonomi sebagai tujuan pendidikan dapat diartikan sebagai kategorisasi dari tujuan pendidikan yang dapat digunakan untuk merumuskan tujuan dari kurikulum dan tujuan pembelajaran itu sendiri.

Tujuan pendidikan yang berlandaskan pada kaidah Taksonomi Bloom pola awalnya merupakan rujukan dari taksonomi itu sendiri. Karena dengan Taksonomi itulah terciptalah istilah yang terkenal dengan nama Taksonomi Bloom pada saat ini ialah merupakan cikal bakal dari rujukan tujuan pendidikan.

Kenapa ada tambahan Bloom di belakang taksonomi? Karna orang yang pertama memperkenalkan taksonomi sekaligus sebagai orang yang merancang untuk yang pertama kali nya adalah Mr Benjamin S. Bloom pada tahun 1956.

Menurut pencetusnya, yaitu Bloom menjelaskan bahwa tujuan pendidikan terbagi menjadi bagian-bagian domain. Dan setiap domain terbagi lagi menjadi banyak bagiannya yang lebih beragam, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah ranah.

Berikut pembagian tujuan pendidikan yang dimaksud terbagi menjadi 3 ranah (domain), yakni.
1.         Ranah Kognitif
Isinya mengenai perilaku-perilaku yang mendominasi aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
2.         Ranah Afektif
Isinya mengenai perilaku-perilaku yang didominasi oleh aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
3.         Ranah Psikomotor
Isinya mengenai perilaku-perilaku yang lebih menekankan pada aspek keterampilan motorik (tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin).

Dalam pandangan yang lainnya disebutkan pula bahwa bapak pendidikan kita yaitu bapak Ki Hajar Dewantoro memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda dengan yang dimaksud di atas. Pemikiran beliau yang terkenal dengan ungkapan cipta, rasa, dan karsa yang dimana kebanyakan orang mengartikan sebagai ranah penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Guru menggunakan Taksonomi ini dengan tujuan untuk memperbaiki proses belajarnya, yang lebih tepatnya untuk mengevaluasi mutu belajar dan efektifitas dalam pembelajaran.

Pada setiap aspek ranah taksonomi memiliki masing-masing kata kerja operasional (kko) yang bertujuan untuk menjabarkan perilaku yang diharapkan dapat tercapai memalui suatu proses pembelajaran. KKO ini sangat dibutuhkan oleh guru sebagai dasar dalam menyusun program tahuan (silabus) maupun rencana pembelajaran (RPP).

Tabel dibawah ini merupakan KKO yang telah tersusun sesuai dengan ranahnya masing-masing. Sumber tabel ini didapatkan dari beberapa media yang telah diperbaiki redaksinya.

Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom untuk ranah Kognitif (Pengetahuan)



Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom untuk ranah Psikomotorik (Keterampilan)


Kata Kerja Operasional (KKO) Taksonomi Bloom untuk ranah Afektif (Sikap)



Sunday, November 10, 2019

Tips dan Trik Menyelesaikan Soal Penalaran Numerik

cpns 2019, soal cpns, kumpulan soal cpns, soal SKD, soal SKB, daftar cpns, trik menyelesaikan soal tes cpns, soal TIU



Tips dan Trik Menyelesaikan SoalPenalaran Numerik - Kali ini aku mau bahas cara mengerjakan soal kemampuan numerik yang berupa soal aljabar maupun soal deret.  


Sudah pernahkah yu lihat contoh soal semacam ini?


8, 20, 32, 44, 56, …


atau


D, D, A, D, D, B, ...?


pada soal diatas termasuk contoh soal penalaran numerik yakni soal baris dan deret. Soal baris dan deret yang keluar pada soal penalaran numerik tersebut banyak sekali ragamnya. Trik untuk mengerjakan soal semacam ini, yu harus menemukan polanya lebih dulu.


1. Barisan Bertingkat

Pada soal ini, bisa dikatakan soal yang paling gampang menjawabnya. Kunci untuk mencari perbedaan setiap barisannya adalah dengan mencari tahu polanya.


Contoh.

7, 18, 29, 40, 51,…


contoh soal deret tersebut sudah kelihatan bahwa a = +11, jadi jawabannya sudah pasti 62.


Selain itu, ada juga deret angka yang pola tiap loncatannya berbeda dari satu angka ke angka berikutnya. 

Namun bedanya tidak akan terlalu jelimet, misalnya pola angka keliapatan 2 (+2, +4, +6, .....) atau rentang hitungan deret angka yang sama (+10 ) dan lainnya.  


Kuncinya mengerti pola, kalo sudah begitu mengerjakan soal seperti ini akan terselesaikan dalam hitungan detik.


Contoh :

1, 5, 11, 19, 29,…


beda barisan ini adalah +4, +6, +8, +10. Dari sini sudah ketahuan polanya, so sudah bisa diketahui bahwa angka berikutnya harus ditambahkan 12, maka hasilnya adalah 41.


