contoh soal KATA KERJA OPERASIONAL berdasarkan REVISI TERBARU pada KURIKULUM 2013 yang berlandaskan TAKSONOMI BLOOM doc, pdf, ppt

Salam rekan-rekan semuanya, pada artikel sebelumnya saya sudah pernah share mengenai kko, kali ini saya share
kembali materi kata kerja
operasional atau
yang disingkat kko yang sedikit berbeda. Perbedaannya terletak pada pembahasan mengenai ranah
kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor yang menurut hemat saya perlu adanya pembahasan karena merupakan bagian keterkaitan dengan materi kata kerja operasional.
RANAH KOGNITIF
Pada ranah ini, pengembangannya tidak
hanya berpengaruh untuk ranah kognitif saja, akan tetapi berpengaruh positif
pula terhadap ranah afektif dan ranah psikomotor. Oleh karena itu, dengan
adanya pengembangan kognitif ini secara tidak langsung seseorang sedang
berupaya pula dalam mengembangkan ranah yang lainnya. Dalam bahasa lugasnya
sambil menyelam minum air.
Pengembangan ranah kognitif yang harus
guru kembangkan terkait dengan upaya positif terhadap siswa sangat beragam.
Namun secara garis besar, yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar
terhadap ranah kognitif siswa terbagi menjadi dua macam, yakni.
1.
Strategi
belajar memahami isi materi pelajaran;
2. Strategi
menyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap
pesan-pesan moral yang terkandung didalam materi tersebut.
Pengertian strategi itu sendiri secara umum memiliki arti yaitu prosedur mental yang berbentuk
tahapan yang membutuhkan upaya yang bersifat kognitif dan
selalu dipengaruhi oleh pilihan kognitif atau kebiasaan belajar. Kata kuncinya adalah mental dan
kebiasaan belajar yang bersifat kognitif.
Pilihan yang dimaksud yaitu memahami prinsip yang ada
di dalam sebuah materi dan diikuti dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut secara nyata.
Kalo kita terjemaahkan secara seksama
tentu akan ada beberapa pemahaman yang sedikit berbeda tentang pilihan atau
dorongan kognitif setiap orang, akan tetapi hal tersebut akan terwakili oleh dua dorongan
kognitif di bawah ini.
1. Motif Ekstrinsik
(dorongan dari luar)
yakni dapat
diartikan bahwa siswa belajar bukan timbul karena ia ingin belajar semata, akan
tetapi ia mau belajar karena ingin naik kelas dan atau takut tinggal kelas.
Jadi pada tahapan ini, pemahaman materi menurutnya tidak terlampau penting
tetapi ia hanya sekedar ingin naik kelas atau lulus sekolah.
2. Motif Intrinsik (dorongan
dari dalam)
sebaliknya dengan motif sebelumnya, motif ini mengartikan bahwa siswa memang
memiliki ketertarikan dalam belajar dan membutuhkan pemahaman materi peajaran yang disajikan gurunya maupun yang dibacanya.
Ranah kognitif ini merupakan ranah yang mencakup
kegiatan yang bersifat mental dalam hal ini otak. Termasuk dalam ranah kognitif
apabila upaya tersebut menyangkut sebagala aktivitas yang berkaitan dengan
perkembangan otak.
Ranah kognitif memiliki enam aspek
utama, yaitu:
1. Knowledge (pengetahuan/hafalan/ingatan)
2. Comprehension (pemahaman)
3. Application (penerapan)
4. Analysis (analisis)
5. Syntesis (Sintesis)
6. Evaluation
(penilaian/penghargaan/evaluasi)
Ranah kognitif memiliki tujuan yaitu berorientasi
pada kemampuan berfikir mencakup kemampuan intelektual yang dipandang lebih
sederhana, diantaranya mengingat sampai tertuju pada kemampuan memecahkan
masalah yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide,
gagasan, metode atau prosedur yang telah dipelajarinya dalam memecahkan sebuah
masalah.
Oleh karena itu, aspek kognitif ini merupakan sub-taksonomi yang menjelaskan tentang
kegiatan mental yang berawal dari tingkat yang paling sederhana yaitu pengetahuan
(knowlarge) sampai pada tingkat yang
paling tinggi yaitu evaluasi (evaluation).
RANAH AFEKTIF
Sikap dan nilai merupakan titik utama dalam
pengembangan ranah afektif. Oleh karena itu, ranah afektif ini mencakup pada
watak dan perilaku seseorang seperti halnya perasaan, minat, sikap, emosi, dan
nilai.
Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diketahui arah perubahannya apabila orang tersebut sudah
memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi dalam dirinya.
Oleh karena itu, tingkah laku setiap siswa yang
tampak maupun terlihat merupakan ciri-ciri hasil belajar afektif yang secara
tidak sadar sudah diperlihatkan pada guru.
Berikut ini lima rincian turunan dari perkembangan
ranah afektif, yaitu:
1. Receiving atau attending ( menerima atua
memperhatikan)
2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya
partisipasi aktif”
3. Valuing (menilai atau
menghargai)
4. Organization (mengatur atau
mengorganisasikan)
5. Characterization by evalue or calue
complex (karakterisasi suatu nilai)
RANAH PSIKOMOTOR
Keterampilan atau kemampuan bertindak setelah
seseorang mendapatkan pengalaman belajar merupakan ciri dari ranah psikomotor. Hasil
belajar pada ranah psikomotor merupakan kelanjutan dari hasil ranah sebelumnya
yaitu ranah kognitif dan ranah efektif. Lebih singkatnya, ranah psikomotor berhubungan
dengan aktivitas fisik, misalnya lari,
melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Hasil belajar atau hasil evaluasi belajar keterampilan
psikomotor dapat dikatahui melalui:
1. Pengamatan
secara langsung dan penilaian terhadap tingkahlaku siswa selama pembelajaran
berlangsung;
2. Pengukuran
setelah mengikuti pembelajaran yakni ketika memberikan tes pada siswa guna
mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap;
3. Beberapa
waktu sesudah pembelajaran selesai.
Berhasil tidaknya pengembangan kognitif sangat berpengaruh terhadap
perkembangan psikomotor. Dimana kecakapan
psikomotor merupakan
kegiatan jasmani yang
konkrit dan mudah diamati baik secarakuantitas maupun
kualitas. Kecakapan psikomotor ini dapat diartikan pula sebagai
manifestasi wawasan pengetahuan serta sikap mentalnya.
Pada ranah kognitif terdapat enam bagian proses berpikir yang berjenjang setiap aspeknya,
mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Keenam aspek tersebut
diantaranya adalah.
1. Pengetahuan
(knowledge)
Kemampuan seseorang
dalam mengingat kembali atau recall,
baik mengingat tentang nama, ide, istilah, dan sebagainya tanpa mengaharapkan
kemampuan tersebut menggunakannya. Nah hal tersebut merupakan hal yang paling
rendah dari pada aspek yang lainnya. Contoh
hasil belajar pada
ranah kognitif dengan cara mengingat yaitu seperti menghafal surat Annas pada mata pelajaran Agama Islam.
2. Pemahaman
(comprehension)
Kemampuan untuk
memahami dan mengerti tentang sesuatu hal namun setelah suatu hal tersebut
diketahui dan diingat olehnya. Memahami yang dimaksud yakni mengetahui tentang
suatu hal itu dari berbagai segi. Sehingga dengan pemahamannya tersebut
seseorang dapat menjelaskannya secara rinci dengan kata dan kalimatnya sendiri.
Kemampuan semacam ini dapat dikatakan setingkat lebih tinggi dari kemampuan
ingatan atau menghafal.
3. Penerapan
(application)
Merupakan kesanggupan seseorang dalam menggunakan atau menerapkan ide yang bersifat umum, cara maupun metode, prinsip,
rumus, teori dan sebagainya dalam
situasi yang konkrit
dan kebaruan. Kemampuan penerapan ini merupakan proses berpikir yang
lebih tinggi dibandingkan
dengan kemampuan pemahaman.
Salah satu contoh hasil
belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan
tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan
sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
4. Analisis
(analysis)
Merupakan kemampuan untuk menguraikan atau merinci suatu bahan kedalam bagian-bagian yang lebih kecil serta mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut antara yang satu dengan yang
lainnya. Kemampuan
analisis lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan aplikasi.
Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
5. Sintesis
(syntesis)
Merupakan kemampuan berpikir yang sebaliknya dari kemampuan berpikir analisis.
Sisntesis dapat
dikatakan suatu proses yang
memadukan bagian-bagian sesuatu secara logis,
sehingga tercipta suatu pola yang terstruktur pada pola baru.
Salah satu jasil belajar
kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan
tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.
6. Penilaian/penghargaan/evaluasi
(evaluation)
Merupakan tingkat berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif yang dicetuskan dalam konsep Taksonomi Bloom.
Penilian atau evaluasi disini merupakan kemampuan
seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai dan ide. Misalkan jika
seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu
pilihan yang terbaik sesuai dengan kriteria dan aturan yang
ada.
Pada bagian ranah apektif, menurut Krathwol (1964) berdasarkan tujuannya terbagi menjadi
lima bagian.
1.
Penerimaan (recerving)
Pada bagian ini, seseorang
memiliki kemampuan memperhatikan dan memberi respon terhadap stimulus yang
tepat. Pada tehap ini, penerimaan merupakan kunci utamanya, yakni seseorang
hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh pemberi informasi kepadanya. Tahap
penerimaan pada ranah apektif merupakan tingkat yang paling rendah dibandingkan
dengan tingkat yang lainnya.
2.
Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Sedikit berbeda dengan tahap penerimaan, pada tahap ini siswa tidak hanya menerima dan merespon saja stimulasi yang datang padanya, akan tetapi siswa memeiliki ketertarikan untuk ikut terlibat secara aktif menjadi bagian dari proses pembelajaran. Sehingga tercipta pembelajaran yang efektif antara guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi.
3.
Penilaian atau penentuan sikap (valuing)
Pada tahapan ini, seseorang mengacu pada nilai yang ditentukan oleh sikapnya sendiri
dalam melihat suatu objek atau kejadian yang digambarkan dengan reaksi-reaksi
tertentu, misalnya menerima,
menolak dan tidak menghiraukan apa yang dilihat dan dirasakannya. Sikap dan apresiasi menjadi klasifikasi dari tujuan pada
tahap ini.
4.
Organisasi (organization)
Penyatuan nilai merupakan dasar
pada tahap organisai ini, yang di realisasikan dengan sikap-sikap yang berbeda
dan membuatnya lebih konsisten pada sikap yang diyakininya. Meskipun dapat
menimbukan konflik internal yang terjadi pada dirinya setiap waktu, namun
secara tidak langsung akan membentuk suatu sistem nilai internal dalam dirinya,
sehingga tercermin pada tingkah laku dalam kesehariannya.
5. Karakterisasi/pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)
Karakter dan daya hidup sesorang menjadi acuan dari tahap ini. Nilai yang diyakininya semakin berkemabang secara teratur, sehingga realisasi tingkah lakunya dilakukan secara konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Keteraturan pribadi, sosial dan emosional jiwa merupakan tujuan utama dalam tahapan karakterisasi ini.
Pada ranah psikomotor klasifikasi tujuannya terbagi menjadi lima bagian
utama (Davc, 1970) sebagai berikut.
1.
Peniruan
Hal ini terjadi
ketika siswa melihat
dan mengamati suatu
gerakan yang
diperhatikannya. Kemudian diikuti dengan proses pemberian
respons sama persis dengan apa yang diamatinya. Hal ini dapat mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf pada siswa. Peniruan yang dimaksud adalah peniruan yang bersifat umum atau dalam bentuk global
dan tidak begitu sempurna seperti apa yang dilihatnya.
2.
Manipulasi
Pada tahap ini, siswa tidak
hanya meniru tingkahlakunya saja seperti tahap sebelumnya, namun siswa mampu
menampilkan sesuatu menurut petunjuk dan aturannya. Dimana siswa sudah mampu melakukan
penekanan terhadap dirinya dalam mengembangkan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan
yang dilakukan
melalui proses latihan.
3.
Ketetapan
Setingkat lebih tinggi dari tahapan sebelumnya, pada tahap ini seseorang sudah memiliki kecermatan, kepastian dan proporsi yang lebih tinggi dalam penampilan. Pada tahap ini pula respon-respon lebih terkoreksi dengan baik dan kesalahan-kesalahan yang terjadi sangat dibatasi pada tingkat minimum.
4.
Artikulasi
Pada tahap ini, penekanan terhadap koordinasi suatu
rangkaian gerakan dengan urutan yang tepat sangat diperhatikan untuk mencapai apa saja yang diharapkan sehingga membentuk adanya konsistensi internal diantara gerakan yang
berbeda.
5.
Pengalamiahan
Tahap pengalamiahan ini merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam ranah psikomotor, tingkah laku yang ditampilkan sangat sedikit atau bahkan paling sedikit melakukan energi fisik dan psikis. Gerakan yang dilakukannya sangat begitu rutin, sehingga membentuk adanya pengalamiahan dengan sendirinya.





No comments:
Post a Comment