2. Barisan Fibonacci

Soal ini ialah barisan yang nilai tiap sukunya ialah jumlah dari dua suku sebelumnya. Suku yang pertama dan kedua ialah nilai awal untuk barisan Fibonacci tersebut.


Contoh : 2, 5, 7, 12,…


Jawab :

2+5 = 7

5+7 = 12

7+12 = 19

Jadi angka berikutnya untuk barisan tersebut adalah 19.


3. Barisan Larik

Nah pada barisan larik ini lumayan agak rumit dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk mencari polanya. Yah kalo ketemu soal semacam ini, berharap saja semoga hanya ada dua larik saja dalam satu baris soalnya. 


Kalo kebetulan ketemu lebih dari dua, ya tidak apa sih, cuman lumayan mesti benar-benar mencari polanya yang pas aja. Karna terkadang ditemukan yang polanya jelimet. 


Nah kalo polanya udah jelimet terus ada tiga larik, waktu yang diperlukan otomatis lebih lama.


Terkadang kita gak dapat memilah bahwa soal ini termasuk soal barisan larik. Terus gimana dong cara mengetahui kalo itu soal barisan larik. 


Begini:

“Kalo dalam satu barisan ada dua angka yang sama, kemungkinan besar itulah soal barisan larik.”


Contoh: 

6, 6, 11, 12, 16, 18


Langkah pertama pisahin dulu lariknya

6,…,11,…,16,… (a = +5)

…,6,…,12,…18 (kelipatan 6)


nah udah ketahuan dari pola tersebut kalau lanjutan barisannya adalah 21,  24.


Catatan:

“Ada juga soal barisan larik yang tidak punya dua angka sama dalam satu barisan.” 


Kuncinya ya lagi-lagi harus cari polanya lebih dulu.


Contoh : 

8, 4, 4, 6, 2


Jawabannya:

8,…,4,…,2 (a = :2)

…,4,…,6,… (a = +2)


Kelanjutan barisannya adalah 8, 1.


Ingat: 

“Larik yang ada harus diisi selang-seling.” 


kalo jawabannya yu isi 1, 8, tamat deh udah


4. Barisan Suka-Suka

Kadang ditemukan barisan yang perbedaannya gak jelas. Tapi pas kita liat polanya pasti langsung ketahuan jawabannya. Kebanyakan barisan yang kayak gini pake huruf.


Contoh 1 :

D, D, A, D, D, B, .....


Pada contoh tersebut polanya mengulang huruf D dua kali kemudian jeda satu huruf abjad yang berurutan.


Jawabannya: 

D, D, C, D, D, D, dst.


Contoh 2:

R, Q, O, P, N, M, K, L, J, I.


Jawabannya:

Pola seperti ini lumayan ruwet. 

Jadi kalo yu pelajari sebetulnya ini soal dengan urutan abjad kebalik dengan dua abjad dibalik selang dua abjad.


I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R  -->  R, Q, O, P, N, M, K, L, J, I, G, H 


Jadi lanjutan barisan tersebut adalah G, H.


Soal yang seperti ini adalah soal odong-odong bukan? Soal yang bikin pala jadi pening.


Latihan Soal!


1.  1, 3, 9, 21, 63, …, ....

a. 92, 106 

b. 189, 440 

c. 92, 567 

d. 189, 567


2.  A, B, B, C, C, D, ...., ....

a. C, D 

b. D, D 

c. D, E 

d. E, E


3. 7, 9, …, 19, 27, 37

a. 11 

b. 13 

c. 15

d. 10


4. S, O, R, M, O, R

a. G 

b. J 

c. I 

d. L


5. E, S, O, S, Y, …

a. V 

b. W 

c. S

d. Y


Sebenarnya mengerjakan soal penalaran numerik sangat menarik, apabila kita udah mampu mengetahui pola dari barisan yang ada. 


Kunci agar mampu cepat mengerjakan soal seperti gini hanya satu yakni “Banyak latihan”. 


Yups, semakin banyak latihan akan semakin mudah memahami pola soal numerik, pun semakin paham polanya maka semakin cepat pula mengerjakan soalnya, hingga waktu yang yu habiskan cuman sedikit saja. 


Asal tau aja, setiap TES apapun, jangka waktunya terbatas. So kalo yu menghadapi soal yang sulit akan cepat terselesaikan dengan cepat jika polanya sudah yu temukan.


Artikel Terkait

Kumpulan administrasi kelas SD / MI Kelas 1 - 6 tahun pelajaran 2019/2020

s 1, kelas 2, ompetasar, KTSP, Kurikulum 2013. Salam Pendidikan Sahabat guru yang berbahagia,  pada artikel kali in...

My photo
Guru Sekolah Dasar sejak Tahun 2015 di Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta